LESINDO.COM – Pada suatu titik dalam hidup, manusia akan sampai pada kelelahan yang tak bisa dijelaskan oleh tubuh. Raga baik-baik saja, napas masih teratur, pekerjaan tetap berjalan. Namun ada sesuatu yang terasa retak di dalam—seperti cermin yang buram, memantulkan bayangan diri yang asing. Di situlah kita mulai memahami bahwa tidak semua sakit bisa diraba, dan tidak semua luka bisa ditunjukkan.
Ada ungkapan lama yang kerap kita dengar, nyaris klise: “Hati yang bersih adalah tanda jiwa yang sehat.” Ungkapan ini terdengar sederhana, namun justru di situlah letak kedalamannya. Hati yang bersih ibarat cermin bening—ia tidak menambah, tidak mengurangi. Ia hanya memantulkan apa adanya: kebenaran, empati, dan ketenangan. Sayangnya, di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, cermin itu kian jarang dibasuh.
Jika kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk—dari notifikasi yang tak henti berbunyi, dari linimasa yang terus menuntut reaksi—kita akan menyadari satu kenyataan pahit: kita hidup di tengah kerumunan manusia yang tampak ramai, namun sesungguhnya banyak yang sedang sakit jiwanya.
Wajah-Wajah Jiwa yang Terluka
Jiwa yang tidak sehat jarang datang dengan tanda peringatan. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk kesedihan yang dramatis atau tangisan yang mengiba. Ia justru sering bersembunyi di balik senyum yang rapi, status media sosial yang tampak bahagia, atau keberhasilan yang dielu-elukan.
Pertama, hilangnya empati. Kita hidup di zaman ketika penderitaan orang lain bisa digulirkan dengan satu jempol—ditonton, dikomentari, lalu dilupakan. Tragedi menjadi konsumsi. Kesedihan berubah menjadi konten. Kritik dilontarkan tanpa jeda nurani, seolah kata-kata tidak lagi punya daya luka. Dalam kondisi ini, empati tidak mati; ia hanya dikubur di bawah ego yang terlalu sering dipuaskan.
Kedua, kehampaan di tengah keramaian. Ironisnya, semakin ramai dunia digital, semakin sepi ruang batin manusia. Banyak orang memiliki ribuan pengikut, namun tak punya satu pun tempat pulang secara emosional. Validasi dicari dari luar—dari pujian, angka, dan pengakuan—karena ruang di dalam sudah terlalu lama dibiarkan kosong. Kesepian tidak lagi sunyi; ia justru riuh, penuh suara, namun tak pernah benar-benar didengar.
Ketiga, kemarahan yang terpendam. Lingkungan sosial yang gemar menghakimi membuat manusia hidup dalam mode bertahan. Sedikit perbedaan dianggap ancaman. Sedikit kritik dibalas dengan serangan. Amarah menumpuk tanpa saluran sehat, berubah menjadi iri, dengki, dan kebencian yang pelan-pelan menggerogoti ketenangan jiwa. Banyak orang tampak kuat, padahal sesungguhnya hanya sedang lelah menahan luka lama.
Debu-Debu yang Mengotori Hati
Lalu, mengapa hati menjadi keruh?
Karena hati manusia jarang diberi waktu untuk bernapas. Ia terus dijejali ketakutan: takut tertinggal, takut gagal, takut tidak dianggap. Ambisi tumbuh tanpa kebijaksanaan, menjadi perlombaan tanpa garis akhir. Masa lalu yang menyakitkan dibiarkan menetap, tidak dimaafkan, tidak diselesaikan—hanya ditimbun dan disangkal.
Ketika hati tertutup debu-debu keduniawian itu, pandangan seseorang terhadap hidup menjadi kabur. Ia mulai melihat dunia sebagai medan ancaman. Keberhasilan orang lain terasa seperti penghinaan personal. Kebahagiaan menjadi kompetisi, bukan pengalaman batin. Dalam kondisi seperti ini, manusia bisa memiliki segalanya—jabatan, harta, pengaruh—namun tetap merasa kurang.
Di sinilah ironi besar manusia modern: semakin banyak yang dimiliki, semakin sulit merasa cukup.
Membersihkan Hati di Dunia yang Riuh
Menjaga hati tetap bersih di tengah dunia yang sakit bukan perkara mudah. Ia bukan sekadar soal moral atau ajaran spiritual, melainkan soal keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Keberanian untuk berhenti menyalahkan dunia, dan mulai bertanya: apa yang sebenarnya belum selesai di dalam diriku?
Jiwa yang sehat bukanlah jiwa yang tidak pernah terluka, melainkan jiwa yang bersedia merawat lukanya. Ia tidak membutuhkan panggung untuk membuktikan nilai dirinya. Ia tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa tinggi. Ia tidak membenci untuk merasa benar.
Orang-orang seperti ini mungkin tidak paling lantang bersuara, tetapi kehadirannya menenangkan. Mereka tidak sibuk mengoreksi hidup orang lain, karena sudah cukup sibuk berdamai dengan dirinya sendiri. Mereka tahu, kebersihan hati bukan tujuan akhir, melainkan proses seumur hidup.
Epilog: Membasuh Cermin Jiwa
Pada akhirnya, sakitnya raga memang bisa disembuhkan dengan obat. Namun sakitnya jiwa menuntut sesuatu yang lebih sunyi: keberanian untuk berhenti, membersihkan hati, dan memberi ruang bagi kedamaian untuk tumbuh kembali.
Membasuh cermin jiwa tidak selalu berarti menjadi sempurna. Ia justru berarti berani mengakui debu-debu yang menempel, lalu membersihkannya sedikit demi sedikit—dengan empati, dengan penerimaan, dengan keikhlasan.
Di tengah kerumunan yang sakit, menjaga hati tetap bersih mungkin terasa seperti perjuangan yang sepi. Namun justru dari kesunyian itulah, manusia kembali menemukan dirinya—utuh, jernih, dan cukup.(Rth)

