spot_img
BerandaJelajahMasjid Amirul Mukminin: Doa yang Mengapung di Ujung Senja Losari

Masjid Amirul Mukminin: Doa yang Mengapung di Ujung Senja Losari

Catatan penting bagi pendatang: Masjid Amirul Mukminin kerap tertukar dengan Masjid Kubah 99 Asmaul Husna di kawasan Center Point of Indonesia (CPI). Keduanya indah, namun berbeda cerita. Masjid Amirul Mukminin berdiri di jalur pejalan kaki Pantai Losari lama—lebih dekat dengan denyut sejarah kota dan interaksi warganya.

LESINDO.COM – Senja di Pantai Losari selalu datang dengan cara yang nyaris sama: langit merunduk perlahan, laut mengilap seperti kaca, dan angin membawa aroma asin yang khas. Namun, di antara riuh langkah wisatawan dan kilau kamera ponsel, berdiri satu bangunan yang memilih diam—Masjid Amirul Mukminin. Ia tidak menantang laut, tidak pula menyingkir darinya. Masjid ini justru berdamai, seolah meletakkan doa tepat di atas permukaan air.

Masjid Amirul Mukminin, yang lebih dikenal publik sebagai Masjid Terapung Makassar, berdiri di ikon wisata Pantai Losari. Dibangun di atas laut dengan 164 tiang pancang, masjid ini sering disebut sebagai masjid terapung pertama di Indonesia. Sebutan itu bukan semata klaim arsitektural, melainkan pengalaman visual yang nyata. Saat air pasang menutup kaki-kaki beton penyangga, bangunan ini tampak benar-benar mengapung—ringan, tenang, dan khusyuk.

Arsitekturnya tidak terjebak pada kemegahan berlebihan. Dua kubah biru berdiameter sembilan meter menjadi penanda visual yang kuat, kontras dengan warna abu-abu dan cokelat muda bangunan utama. Bentuknya mengingatkan pada rumah panggung khas Bugis-Makassar—sebuah isyarat bahwa spiritualitas di tempat ini berakar pada kebudayaan pesisir, tempat laut bukan sekadar bentang alam, melainkan bagian dari kehidupan.

Masjid ini juga kerap disebut Masjid 99 Al Makazzary, merujuk pada Asmaul Husna. Nama itu memberi makna simbolik: bahwa di ruang ini, manusia diingatkan pada kebesaran Tuhan melalui hamparan laut yang tak bertepi.

Bangunan masjid terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama dan kedua menjadi ruang utama sholat berjamaah—laki-laki di bawah, perempuan di atas. Di lantai ketiga, tepat di bawah kubah, terdapat ruang kecil yang lebih sunyi. Di sanalah, banyak jamaah memilih menunaikan sholat sunnah seperti Tahajud atau Istikharah. Tidak ada pemandangan yang mendominasi selain langit dan laut. Sunyi yang dihadirkan bukan kesepian, melainkan ketenangan.

Kapasitas masjid sekitar 450 hingga 500 jamaah. Fasilitasnya sederhana namun fungsional: tempat wudhu terpisah, toilet yang terawat, serta akses ramah kursi roda. Masjid ini tidak eksklusif—ia terbuka, seperti laut di depannya.

Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ikon wisata religi Makassar yang mempertemukan spiritualitas, budaya, dan ruang publik kota.(mc)

Namun, momen yang membuat Masjid Amirul Mukminin menjadi magnet emosional adalah saat senja. Menghadap langsung ke barat, masjid ini seolah diciptakan untuk menyambut matahari pulang. Cahaya jingga memantul di permukaan Selat Makassar, menyusup ke sela-sela teras, dan membingkai siluet kubah dengan keheningan yang sulit dijelaskan. Banyak orang datang hanya untuk memotret. Sebagian lain duduk diam, tanpa kamera, tanpa kata.

Di jembatan penghubung menuju masjid, langkah sering melambat. Mungkin karena keindahan, mungkin juga karena kesadaran bahwa di tempat ini, batas antara wisata dan ibadah menjadi samar. Masjid Amirul Mukminin mengajarkan bahwa spiritualitas tidak selalu berada di ruang tertutup. Ia bisa hadir di ruang publik, di tengah keramaian, di antara suara ombak dan cahaya senja.

Masjid ini terletak di Jalan Penghibur No. 289, kawasan Losari lama. Terbuka setiap hari mengikuti waktu sholat, ia menjadi saksi denyut Makassar dari subuh hingga malam. Pengunjung diingatkan untuk berpakaian sopan dan menjaga ketenangan—sebuah etika sederhana yang menjaga kesakralan ruang bersama.

Catatan penting bagi pendatang: Masjid Amirul Mukminin kerap tertukar dengan Masjid Kubah 99 Asmaul Husna di kawasan Center Point of Indonesia (CPI). Keduanya indah, namun berbeda cerita. Masjid Amirul Mukminin berdiri di jalur pejalan kaki Pantai Losari lama—lebih dekat dengan denyut sejarah kota dan interaksi warganya.

Di kota pesisir seperti Makassar, laut bukan hanya latar. Ia adalah identitas. Dan Masjid Amirul Mukminin memilih untuk tidak memunggunginya. Ia berdiri di atas air, mengajarkan bahwa doa pun bisa mengapung—tenang, rendah hati, dan selalu mengarah ke langit. (say)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments