spot_img
BerandaJelajahMarah yang Membakar dari Dalam: Ketika Emosi Menjadi Risiko Nyata bagi Tubuh

Marah yang Membakar dari Dalam: Ketika Emosi Menjadi Risiko Nyata bagi Tubuh

Kearifan Jawa mengenal konsep sabar lan narimo—bukan sebagai sikap pasrah yang lemah, melainkan sebagai kemampuan batin untuk mengelola gejolak emosi tanpa membiarkannya meluap tak terkendali. Dalam bahasa modern, ini adalah bentuk regulasi emosi: kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merespons perasaan dengan lebih jernih.

LESINDO.COM – Di banyak ruang keluarga Jawa, kita akrab dengan nasihat sederhana: “ojo gampang nesu, sing sabar lan narimo.” Kalimat itu kerap terdengar sebagai petuah moral—tentang tata krama, tentang menjaga hubungan antarmanusia. Namun, di balik kebijaksanaan yang tampak halus itu, tersimpan sebuah kebenaran yang jauh lebih konkret: kemarahan yang tak terkendali bisa menjadi ancaman serius bagi tubuh kita sendiri.

Hari ini, ilmu kedokteran menjelaskan apa yang sejak lama dirasakan secara intuitif oleh kearifan lokal—bahwa emosi bukan hanya urusan batin, melainkan juga peristiwa biologis yang nyata.

Ketika seseorang diliputi amarah yang meluap, tubuh seketika memasuki mode siaga. Sistem saraf mengirimkan sinyal darurat, memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Inilah yang dalam dunia medis dikenal sebagai respons fight or flight response—mekanisme purba yang dirancang untuk menyelamatkan manusia dari bahaya.

Namun, di dunia modern, ancaman itu sering kali bukan harimau di hutan, melainkan emosi yang meledak di dalam dada.

Detak jantung meningkat tajam. Napas menjadi lebih cepat. Pembuluh darah menyempit. Dalam kondisi normal, tubuh mampu kembali ke keadaan tenang setelah ancaman berlalu. Tetapi saat kemarahan hadir terlalu sering atau terlalu intens, tubuh seperti dipaksa bekerja dalam tekanan yang berulang-ulang—seperti mesin yang terus dipacu tanpa jeda.

Di sinilah risiko mulai tumbuh diam-diam.

Penyempitan pembuluh darah menyebabkan tekanan darah melonjak secara tiba-tiba. Aliran darah yang dipaksa melewati “jalur sempit” ini dapat melukai lapisan halus di dalam arteri. Luka-luka kecil yang tak kasatmata itu menjadi titik rawan—tempat di mana lemak dan plak lebih mudah menempel dan menumpuk.

Bagi mereka yang sudah memiliki riwayat gangguan pembuluh darah, ledakan emosi bisa menjadi pemicu yang berbahaya. Tekanan yang mendadak dapat menyebabkan plak tersebut pecah. Pecahannya kemudian mengalir bersama darah, berpotensi menyumbat pembuluh kecil di otak. Inilah salah satu jalan menuju stroke iskemik—ketika aliran darah terhenti, dan jaringan otak mulai kehilangan suplai oksigen.

Belum berhenti di situ, tubuh juga merespons stres dengan cara yang lebih subtil namun tak kalah berbahaya: membuat darah menjadi lebih mudah menggumpal. Dalam konteks evolusi, ini adalah mekanisme perlindungan—jika tubuh terluka, darah akan lebih cepat membeku. Namun dalam situasi tanpa luka fisik, gumpalan ini justru dapat menjadi sumbatan yang mematikan.

Pada kondisi yang lebih ekstrem, lonjakan tekanan darah akibat kemarahan hebat bahkan dapat menyebabkan pembuluh darah pecah, terutama jika dindingnya sudah rapuh karena usia atau penyakit. Peristiwa ini dikenal sebagai stroke hemoragik—pendarahan di otak yang sering datang tanpa banyak peringatan.

Sejumlah penelitian menunjukkan, risiko serangan jantung atau stroke meningkat secara signifikan dalam rentang dua jam setelah ledakan amarah yang intens. Waktu yang singkat, tetapi cukup untuk mengubah arah hidup seseorang.

Di titik ini, nasihat “menahan marah” tak lagi sekadar tuntutan etika sosial. Ia menjelma menjadi bentuk perlindungan diri yang paling nyata.

Kearifan Jawa mengenal konsep sabar lan narimo—bukan sebagai sikap pasrah yang lemah, melainkan sebagai kemampuan batin untuk mengelola gejolak emosi tanpa membiarkannya meluap tak terkendali. Dalam bahasa modern, ini adalah bentuk regulasi emosi: kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merespons perasaan dengan lebih jernih.

Barangkali, yang perlu kita sadari adalah bahwa kemarahan itu sendiri bukanlah musuh. Ia adalah sinyal—bahwa ada sesuatu yang tidak beres, bahwa ada batas yang dilanggar, atau harapan yang tak terpenuhi. Namun ketika sinyal itu berubah menjadi ledakan, ketika ia menguasai tubuh sepenuhnya, di situlah ia mulai “menyerang balik.”

Tubuh kita, pada akhirnya, tidak bisa membedakan antara ancaman nyata dan badai emosi yang kita pelihara di dalam diri.

Maka, belajar tenang bukan berarti meniadakan rasa marah, melainkan memberi ruang agar emosi itu lewat tanpa menghancurkan. Dalam keheningan itulah, tubuh menemukan kembali ritmenya, pembuluh darah kembali mengendur, dan jantung berdetak tanpa beban berlebih.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, barangkali menjaga ketenangan adalah bentuk keberanian yang paling sunyi—sekaligus investasi kesehatan yang paling jarang disadari.(Mad)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments