Oleh You Srie
LESINDO.COM – Ada satu titik dalam perjalanan manusia ketika hati tak lagi mampu dikendalikan oleh kesadaran. Pada saat itulah, kehancuran sering kali bermula. Bukan selalu dengan suara keras atau tindakan yang tampak brutal, melainkan melalui serangkaian keputusan kecil yang lahir dari hawa nafsu yang dibiarkan liar. Ketika keinginan duniawi tak lagi disaring oleh nurani, ucapan menjadi kasar, tindakan kehilangan batas, dan kehadiran seseorang justru berubah menjadi sumber kegaduhan bagi lingkungannya.
Orang yang kehilangan kendali diri cenderung merusak—bukan hanya dirinya sendiri, tetapi juga tatanan di sekelilingnya. Ia merusak relasi, merusak ruang hidup, bahkan merusak alam tanpa sempat memikirkan akibatnya. Segala sesuatu dipandang semata sebagai objek pemuas hasrat. Hutan ditebang tanpa rasa, tanah dieksploitasi tanpa empati, manusia lain diperlakukan sekadar alat. Pada fase ini, keseimbangan alam yang semula harmonis perlahan retak. Ketenteraman berubah menjadi kegelisahan kolektif, seolah semesta ikut menanggung kegaduhan batin manusia yang kehilangan arah.
Sesungguhnya, alam memiliki cara yang adil—meski sering kali sunyi—untuk membalas. Kerusakan yang ditanam manusia tak pernah benar-benar hilang; ia hanya menunggu waktu untuk kembali. Ketika lingkungan rusak, tubuh manusia pun perlahan menyusul. Penyakit datang satu per satu, entah sekarang atau nanti di usia senja. Nafas menjadi pendek, tubuh melemah, dan hidup yang dulu dihabiskan untuk mengejar dunia justru diakhiri dengan rasa sesal yang tak sempat diucapkan. Alam tidak dendam, tetapi ia jujur: siapa yang merusak, pada akhirnya akan ikut rusak.
Lebih berbahaya lagi adalah kondisi ketika hati telah mati. Hati yang mati bukan berarti tak lagi berdetak, melainkan kehilangan kepekaan. Ia tak tersentuh oleh nasihat, tak terusik oleh peringatan. Ironisnya, kondisi ini sering ditemukan pada mereka yang secara lahiriah tampak “sempurna”: berpendidikan tinggi, memiliki jabatan, akses luas, bahkan simbol-simbol agama yang melekat rapi. Namun semua itu berhenti sebagai identitas administratif—nama, gelar, dan pengakuan sosial—tanpa pernah benar-benar menembus batin dan perilaku.
Ego yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali akan menjelma kekuatan yang merusak. Orang semacam ini merasa selalu benar, alergi terhadap kritik, dan mahir mencari pembenaran. Kesalahan tak pernah singgah di dirinya; ia selalu ditimpakan pada orang lain. Hidup dilihat secara hitam-putih: benar untuk dirinya, salah untuk dunia. Dalam kondisi hati yang mati, agama tak lagi menjadi cahaya penuntun, melainkan sekadar atribut. Dan ketika hati mati, kerusakan di muka bumi seolah menemukan pembenaran moralnya.
Di sisi lain, ada manusia-manusia yang memilih jalan berbeda. Mereka yang mampu mengendalikan diri justru sering memilih hidup yang sunyi—bukan karena lari dari dunia, melainkan untuk menjaga kejernihan hati. Kesunyian bagi mereka adalah ruang perawatan batin. Dengan berjalan berdampingan dengan alam, mereka belajar tentang keseimbangan, tentang memberi tanpa merampas, tentang mengambil secukupnya. Mereka peka terhadap energi kehidupan: lembut, tenang, dan menumbuhkan kebijaksanaan.
Orang-orang ini tidak meledak-ledak. Ucapannya terukur, tindakannya penuh pertimbangan. Mereka memahami bahwa hidup bukan sekadar menang dan kalah, benar dan salah. Mereka mampu melihat sudut pandang orang lain, membaca arah zaman, dan menyadari ke mana sebuah jalan akan bermuara. Kendali diri membuat mereka sadar bahwa setiap keputusan adalah benih bagi masa depan—baik bagi diri sendiri maupun bagi generasi yang tak pernah mereka temui.
Sebaliknya, mereka yang kehilangan kendali batin hidup dalam panas yang tak pernah padam. Emosi meluap, keinginan mendesak untuk selalu diakui, dan rasa bersalah nyaris tak pernah hadir. Hidup menjadi arena pembenaran diri yang melelahkan. Mereka tak mampu menjaga dirinya sendiri, apalagi menjaga dunia di sekelilingnya.
Pada akhirnya, perbedaan antara hati yang hidup dan hati yang mati, antara kendali diri dan hawa nafsu yang liar, bukanlah perkara status atau kepemilikan. Ia adalah soal kesadaran. Dan kesadaran itulah yang menentukan: apakah kehadiran manusia akan menjadi penjaga keseimbangan, atau justru menjadi awal dari kerusakan yang panjang.

