LESINDO.COM – Sering kali penderitaan tidak lahir dari musibah, melainkan dari keyakinan mulia bahwa kita adalah manajer resmi semesta. Kita merasa perlu memastikan hujan turun sesuai jadwal, rezeki datang tepat waktu, dan orang lain berpikir sebagaimana skenario di kepala kita. Jika ada satu saja yang melenceng, kita menyebutnya “krisis eksistensial”.
Kita menyusun rencana hidup seperti menyusun proposal proyek: lengkap dengan target, deadline, dan asumsi. Sayangnya, hidup jarang mau menandatangani kontrak itu. Ia lebih suka berubah di tengah jalan, tanpa pemberitahuan, seperti pegawai yang mendadak resign saat kita baru saja merasa aman.
Lalu kita heran, mengapa kepala terasa berat, dada sesak, dan tidur penuh rapat evaluasi batin. Padahal penyebabnya sederhana: kita terlalu sibuk memegang kemudi kapal, sambil lupa bahwa ombak tidak pernah ikut rapat koordinasi.
Kenyataan sebenarnya tidak meminta kita menjadi pengendali segalanya. Ia hanya meminta kita hadir—bukan sebagai sutradara, melainkan sebagai penonton yang sesekali ikut berakting. Ketika kita berhenti memaksa hidup berjalan lurus seperti garis penggaris, ruang batin pun mulai bernapas. Kita belajar bahwa tidak semua kekhawatiran adalah kewaspadaan, sebagian hanyalah drama internal yang kelebihan jam tayang.
Kebijaksanaan tumbuh bukan saat kita berhasil menguasai segalanya, tetapi ketika kita cukup rendah hati untuk tertawa pada kegagalan rencana sendiri. Dengan melepaskan obsesi atas kepastian mutlak, penderitaan pelan-pelan turun jabatan—dari direktur utama menjadi staf magang.
Dan hidup, akhirnya, tidak lagi terasa seperti proyek darurat, melainkan perjalanan yang boleh sesekali tersesat, asal masih bisa tertawa di tengah jalan.(Hib)

