LESINDO.COM – Nikmatnya orang memancing sering kali menjadi pertanyaan yang tak menemukan jawaban tunggal. Bagi mereka yang tidak pernah merasakan, memancing hanyalah duduk lama, menunggu sesuatu yang belum tentu datang, di bawah terik atau dingin, berhadapan dengan risiko dan ketidaknyamanan. Namun bagi para pemancing—terutama mereka yang sudah terikat oleh semacam kecanduan halus—pertanyaan itu justru terasa ganjil. Sebab nikmat memancing bukan soal hasil, melainkan soal hadir sepenuhnya dalam sebuah momen.
Waktu, bagi mereka, bukan lagi perkara. Pagi, siang, malam, bahkan dini hari tak pernah benar-benar menjadi penghalang. Tempat pun demikian. Tebing curam, laut lepas, wilayah yang oleh sebagian orang disebut angker, justru sering kali menjadi panggilan tersendiri. Di situlah tantangan berada, dan tantangan adalah bagian dari kenikmatan.
Di Pantai Ngiriboyo, Pacitan, pemandangan itu mudah ditemukan. Tebing-tebing curam berdiri tegak menghadap samudra, ombak menghantam batu karang tanpa kompromi. Di atas tebing itulah para mania pancing berdiri—kadang hanya beralas batu, dengan jarak beberapa meter dari laut yang menganga di bawahnya. Dari sudut pandang orang awam, tempat itu lebih menyerupai batas antara keberanian dan kenekatan. Namun bagi mereka yang memancing, itulah ruang nyaman.
Ketika joran dilemparkan dan senar meluncur ke laut, dunia seperti menyempit. Tak ada lagi hiruk-pikuk, tak ada lagi daftar kecemasan sehari-hari. Yang ada hanya suara ombak, tarikan angin, dan rasa waspada yang terjaga. Ukuran nyaman atau tidak nyaman menurut pikiran orang lain, perlahan menguap. Tak masuk dalam daftar pertimbangan. Yang penting bisa memancing—dan jika ikan menyambar, itulah bonus yang melengkapi rasa puas.

Namun kepuasan itu sejatinya bukan semata soal ikan. Ia lebih menyerupai keseimbangan jiwa. Sebuah kondisi ketika pikiran, rasa, dan tubuh berada dalam satu frekuensi yang sama. Menunggu ikan menyambar mengajarkan kesabaran; menghadapi ombak mengajarkan kerendahan hati; berada di alam terbuka mengingatkan betapa kecilnya manusia di hadapan semesta.
Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mencapai harmoni. Ada yang menemukannya lewat doa panjang, ada yang lewat lari pagi, ada pula yang melalui kesendirian. Para pemancing menemukannya lewat senar yang tegang dan joran yang diam. Dalam keheningan itu, mereka berdialog dengan diri sendiri—tanpa kata, tanpa penjelasan.
Harmoni memang tidak selalu bisa diterjemahkan dengan logika orang lain. Apa yang tampak berbahaya bagi sebagian orang, bisa jadi terasa menenangkan bagi yang lain. Apa yang terlihat melelahkan, justru menjadi ruang pemulihan. Setiap jiwa memiliki ritmenya sendiri, dan tidak ada standar tunggal untuk mengukurnya.
Di tebing Pantai Ngiriboyo, ketika matahari mulai condong dan bayangan batu memanjang, para pemancing masih bertahan. Bukan karena keras kepala, melainkan karena mereka sedang menjaga sesuatu yang lebih dalam: keseimbangan batin. Entah ikan datang atau tidak, mereka pulang membawa sesuatu—ketenangan yang tak bisa ditimbang, kedamaian yang tak bisa diperdebatkan.
Mungkin di situlah makna memancing yang sesungguhnya. Ia bukan pelarian dari kehidupan, melainkan cara lain untuk berdamai dengannya. Sebuah harmoni yang lahir dari kesunyian, dari kesabaran, dan dari keberanian untuk mengikuti panggilan jiwa—meski sering kali tidak dipahami oleh orang lain. (Din)

