spot_img
BerandaJelajahMaaf, Aku Harus Menjauh demi Kedamaian Hatiku

Maaf, Aku Harus Menjauh demi Kedamaian Hatiku

Menjaga jarak dari orang-orang seperti itu bukan berarti merasa lebih suci atau lebih benar. Ini bukan soal menghakimi, melainkan tentang merawat diri. Seperti petani yang tahu kapan harus memangkas ranting agar pohon tetap berbuah, kita pun perlu memangkas relasi yang hanya menguras tanpa menguatkan.

Oleh : Tilotama

LESINDO.COM – Ada saat dalam hidup ketika seseorang tidak pergi karena benci, melainkan karena ingin tetap waras. Ia tidak membanting pintu, tidak pula mengumumkan perpisahan dengan gegap gempita. Ia hanya pelan-pelan merapatkan jarak, seperti orang Jawa yang memilih menepi agar tidak menambah ricuh suasana. Sebab ia tahu, tidak semua kedekatan membawa kebaikan, dan tidak semua kebersamaan menumbuhkan ketenangan.

Di tengah budaya yang menjunjung kerukunan dan rasa sungkan, keputusan untuk menjaga jarak sering terasa seperti dosa sosial. Kita diajari untuk maklum, untuk nrimo, untuk mengalah. Namun, hidup juga menuntut keberanian: berani mengenali siapa yang diam-diam menggerus energi batin, siapa yang membuat hati terasa berat tanpa sebab yang jelas.

Ada mereka yang gemar merendahkan orang lain. Dalam setiap obrolan, selalu ada nama yang dijadikan bahan olok-olok. Awalnya terdengar seperti candaan, lama-lama menjadi kebiasaan. Kita yang duduk di sampingnya mungkin tak sedang jadi sasaran, tetapi pelan-pelan harga diri ikut tergerus. Sebab atmosfer yang dipenuhi ejekan akan membuat siapa pun bertanya-tanya: kapan giliranku dibicarakan seperti itu?

Ada pula sosok yang piawai memutarbalikkan fakta. Kata-katanya luwes, ceritanya selalu berubah mengikuti kepentingan. Ketika keliru, ia tak pernah benar-benar salah; selalu ada dalih, selalu ada kambing hitam. Berada di dekatnya seperti hidup dalam ruang yang cerminnya retak—kita dipaksa meragukan apa yang jelas-jelas kita lihat. Lelahnya bukan pada konflik besar, melainkan pada keharusan membela kenyataan yang sederhana.

Jenis lain adalah mereka yang hidup dari drama. Masalah kecil menjelma badai. Pesan singkat yang terlambat dibalas bisa menjadi tuduhan panjang. Emosi dipancing, reaksi ditunggu. Dalam pusaran seperti itu, hari-hari terasa sesak. Padahal hidup sudah cukup rumit tanpa perlu ditambah panggung sandiwara yang tak kunjung usai.

Yang lebih halus adalah iri yang bersembunyi di balik kepedulian. Ucapan selamat terdengar tulus, tetapi sorot matanya menyimpan perbandingan. Ia mendukung, namun dengan nada yang menyisakan jarak. Energinya dingin—tak terlihat kasar, tapi membuat semangat pelan-pelan surut. Kita pulang dengan hati ganjil, tanpa tahu persis apa yang salah.

Dan ada mereka yang menolak bertumbuh. Setiap ajakan berubah dianggap ancaman. Setiap masukan dipatahkan dengan alasan. “Begini saja sudah cukup,” katanya, meski jelas ada yang perlu diperbaiki. Lama-lama, kita yang berusaha melangkah maju merasa seperti ditarik kembali. Stagnasi menular, arah menjadi kabur.

Menjaga jarak dari orang-orang seperti itu bukan berarti merasa lebih suci atau lebih benar. Ini bukan soal menghakimi, melainkan tentang merawat diri. Seperti petani yang tahu kapan harus memangkas ranting agar pohon tetap berbuah, kita pun perlu memangkas relasi yang hanya menguras tanpa menguatkan.

Memaklumi tidak berarti membiarkan diri terluka. Berbelas kasih tidak harus identik dengan mengorbankan kewarasan sendiri. Dalam falsafah Jawa ada laku tepa selira—menghargai orang lain—namun ada pula eling lan waspada: sadar dan berhati-hati menjaga batas.

Kadang, kalimat paling jujur yang bisa kita ucapkan dalam hati adalah, “Maaf, aku harus menjauh demi kedamaian hatiku.” Bukan untuk memutus silaturahmi, melainkan untuk mengatur ulang jarak agar jiwa tetap tenang. Karena pada akhirnya, ketenangan bukan hadiah dari orang lain, melainkan keputusan yang kita ambil dengan berani.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments