spot_img
BerandaHumanioraLongsor yang Datang Setelah Peringatan Diabaikan

Longsor yang Datang Setelah Peringatan Diabaikan

Seperti banyak bencana lingkungan lainnya di Indonesia sepanjang 2025, longsor ini menegaskan satu hal: kehancuran jarang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang terus dibiarkan, dari peringatan yang dianggap angin lalu, dari keserakahan yang tak pernah merasa cukup.

Catatan Penghujung 2025

Oleh Lembah Manah

Hujan turun sejak sore itu, tidak istimewa, tidak pula ekstrem. Warga sudah terbiasa. Di wilayah ini, hujan adalah bagian dari hidup—sama biasa dengan suara alat berat yang sejak beberapa tahun terakhir tak pernah benar-benar berhenti bekerja di perbukitan.

Tak ada yang menyangka, malam itu tanah akan bergerak.

Longsor datang tanpa aba-aba. Lereng yang selama puluhan tahun menopang permukiman tiba-tiba runtuh, membawa serta lumpur, batu, dan batang-batang pohon yang tersisa. Dalam hitungan menit, rumah-rumah yang berdiri di bawahnya lenyap. Sebagian warga sempat berlari. Sebagian lainnya tidak pernah keluar.

Anak-anak, orang tua, saudara—terkubur hidup-hidup oleh tanah yang kehilangan daya ikatnya.

Bagi warga, longsor itu terasa seperti kejadian mendadak. Namun bagi alam, itu adalah akhir dari proses panjang. Bukit yang dulu hijau telah lama dibuka. Hutan berubah menjadi jalan tambang, lahan galian, dan timbunan tanah tanpa penyangga. Akar-akar yang dulu menahan air hujan telah dicabut pelan-pelan, diganti janji kesejahteraan yang tak pernah benar-benar singgah di rumah warga.

“Dulu air hujan meresap. Sekarang langsung lari,” kata seorang warga yang selamat, sambil menunjuk lereng yang kini hanya menyisakan tanah terbuka.

Tanda-tanda sebenarnya sudah ada. Retakan kecil di tanah. Air sumur yang keruh. Longsoran-longsoran kecil yang dianggap biasa. Beberapa warga mengeluh, sebagian memilih diam, sebagian lagi tak tahu harus bicara ke siapa. Peringatan itu ada, tetapi tak cukup kuat untuk menghentikan laju kepentingan.

Ketika aktivitas tambang dan alih fungsi lahan terus berjalan, alam memberi jeda—bukan hukuman. Memberi waktu agar manusia sempat sadar bahwa keseimbangan sedang diuji. Namun jeda itu justru dibaca sebagai toleransi.

Saat hujan akhirnya datang, alam hanya melakukan apa yang tak lagi bisa dicegah: melepaskan beban yang terlalu lama dipaksa bertahan.

Di lokasi longsor, alat berat kembali bekerja—kali ini bukan untuk menggali, melainkan untuk mencari. Tanah yang sama, mesin yang sama, tetapi tujuan yang berbeda. Ironinya sulit dihindari.

Bencana ini tidak hanya merobohkan rumah. Ia juga merobek rasa aman. Anak-anak yang selamat kini tidur dengan ketakutan setiap hujan turun. Orang dewasa kehilangan bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga keyakinan bahwa hidup mereka benar-benar diperhitungkan.

Seperti banyak bencana lingkungan lainnya di Indonesia sepanjang 2025, longsor ini menegaskan satu hal: kehancuran jarang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang terus dibiarkan, dari peringatan yang dianggap angin lalu, dari keserakahan yang tak pernah merasa cukup.

Di ruang publik, tragedi ini mungkin hanya bertahan beberapa hari. Setelah itu, berita bergeser. Namun bagi mereka yang tertinggal di lokasi, longsor tidak pernah benar-benar selesai.

Alam telah memberi tanda. Telah memberi waktu.
Kini yang tersisa adalah pertanyaan lama yang terus berulang:
apakah manusia masih mau belajar,
atau akan menunggu longsor berikutnya
untuk kembali pura-pura terkejut?

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments