spot_img
BerandaHumanioraLelaki yang “Minggat”, Padahal Masih di Rumah

Lelaki yang “Minggat”, Padahal Masih di Rumah

Menghilangnya lelaki saat hidup runtuh bukan selalu tanda lari. Sering kali, itu tanda kebingungan yang tak tahu jalan pulang. Di balik sunyi itu, ada seseorang yang berjuang sendirian, tanpa tahu bagaimana cara meminta tolong. Barangkali, yang ia butuhkan bukan waktu, melainkan satu kalimat sederhana: “Aku sedang tidak baik-baik saja.”

Ketika gengsi lebih lantang daripada jeritan batin

Oleh: Dhen Ba Gus e Ngarso

LESINDO.COM – Di kampung kecil di lereng selatan, kata minggat biasanya dipakai untuk orang yang kabur dari utang atau cinta. Tapi kini, kata itu menjelma lebih halus: lelaki yang tidak pergi ke mana-mana, tapi juga tidak benar-benar tinggal.

Ia masih pulang.
Masih makan.
Masih tertawa tipis di depan orang tua.

Namun dari dirinya sendiri, ia telah pamit.

Ponselnya hidup, tapi pesannya mati.
Namanya masih tercatat, tapi jiwanya mengundurkan diri.
Ia ada, tapi seperti tanda tangan di kertas kosong.

Orang-orang mulai berbisik.

“Wah, ketok gagal.”
“Lha kok ora tanggung jawab?”
“Paling ya, ora kuat.”

Tak ada yang bertanya:
seberapa lelah sebenarnya ia?

Topeng Lelaki dan Beban “Seharusnya”

Sejak kecil, lelaki Jawa tumbuh dengan satu aturan tak tertulis:
aja ngisin-isini.

Ia harus kuat.
Harus mapan.
Harus “jadi”.

Ketika hidup runtuh, bukan hanya ekonomi yang roboh, tetapi identitas.
Ia tak malu pada dunia, melainkan pada bayangannya sendiri.

Ia tak pergi karena tak peduli.
Ia pergi karena tak sanggup terlihat gagal.

Bahasa Sunyi

Di rumah-rumah Jawa lama, emosi jarang diajarkan, apalagi dirayakan.
Luka cukup ditelan.
Tangis cukup dipendam.

Maka ketika beban hidup datang bertubi-tubi, ia tak tahu harus bercerita bagaimana.
Kosakatanya hanya dua: ora popo dan wes lah.

Diam menjadi pelindung.
Sunyi menjadi benteng.

Ironi Jarak

Yang paling sering ia jauhi justru yang paling peduli.
Bukan karena tak cinta, melainkan karena merasa belum pantas dicintai.

Dalam benaknya, ia berkata:

“Aku kembali kalau sudah beres.”

Masalahnya, hidup jarang benar-benar beres.
Yang ada hanya luka yang makin membesar karena tak pernah dibagi.

Tapa yang Tidak Menghasilkan Wahyu

Ia mengira sedang bertapa, menata ulang diri seperti ksatria pewayangan.
Padahal yang ia lakukan hanyalah mengurung diri, berharap semesta berbaik hati.

Tak ada dalang yang berbisik.
Tak ada wahyu yang turun.

Yang ada hanya kesepian dan ego yang saling menatap.

Rapuh yang Disembunyikan

Kerentanan masih dianggap dosa.
Menangis dianggap kalah.
Meminta tolong dianggap lemah.

Maka ia memilih menunggu hingga merasa “layak” kembali.
Padahal dunia tidak menuntut sempurna—
hanya jujur.

Epilog

Menghilangnya lelaki saat hidup runtuh bukan selalu tanda lari.
Sering kali, itu tanda kebingungan yang tak tahu jalan pulang.

Di balik sunyi itu, ada seseorang yang berjuang sendirian,
tanpa tahu bagaimana cara meminta tolong.

Barangkali, yang ia butuhkan bukan waktu,
melainkan satu kalimat sederhana:

“Aku sedang tidak baik-baik saja.”

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments