spot_img
BerandaJelajahjelajahLebih dari Sekadar Transit: Kampung Indonesia di Sekitar Masjidil Haram

Lebih dari Sekadar Transit: Kampung Indonesia di Sekitar Masjidil Haram

Pemerintah menargetkan Kampung Haji mulai beroperasi bertahap pada 2026 dan rampung sepenuhnya pada 2028. Harapannya jelas: menekan biaya, meningkatkan layanan, dan mengurangi kelelahan jemaah. Sebuah ikhtiar administratif yang penting, bahkan mendesak.

LESINDO.COM – Setiap musim haji dan umrah, Makkah bukan sekadar kota suci. Ia menjelma menjadi persimpangan rindu. Di lorong-lorong sempit Misfalah, di balik kepulan uap nasi hangat dan aroma sambal goreng, rindu itu berbahasa Indonesia. Ada yang berlogat Jawa halus, ada pula yang keras khas Sumatra, bercampur dengan logat Bugis dan Madura. Semua bertemu di satu tujuan: menggenapi panggilan Ilahi.

Di antara gemerlap Zamzam Tower dan cahaya Masjidil Haram yang tak pernah benar-benar padam, jemaah asal Indonesia datang dengan cerita masing-masing. Ada petani yang menabung puluhan tahun, guru honorer yang menyisihkan gaji, hingga pedagang kecil yang menjual tanah warisan demi sekali bersimpuh di depan Ka’bah. Bagi mereka, haji bukan sekadar rukun Islam kelima—ia adalah puncak perjalanan hidup.

Namun, perjalanan itu kerap panjang dan melelahkan. Jarak hotel yang jauh, transportasi yang berdesakan, hingga keterbatasan layanan kesehatan sering menjadi catatan tahunan. Di sinilah kemudian muncul sebuah gagasan besar, yang belakangan ramai diperbincangkan: Kampung Haji Indonesia.

Kampung Haji: Dari Mimpi Lama ke Proyek Negara

Gagasan membangun kawasan terpadu bagi jemaah Indonesia di Makkah sejatinya bukan barang baru. Ia telah lama beredar sebagai mimpi—terucap di ruang rapat Kementerian Agama, di sela diplomasi haji, dan dalam keluhan para pembimbing kloter. Namun baru pada pertengahan dekade 2020-an, mimpi itu menemukan momentumnya.

Berlokasi di kawasan Jabal Hindawiyah, sekitar 400 meter hingga dua kilometer dari Masjidil Haram, Kampung Haji dirancang membentang di atas lahan sekitar 80 hektare. Dari titik tertentu, mata jemaah dapat langsung menangkap siluet Zamzam Tower—seolah menjadi pengingat bahwa Ka’bah tak lagi sejauh bayangan.

Konsepnya sederhana, tetapi ambisius: one-stop service. Hotel khusus jemaah Indonesia, fasilitas kesehatan, layanan konsumsi bercita rasa Nusantara, hingga transportasi yang terintegrasi. Semua dirancang agar jemaah lebih fokus beribadah, bukan sibuk mengurus logistik.

Lebih dari itu, proyek ini memiliki makna simbolik. Indonesia menjadi negara asing pertama yang mendapat izin khusus mengelola kawasan di kota suci Makkah, menyusul perubahan regulasi properti Arab Saudi yang efektif mulai Januari 2026. Sebuah preseden diplomatik, sekaligus pengakuan atas besarnya kontribusi Indonesia dalam ekosistem haji global.

Misfalah: Kampung Indonesia yang Tumbuh Diam-Diam

Jauh sebelum Kampung Haji dirancang di atas kertas, warga Indonesia telah lebih dulu “membangun” kampung mereka sendiri—tanpa plang, tanpa peresmian. Misfalah namanya. Sebuah kawasan yang secara informal dijuluki Kampung Indonesia.

Di sinilah jemaah menemukan nasi putih yang rasanya seperti di rumah, tempe goreng yang renyah, dan sambal yang pedasnya akrab di lidah. Di sinilah pula mukimin asal Indonesia bertahan hidup: membuka warung, menjadi pemandu, atau sekadar menyewakan kamar kecil bagi sesama sebangsa.

Misfalah adalah ruang antara. Bukan sepenuhnya Tanah Air, tetapi juga bukan sepenuhnya tanah orang. Ia menjadi tempat bernaung bagi mereka yang rindu bahasa sendiri setelah seharian bergulat dengan panas, kepadatan, dan ritual yang menguras fisik.

Di gang-gang sempitnya, sering terdengar obrolan lirih tentang kampung halaman: sawah yang menunggu panen, cucu yang baru lahir, atau orang tua yang didoakan dari kejauhan. Haji dan umrah, di tempat ini, tak lagi hanya urusan spiritual—ia menyentuh sisi paling manusiawi: rindu dan pengharapan.

Antara Efisiensi dan Makna Ibadah

Pemerintah menargetkan Kampung Haji mulai beroperasi bertahap pada 2026 dan rampung sepenuhnya pada 2028. Harapannya jelas: menekan biaya, meningkatkan layanan, dan mengurangi kelelahan jemaah. Sebuah ikhtiar administratif yang penting, bahkan mendesak.

Namun, di balik bangunan megah dan perencanaan matang, ibadah haji tetaplah perjalanan batin. Tak semua lelah bisa dihapus oleh fasilitas, dan tak semua kekhusyukan lahir dari kenyamanan. Justru sering kali, makna haji tumbuh dari keterbatasan—dari antrean panjang, dari langkah tertatih di bawah terik matahari, dari air mata yang jatuh diam-diam di sudut Masjidil Haram.

Kampung Haji mungkin akan mengubah wajah pelayanan haji Indonesia di masa depan. Tetapi Misfalah, dengan segala kesederhanaannya, akan tetap hidup sebagai ingatan kolektif—tentang bagaimana orang-orang Indonesia pernah saling menguatkan di tanah yang jauh dari rumah.

Di Ujung Doa

Pada akhirnya, baik di hotel bertingkat Kampung Haji maupun di kamar sempit Misfalah, jemaah Indonesia membawa doa yang sama. Doa agar ibadah diterima, agar pulang dengan hati yang lebih lapang, dan agar kelak, jika usia masih memberi kesempatan, bisa kembali lagi ke Tanah Suci.

Di antara Ka’bah dan kampung halaman, orang Indonesia belajar satu hal penting: bahwa perjalanan haji bukan hanya tentang sampai, melainkan tentang pulang—dengan jiwa yang lebih bersih, dan rindu yang lebih jernih. (Jih)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments