spot_img
BerandaJelajahLebaran Tanpa Label

Lebaran Tanpa Label

Lebaran seharusnya mengajarkan kita satu hal sederhana yang kerap dilupakan: bahwa hidup bukan tentang bagaimana kita dilihat, melainkan bagaimana kita memperlakukan yang menjadi tanggung jawab kita.


Oleh: Lembah Manah

LESINDO.COM – Di sebuah pagi yang masih menyisakan embun di halaman rumah-rumah kampung, gema takbir perlahan surut, berganti suara sendok beradu dengan piring dan tawa keluarga yang lama tak berjumpa. Di sudut lain, layar ponsel menyala—menampilkan potret-potret rapi berbalut warna senada, dengan tagar yang seragam: Lebaran Core. Sebuah istilah baru, yang diam-diam menggeser makna lama.

Lebaran, bagi sebagian orang, tak lagi sekadar pulang. Ia menjadi panggung.

Di sana, pakaian bukan lagi penutup tubuh, melainkan pernyataan status. Ada yang rela mengantre diskon sejak dini hari, ada pula yang diam-diam menambah beban cicilan, demi satu hal yang terasa sepele namun menjerat: pengakuan.

Padahal, di ruang-ruang yang lebih sunyi—yang tak pernah masuk kamera—ada cerita lain yang jauh lebih jujur.

Seorang ibu di desa pinggiran memilih menunda membeli baju baru. Bukan karena tak ingin, tetapi karena ia tahu, uang yang sama bisa menjadi susu untuk anaknya selama seminggu. Di lemari, ia menyetrika pakaian lama dengan telaten, menghapus kusut seolah sedang merapikan hatinya sendiri.

“Yang penting bersih,” katanya pelan, lebih seperti berbicara pada diri sendiri.

Di kota, seorang ayah memandangi etalase pusat perbelanjaan. Di balik kaca, terpajang pakaian dengan potongan modern dan harga yang tak ramah. Ia menarik napas, lalu melangkah pergi. Di kepalanya, bukan soal gaya yang berputar, melainkan daftar kebutuhan sekolah anak yang belum lunas.

Keputusan-keputusan kecil semacam itu jarang mendapat tepuk tangan. Tapi di sanalah, sebenarnya, kehormatan bekerja.

Dalam tradisi Jawa, ada satu laku yang terasa kontras dengan riuhnya pamer penampilan: sungkan dan sungkeman. Sebuah gestur merendah, bersimpuh, mencium tangan orang tua, memohon maaf dengan hati yang ditanggalkan dari kesombongan.

Di momen itu, tak ada yang bertanya merek baju.

Yang dinilai bukan kain yang melekat, melainkan ketulusan yang terpancar.

Barangkali, di situlah letak ironi kita hari ini. Kita begitu sibuk memperindah apa yang tampak, namun lupa merawat apa yang dirasa. Kita mengukur diri dari luar, sementara Lebaran justru mengajak kita pulang ke dalam.

Baju baru, dalam makna yang lebih purba, bukanlah soal lembaran kain. Ia adalah simbol. Tentang jiwa yang telah melewati sebulan latihan: menahan lapar, meredam amarah, mengikis ego yang selama ini diam-diam tumbuh.

Namun simbol itu kini sering kehilangan ruhnya.

Ia menjadi sekadar seragam kolektif—harus baru, harus serasi, harus layak unggah. Jika tidak, ada kegelisahan yang sulit dijelaskan, seolah-olah ada yang kurang dari perayaan itu sendiri.

Padahal, yang kurang mungkin bukan bajunya.

Melainkan keberanian untuk merasa cukup.

Lebaran seharusnya mengajarkan kita satu hal sederhana yang kerap dilupakan: bahwa hidup bukan tentang bagaimana kita dilihat, melainkan bagaimana kita memperlakukan yang menjadi tanggung jawab kita.

Seorang anak tak akan mengingat apakah ayahnya mengenakan pakaian bermerek di hari raya. Tapi ia akan mengingat apakah ia merasa aman, kenyang, dan dicintai.

Seorang ibu tak akan dikenang dari warna bajunya. Tapi dari kehangatan yang ia hadirkan di meja makan.

Dan seorang manusia, pada akhirnya, tidak diukur dari apa yang ia kenakan, melainkan dari apa yang ia utamakan.

Di tengah riuh tren dan tuntutan untuk selalu tampak, memilih sederhana adalah bentuk keberanian yang sunyi. Ia tidak viral, tidak ramai dibicarakan, tapi justru di situlah letak kematangannya.

Lebaran bukanlah tentang kembali ke toko.

Ia adalah perjalanan pulang—ke hati yang lebih lapang, ke jiwa yang lebih jernih, dan ke kesadaran bahwa yang paling berharga dalam hidup bukanlah apa yang bisa dipamerkan, melainkan apa yang tetap bertahan saat semua sorotan padam.

Dan mungkin, di pagi yang hening itu, seseorang yang mengenakan pakaian lama namun hati yang baru—telah merayakan Lebaran dengan cara yang paling utuh.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments