LESINDO.COM- Di tengah zaman yang gaduh oleh notifikasi, ambisi, dan hasrat serba cepat, tradisi Jawa mengenal sebuah jalan sunyi bernama laku prihatin. Ia bukan pelarian dari dunia, melainkan cara leluhur menata ulang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan alam, dan dengan Gusti.
Puasa dalam tradisi Jawa tidak pernah berhenti pada urusan perut. Ia adalah disiplin batin. Menyusutkan yang lahir agar yang batin mengembang. Dalam keyakinan lama, energi terbesar justru lahir saat manusia berhenti menuruti segala keinginannya.
Ngasah batin—itulah inti dari laku prihatin. Sebab batin yang tumpul tak akan mampu membaca isyarat alam, apalagi menangkap petunjuk Tuhan.
Puasa mutih, misalnya, terlihat sederhana: nasi putih dan air putih. Namun di sanalah perang batin dimulai. Ketika rasa dihilangkan, manusia dipaksa berhadapan dengan dirinya sendiri—tanpa bumbu, tanpa topeng. Putih bukan sekadar warna, melainkan simbol kembali ke asal, ke niat yang bersih. Dalam kesunyian rasa itu, energi batin perlahan terkumpul, menjadi jernih, dan lebih peka.
Berbeda dengan mutih, ngrowot mengajarkan kerendahan hati. Tidak menyentuh nasi—makanan utama—dan menggantinya dengan umbi-umbian dari dalam tanah. Filosofinya sederhana namun dalam: manusia diingatkan bahwa hidup bersumber dari bumi, bukan dari gengsi. Energi yang lahir dari ngrowot adalah energi ketahanan—kesanggupan untuk hidup sederhana tanpa kehilangan martabat.
Laku yang lebih ekstrem hadir dalam tapa kungkum. Tubuh direndam air dingin di malam sunyi, saat dunia terlelap. Di sana, hawa nafsu diuji oleh dingin, oleh gelap, oleh rasa takut yang muncul perlahan. Air dipercaya melarutkan sisa-sisa emosi kasar: amarah, iri, dan keakuan. Dalam kondisi itu, batin dipaksa siaga penuh. Energi yang terkumpul bukan energi ledakan, melainkan energi pengendalian.
Namun puncak laku prihatin kerap disematkan pada puasa patigeni. Gelap total. Tanpa makan, minum, tidur, dan cahaya. Di ruang sunyi itu, manusia seolah “dimatikan” dari dunia luar. Api duniawi dipadamkan. Ketika indera kehilangan pegangan, batin mulai berbicara. Tak jarang pelaku mengalami gejolak batin yang dahsyat—antara ketakutan dan kejernihan. Dalam tradisi Jawa, kondisi ini disebut sebagai fase “pembukaan rasa”, saat energi batin memuncak dan kesadaran menjadi sangat tajam.
Adapun ngebleng mengajarkan disiplin total. Tidak makan dan minum, namun tetap beraktivitas. Di sini, laku prihatin diuji dalam kehidupan nyata. Energi yang lahir adalah keteguhan—kemampuan berdiri di tengah dunia tanpa tergantung pada kenikmatan jasmani.
Bagi orang Jawa, energi luar biasa bukanlah kesaktian untuk menundukkan orang lain. Energi sejati adalah daya menata diri. Mampu menahan diri saat berkuasa, tetap rendah hati saat dipuji, dan tegak saat diuji. Laku prihatin melahirkan energi yang halus, tak kasat mata, namun terasa dampaknya: ketenangan, kewibawaan, dan kebeningan sikap.
Di zaman modern, laku prihatin kerap disalahpahami sebagai praktik mistik semata. Padahal esensinya sangat manusiawi. Ia adalah teknologi batin warisan leluhur—cara kuno untuk menjaga kewarasan manusia agar tak tenggelam dalam kerakusan.
Mungkin kita tak lagi berendam di sungai tengah malam atau berpuasa mutih berpuluh hari. Namun semangat laku prihatin tetap relevan: mengurangi agar lebih memahami, menepi agar lebih melihat, dan menahan agar energi hidup tak habis tercecer.
Sebab dalam pandangan Jawa, kekuatan terbesar justru lahir dari mereka yang sanggup bersahabat dengan sunyi.(Dil)

