spot_img
BerandaJelajahjelajahKompas Kejujuran yang Kehilangan Utara

Kompas Kejujuran yang Kehilangan Utara

Maka kejujuran pun terus kalah pamor. Ia dianggap terlalu lambat di dunia yang menuntut hasil cepat. Terlalu lurus di sistem yang gemar berbelok. Padahal, dunia yang dibangun di atas kebohongan hanyalah bangunan rapuh yang menunggu waktu runtuh.

LESINDO.COM – Kejujuran selalu datang tanpa gegap gempita. Ia berjalan pelan, nyaris tak terdengar, seperti mata air yang mengalir di bawah tanah. Tidak berisik, tidak menuntut tepuk tangan. Namun justru karena itulah ia kuat—ia berdiri tanpa perlu pembenaran. Di tengah dunia yang riuh oleh kepura-puraan, kejujuran adalah suara yang paling jarang didengar, sekaligus paling sulit dibantah.

Masalahnya, kejujuran sering tersesat ketika memasuki lorong birokrasi. Begitu ia berhadapan dengan angka, terutama yang berderet nolnya terlalu panjang, kompas moral mendadak kehilangan medan magnet. Arah berputar-putar, jarum tak lagi menunjuk utara. Yang lurus terasa terlalu polos, yang jujur dianggap naif, dan yang bersih dicurigai tak paham “cara kerja sistem”.

Di ruang-ruang berpendingin udara, kejujuran kerap diperlakukan seperti tamu asing. Ia disambut sopan, tetapi tak pernah diajak duduk lama. Angka-angka berbicara lebih lantang, dan tafsirnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Dari sinilah kejujuran mulai ditawar—sedikit demi sedikit—hingga akhirnya lenyap tanpa berita kehilangan.

Pertanyaannya selalu berulang, dan jawabannya selalu menggantung: di mana yang salah? Pendidikan yang katanya mencetak manusia berkarakter, tetapi tak sanggup menjaga karakter saat berhadapan dengan godaan? Sistem pengawasan yang tampak gagah di atas kertas, tetapi mudah dilewati di lapangan? Atau lembaga pemberantasan korupsi yang berganti nakhoda berkali-kali, namun kapal kebocoran tak kunjung tertutup?

Dewan yang katanya dipenuhi orang-orang terpilih, cerdas, dan berpengalaman pun tak luput dari ironi. Jika kepandaian berbanding lurus dengan kejujuran, seharusnya korupsi sudah lama menjadi catatan sejarah. Nyatanya, semakin strategis jabatan, semakin lihai manipulasi. Anggaran dibaca seperti puisi—maknanya lentur, bisa ditafsirkan sesuai kepentingan.

Yang lebih menyedihkan, ketidakjujuran tak lagi memalukan. Ia hanya soal nasib: tertangkap atau belum. Bukan salah atau benar, melainkan apes atau aman. Tak ada efek jera, tak ada teladan yang menenangkan publik. Pesan yang sampai justru sinis: kejujuran itu mulia, tetapi kebohongan lebih menguntungkan—asal rapi.

Maka kejujuran pun terus kalah pamor. Ia dianggap terlalu lambat di dunia yang menuntut hasil cepat. Terlalu lurus di sistem yang gemar berbelok. Padahal, dunia yang dibangun di atas kebohongan hanyalah bangunan rapuh yang menunggu waktu runtuh.

Barangkali yang paling mengkhawatirkan bukanlah banyaknya orang yang korup, melainkan semakin sedikitnya orang yang percaya bahwa kejujuran masih relevan. Saat kejujuran kehilangan arah, bukan kompas yang rusak—melainkan kita yang sengaja memutarnya.

Dan sejarah selalu mencatat satu hal dengan jujur: kebohongan boleh menang hari ini, tetapi ia tak pernah menang lama. Kejujuran mungkin berjalan sunyi, tetapi ia selalu tiba—membawa waktu sebagai saksi dan kejatuhan sebagai akhir cerita. (fam)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments