spot_img
BerandaBudayaKisah Saat Kebaikan Disalahpahami

Kisah Saat Kebaikan Disalahpahami

Syirik tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh perlahan, dari cinta yang tak dijaga ilmu. Dari penghormatan yang kehilangan batas. Dari kesedihan yang tak dituntun wahyu.

Dari Wadd hingga Nasr: Jejak Syirik Pertama dalam Sejarah Manusia

Oleh : Yai Kampung

Di masa ketika bumi masih muda dan manusia hidup berdekatan dengan langit, tauhid adalah bahasa sehari-hari. Mereka mengenal Tuhan tanpa perantara, berdoa tanpa patung, dan memuliakan kebaikan tanpa mengubahnya menjadi sesembahan.

Pada zaman itu—setelah Nabi Syits عليه السلام—hidup lima lelaki saleh yang namanya menjadi bisikan penuh hormat di setiap majelis: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Mereka bukan nabi, tetapi cahaya. Bukan raja, tetapi panutan.
Ibnu Abbas menyebut mereka sebagai orang-orang saleh dari kaum Nabi Nuh.

Tak seorang pun menyangka, dari nama-nama inilah kelak syirik pertama kali bersemi.

Mereka yang Pernah Menjadi Teladan

Wadd dikenal sebagai jembatan kasih. Ia menenangkan pertikaian, merawat luka batin, dan membuat orang-orang ingin menjadi lebih baik hanya dengan melihat caranya hidup.

Suwa’ adalah bayang-bayang malam. Ia bangun ketika dunia terlelap, menangis dalam doa, dan memanggil kaumnya untuk kembali pada Allah.

Yaghuts, bertubuh kuat, bukan simbol kekerasan. Ia berdiri bagi yang tertindas, membela yang lemah, dan menundukkan dirinya di hadapan Tuhan.

Ya’uq adalah suara kebijaksanaan. Ia menjadi rujukan saat manusia bingung membedakan benar dan salah.

Nasr adalah pemimpin yang tidak mencari pujian. Ia memimpin dengan ketulusan, bukan ketakutan.

Mereka adalah cermin bagi masyarakatnya.
Dan seperti semua yang dicintai, mereka pun akhirnya pergi.

Ketika Kehilangan Menjadi Celah

Wafatnya kelima orang itu mengguncang batin kaum mereka.
Tangis berubah menjadi rindu.
Rindu menjelma kebutuhan.

Di tengah luka kolektif itu, setan berbisik lembut:

“Buatlah patung mereka, agar kalian lebih semangat mengingat kebaikan.”

Tak ada niat menyembah.
Tak ada sujud.
Hanya kenangan.

Namun waktu adalah tangan panjang yang mengubah makna.

Dari Kenangan Menjadi Sesembahan

Generasi berganti.
Ilmu hilang.
Makna pudar.

Patung yang dulu dikenang, kini dihormati.
Yang dihormati, lalu diagungkan.
Yang diagungkan, akhirnya disembah.

Wadd menjadi simbol kasih.
Suwa’ dianggap sumber kesembuhan.
Yaghuts dipuja sebagai kekuatan.
Ya’uq disebut penguasa kebijaksanaan gaib.
Nasr diminta keberuntungan dan kemenangan.

Mereka yang dulu mengajak kepada Allah, kini dijadikan perantara menuju-Nya.

Seruan yang Diabaikan

Ketika Nabi Nuh عليه السلام datang, ia menemukan kaumnya terikat pada nama-nama itu.

“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan sembahan-sembahanmu: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”
(QS. Nuh: 23)

Bukan karena patung itu kuat—
tetapi karena cinta yang telah salah arah.

Akhir yang Menjadi Peringatan

Air bah datang.
Kota tenggelam.
Patung hancur.

Nama-nama itu berubah:
dari lambang kebaikan, menjadi simbol kesesatan.

Namun kisah mereka tetap hidup—
bukan sebagai legenda,
melainkan peringatan.

Hikmah yang Tertinggal

Syirik tidak lahir dalam sehari.
Ia tumbuh perlahan, dari cinta yang tak dijaga ilmu.
Dari penghormatan yang kehilangan batas.
Dari kesedihan yang tak dituntun wahyu.

Dan setan, tak pernah tergesa.
Ia bekerja dari generasi ke generasi.

Sejarah ini bukan tentang patung.
Ia tentang manusia,
dan betapa rapuhnya iman ketika kebaikan tak lagi dijaga dengan tauhid.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments