LESINDO.COM – Gunung tidak pernah tergesa-gesa. Kabut turun perlahan, angin menyapu lereng tanpa peduli tanggal, dan batu-batu terjal Bukit Mongkrang tetap setia menunggu siapa pun yang datang dengan doa atau duka. Namun manusia—anehnya—selalu terburu-buru. Bahkan ketika yang dicari adalah nyawa.
Di jalur sunyi yang berliku itu, tujuh anggota Wanadri bersama dua personel SAR Surabaya dan tim komunikasi melangkah seperti orang-orang yang sedang berhutang pada waktu. Mereka tidak membawa bendera, tidak membawa sirene, hanya membawa satu keyakinan yang tidak tertulis dalam SOP: bahwa manusia tidak boleh dicari setengah hati.
Metode itu mereka sebut flying camp—istilah yang terdengar ringan, seolah-olah mereka sedang berkemah ceria. Padahal di baliknya ada tidur di tanah basah, makan dengan sisa tenaga, dan doa yang menggantung di antara ransel dan kabut. Mereka bergerak dari titik ke titik, menyisir celah-celah sunyi berdasarkan analisis dan kronologi hilangnya survivor. Mereka membaca gunung seperti membaca luka.
Namun ironi mulai bekerja saat sistem memutuskan bahwa duka juga punya masa kedaluwarsa.
Operasi SAR resmi dihentikan pada Sabtu, 31 Januari 2026. Seakan-akan sejak hari itu, kemungkinan ikut ditutup, dan harapan diminta berhenti bernapas. Alam belum selesai bercerita, tetapi manusia sudah lebih dulu berkata: cukup.
Tujuh hari berselang, relawan kembali diizinkan masuk. Bukan sebagai tim pencari, melainkan seperti tamu yang diberi jam bertamu. Waktu yang diberikan: tiga hari.
Tiga hari—untuk sebuah kemungkinan.
Tiga hari—untuk sebuah keluarga yang masih menunggu.
Tiga hari—untuk sesuatu yang bahkan waktu sendiri tak bisa mengukurnya.
Pagi itu, telepon berdering. Bukan kabar penemuan, bukan doa, melainkan pertanyaan administratif: “Apakah sudah keluar dari area Tahura?”
Seolah-olah yang lebih penting bukan apakah seseorang ditemukan, tetapi apakah prosedur sudah dipatuhi.
Lalu gunung, dengan caranya sendiri, menjawab.
Beberapa saat setelah pertanyaan itu, jasad survivor ditemukan.
Seperti satire yang ditulis alam:
ketika manusia sibuk memastikan batas wilayah, kehidupan justru ditemukan di luar batas kesabaran sistem.
Tim tetap menyisir aliran sungai, lereng curam, dan celah-celah yang sebelumnya belum tersentuh. Mereka bekerja bukan karena ada jam, tetapi karena ada nurani. Karena di balik setiap pencarian, selalu ada seseorang yang tak ingin kehilangan dengan cara yang terburu-buru.
Bukit Mongkrang akhirnya tidak hanya menyimpan jejak kaki, tetapi juga menyimpan ironi:
bahwa di dunia modern, yang paling cepat lelah bukan relawan—
melainkan harapan yang dipaksa tunduk pada tenggat.
Dan kita, yang membaca dari kejauhan, hanya bisa bertanya:
jika nyawa saja bisa dihentikan pencariannya,
lalu apa lagi yang masih kita anggap terlalu penting untuk ditunggu? (Jay)

