spot_img
BerandaHumanioraKetika Tuhan Tidak Sedang Menghukum, Manusia Terlalu Cepat Merasa Jadi Korban

Ketika Tuhan Tidak Sedang Menghukum, Manusia Terlalu Cepat Merasa Jadi Korban

Setiap orang memikul ujian yang berbeda, sebagaimana setiap jiwa menapaki lintasan hidupnya sendiri. Tidak ada manusia yang benar-benar berjalan tanpa beban; yang ada hanyalah perbedaan bentuk, waktu, dan cara ujian itu hadir. Ada yang diuji lewat kekurangan, ada yang diuji melalui kelimpahan. Ada yang diguncang oleh kehilangan, ada pula yang diuji oleh pujian dan kekuasaan.

Oleh : Ratih Arunika

LESINDO.COM – Manusia kerap terburu-buru menuduh Tuhan ketika hidup terasa mundur: rezeki tersendat, rencana gagal, doa seolah menggantung di langit tanpa jawaban. Padahal bisa jadi, justru di situlah langit sedang bekerja dengan cara paling serius—menarik hidup ke belakang bukan untuk menghukum, melainkan untuk memastikan arah. Pada titik ini, ujian berhenti menjadi sekadar derita dan berubah menjadi proses seleksi: siapa yang sabar akan matang, siapa yang memahami akan bijaksana, dan siapa yang hanya mengeluh akan berhenti di tempat yang sama.

Di negeri yang gemar mengeluh namun alergi merenung, kesulitan sering buru-buru ditafsirkan sebagai tanda murka. Sedikit susah, manusia merasa paling dizalimi semesta. Padahal besi tidak pernah menjadi pedang tajam karena didoakan, melainkan karena ditempa—dipukul, dipanaskan, lalu dipukul kembali—tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengasihani diri.

Ironisnya, banyak manusia ingin hidupnya melesat jauh, tetapi menolak fase ditarik ke belakang. Seperti anak panah yang menuntut terbang tinggi tanpa mau diregangkan busurnya. Mereka ingin kuat tanpa proses, matang tanpa luka, bijak tanpa pernah jatuh. Ingin panen, tetapi enggan menanam dan menunggu.

Tuhan bekerja dengan cara yang sering kali tidak ramah bagi ego. Ia tidak selalu menuruti doa versi instan manusia. Ketika seseorang diuji berlapis-lapis, itu bukan pertanda hidupnya paling malang—bisa jadi justru ia sedang disiapkan. Sebab tidak semua jiwa cukup kuat untuk memikul amanah yang lebih besar.

Namun tidak semua orang lulus dari ujian, meski semua orang mengalaminya. Ada yang diuji lalu pahit, ada yang diuji lalu pongah, ada pula yang diuji sambil menyalahkan takdir dan merasa paling saleh. Padahal ujian bukan tentang seberapa berat bebannya, melainkan seberapa dalam kesadaran dan kesabaran saat menjalaninya.

Ujian sejatinya bukan jebakan, melainkan ruang belajar. Tempaan bukan kutukan, melainkan kurikulum kehidupan. Di sanalah manusia diajari jeda: kapan harus bersabar, kapan harus diam, kapan harus merendahkan hati. Siapa yang mampu membaca makna di balik ujian akan keluar sebagai manusia yang lebih utuh—lebih tenang, lebih arif, dan tidak mudah menghakimi jalan hidup orang lain.

Setiap orang memikul ujian yang berbeda, sebagaimana setiap jiwa menapaki lintasan hidupnya sendiri. Tidak ada manusia yang benar-benar berjalan tanpa beban; yang ada hanyalah perbedaan bentuk, waktu, dan cara ujian itu hadir. Ada yang diuji lewat kekurangan, ada yang diuji melalui kelimpahan. Ada yang diguncang oleh kehilangan, ada pula yang diuji oleh pujian dan kekuasaan.

Sering kali manusia terjebak membandingkan lukanya dengan luka orang lain, seolah penderitaan harus seragam agar sah disebut ujian. Padahal ujian tidak diukur dari seberapa terlihat di mata manusia, melainkan seberapa dalam ia menguji keteguhan hati. Senyum yang tampak tenang bisa menyembunyikan pertempuran batin yang panjang; keberhasilan yang dipuji banyak orang pun kerap menyimpan godaan yang tak kalah berat.

Ujian tidak datang untuk memilih siapa yang paling menderita, melainkan siapa yang paling mampu belajar. Dalam setiap tempaan, manusia diajak mengenali dirinya sendiri: batas kesabaran, kualitas keikhlasan, dan kedalaman iman. Ada yang tumbuh setelah diuji, ada pula yang mengeras—di situlah ujian menunjukkan fungsinya, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai cermin.

Dan ketika seseorang akhirnya melesat—melampaui batas yang dulu hanya berani ia doakan—barulah ia mengerti: tarikan ke belakang itu bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk memastikan arah. Tuhan tidak pernah menarik hidup seseorang tanpa rencana. Yang kerap gagal bukanlah rencana-Nya, melainkan kesabaran manusia dalam memahami proses-Nya.

Pada akhirnya, bukan mereka yang paling sedikit diuji yang paling matang, melainkan mereka yang paling mampu memaknai ujian dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Dari sanalah manusia perlahan berubah: dari rapuh menjadi kuat, dari gelisah menjadi bijak, dari sekadar bertahan menjadi benar-benar mengerti makna kehidupan.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments