Oleh : Urangayu
Orang sombong sering kali bukan mereka yang berteriak tentang kehebatan diri. Justru, kesombongan paling berbahaya tumbuh dalam diam—seperti kabut tipis yang perlahan menutup mata batin. Ia tidak sadar bahwa ucapannya mulai meninggi, sikapnya makin merendahkan, dan kehadirannya tak lagi meneduhkan. Bagi dirinya, semua terasa wajar. Namun bagi orang lain, perubahan itu jelas terasa: ada jarak yang tercipta, ada keangkuhan yang menyelinap di balik kata-kata.
Sombong membuat seseorang kehilangan cermin diri. Ia tak lagi mampu menilai apakah langkahnya masih lurus atau sudah menyimpang. Setiap nasihat terdengar seperti serangan, setiap kritik dianggap ancaman. Padahal, sering kali yang berbicara hanyalah kepedulian. Dalam pandangan orang sombong, dunia seolah berutang pengakuan kepadanya, dan bila pengakuan itu tak datang, ia merasa dilukai.
Dalam laku Jawa, kesombongan disebut sebagai watak adigang, adigung, adiguna—merasa kuat, merasa besar, merasa paling pandai. Watak ini pelan-pelan menjauhkan manusia dari kesadaran asal-usulnya. Ia lupa bahwa hidup bukanlah hasil tunggal dari usaha diri, melainkan jalinan panjang antara ikhtiar, doa, dan kersaning Gusti. Ketika keberhasilan disandarkan sepenuhnya pada diri sendiri, saat itulah hati mulai terputus dari Yang Gawe Urip.
Tanda paling halus dari kesombongan adalah keringnya dzikir. Bibir jarang menyebut asmane Gusti, hati jarang tergetar oleh rasa syukur. Doa menjadi formalitas, bukan lagi percakapan batin. Dalam keadaan ini, manusia mudah merasa cukup, merasa aman, merasa tak membutuhkan pertolongan apa pun di luar dirinya. Padahal, justru di situlah rapuhnya jiwa: ketika ia merasa paling utuh, paling benar, dan paling layak dipuja.
Kesombongan juga membuat seseorang kehilangan kepekaan. Ia tak lagi mendengar keluh orang kecil, tak lagi peka pada luka di sekitarnya. Semua diukur dengan standar dirinya sendiri. Jika orang lain tertinggal, dianggap malas; jika orang lain berbeda, dianggap salah. Sombong mengeraskan hati, membuat empati menguap, dan mengganti welas asih dengan penghakiman.
Ironisnya, orang sombong sering tampak paling percaya diri, padahal di balik itu tersimpan kegelisahan yang dalam. Ia butuh pengakuan terus-menerus karena hatinya kosong. Ia ingin dipuji karena batinnya rapuh. Maka ketika pujian berhenti, amarah muncul; ketika sanjungan hilang, luka terbuka. Kesombongan bukan tanda kekuatan, melainkan jerit sunyi dari jiwa yang lupa bersandar.
Dalam kebijaksanaan leluhur Jawa, manusia sejatinya diajari untuk andhap asor—rendah hati bukan karena rendah derajat, melainkan karena sadar batas. Semakin tinggi ilmu, semakin dalam seharusnya tunduknya. Semakin luas pengalaman, semakin halus seharusnya tutur kata. Sebab, yang benar-benar paham kehidupan adalah mereka yang tahu bahwa dirinya kecil di hadapan semesta.
Sombong adalah hijab paling tebal antara manusia dan Tuhannya. Ia menutup jalan pulang, menghalangi cahaya hidayah. Selama hijab itu belum tersingkap, seseorang akan terus merasa benar sendiri, merasa paling tahu, merasa paling berjasa. Dan selama itu pula, hatinya akan jauh dari ketenteraman sejati.
Maka, sebelum menilai orang lain, yang paling penting adalah mengawasi diri sendiri. Bertanya pada hati: masihkah ia lembut? Masihkah bibir ini basah oleh dzikir? Masihkah keberhasilan membuat kita bersujud, bukan menepuk dada? Sebab, sering kali kesombongan bukan datang dari kekurangan, melainkan dari keberhasilan yang tak diiringi rasa syukur.
Dan pada akhirnya, hidup akan mengajarkan dengan caranya sendiri. Ada kalanya Tuhan merendahkan manusia di hadapan sesama bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menyelamatkan. Agar hati yang keras kembali lunak. Agar jiwa yang jauh kembali pulang. Agar manusia ingat: setinggi apa pun ia berdiri, ia tetap hidup karena kemurahan-Nya.

