spot_img
BerandaHumanioraKetika Puncak Mengajarkan Menunduk

Ketika Puncak Mengajarkan Menunduk

Kesombongan, kata orang bijak, hanyalah menambah luka ketika jatuh. Sebaliknya, kerendahan hati membuat seseorang tetap utuh, bahkan ketika tak lagi berada di atas. Ia menjadi penyangga yang sunyi, namun kuat—menjaga agar jiwa tak pecah saat dunia berubah arah.

LESINDO.COM – Pada suatu sore, di sebuah warung kopi kecil di sudut kota, seorang lelaki paruh baya duduk memandangi lalu lintas yang tak pernah benar-benar berhenti. Tangannya memegang cangkir kopi yang mulai mendingin, sementara matanya menatap jauh—seolah sedang mengulang potongan hidup yang pernah berada di puncak, lalu jatuh tanpa aba-aba.

“Dulu saya merasa segalanya mungkin,” katanya pelan, nyaris berbisik. Saat itu, hidup memang terasa ringan. Senyum mudah dibagi, langkah terasa cepat, dan pujian datang dari berbagai arah. Dunia seolah membentangkan karpet merah, membuat seseorang lupa bahwa yang ia pijak bukanlah miliknya selamanya.

Di titik itulah banyak orang tergelincir—bukan karena kurang mampu, melainkan karena terlalu yakin bahwa keberhasilan adalah hasil tunggal dari dirinya sendiri. Kita lupa, bahwa di balik posisi hari ini, ada waktu yang bersabar, kesempatan yang terbuka, dan doa-doa yang tak pernah bersuara.

Padahal hidup tak pernah tinggal diam. Ia bergerak, berputar, tanpa menunggu kesiapan siapa pun. Yang hari ini disanjung, esok bisa belajar menunduk. Yang hari ini berlimpah, besok bisa diuji dengan kehilangan. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa tak ada puncak yang abadi.

Kesombongan, kata orang bijak, hanyalah menambah luka ketika jatuh. Sebaliknya, kerendahan hati membuat seseorang tetap utuh, bahkan ketika tak lagi berada di atas. Ia menjadi penyangga yang sunyi, namun kuat—menjaga agar jiwa tak pecah saat dunia berubah arah.

Maka, ketika hidup sedang memihak, belajarlah merendah. Jangan meremehkan, jangan merasa paling. Karena hidup selalu punya cara sendiri untuk mengajarkan arti cukup dan syukur—sering kali lewat kehilangan yang tak kita minta.

Pada akhirnya, nasib memang tak pernah bisa ditebak. Yang dapat kita jaga hanyalah sikap dan hati. Sebab, bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri yang akan diingat, melainkan bagaimana kita tetap manusia, di mana pun takdir menempatkan kita.(Cha)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments