spot_img
BerandaHumanioraKetika Pikiran Menjadi Beban: Seni Melepaskan yang Terlupakan

Ketika Pikiran Menjadi Beban: Seni Melepaskan yang Terlupakan

Kesadaran semacam ini bukan lompatan besar, melainkan latihan kecil yang terus diulang. Menyadari saat pikiran mulai berputar tanpa tujuan. Menghentikan dialog batin yang tidak membawa solusi. Mengakui bahwa tidak semua hal harus dipikirkan, dan tidak semua kecemasan layak dipercaya.

LESINDO.COM – Pagi sering datang tanpa mengetuk pintu. Ia menyapa manusia bukan hanya dengan cahaya, tetapi juga dengan sisa-sisa pikiran yang belum sempat dibereskan semalam. Di sanalah penderitaan kerap bermula—bukan dari kenyataan yang berdiri di depan mata, melainkan dari pikiran yang terus mengulang apa yang seharusnya sudah selesai.

Banyak orang hidup seolah memikul beban ganda. Satu berasal dari realitas yang memang tidak ringan: tuntutan ekonomi, tekanan sosial, ketidakpastian masa depan. Namun beban kedua justru lebih sunyi dan lebih melelahkan—pikiran yang berputar tanpa arah, menghidupkan kembali kegagalan, ketakutan, dan penyesalan yang tak lagi bisa diubah.

Filsafat sejak lama mengingatkan bahwa penderitaan manusia tidak selalu sebanding dengan peristiwa yang dialami. Epictetus, filsuf Stoa, pernah menulis bahwa bukan peristiwa yang menyakiti manusia, melainkan penilaannya atas peristiwa tersebut. Pikiran, ketika dibiarkan liar, mampu menciptakan luka yang lebih dalam daripada fakta itu sendiri.

Dalam kehidupan modern, kondisi ini semakin nyata. Media sosial mempercepat perbandingan, berita buruk datang tanpa jeda, dan standar keberhasilan seolah ditentukan oleh linimasa orang lain. Akal bekerja tanpa henti, namun jarang diajak berhenti. Ia mengulang skenario terburuk, memproduksi kecemasan, lalu menyebutnya kewaspadaan.

Padahal, di balik semua itu, manusia memiliki sesuatu yang sering dilupakan: kebebasan batin. Kebebasan untuk memilih pikiran mana yang layak dirawat dan mana yang perlu dilepaskan. Bukan berarti menyangkal kenyataan, melainkan menempatkannya secara proporsional—membedakan antara masalah nyata dan ketakutan yang hanya hidup di dalam bayangan pikiran.

Kesadaran semacam ini bukan lompatan besar, melainkan latihan kecil yang terus diulang. Menyadari saat pikiran mulai berputar tanpa tujuan. Menghentikan dialog batin yang tidak membawa solusi. Mengakui bahwa tidak semua hal harus dipikirkan, dan tidak semua kecemasan layak dipercaya.

Kebijaksanaan, dalam pengertian ini, bukanlah kemampuan menjawab semua persoalan hidup, melainkan keberanian untuk merawat pikiran dengan jujur dan tenang. Saat pikiran tertata, jiwa menjadi lebih ringan. Bukan karena hidup mendadak mudah, tetapi karena manusia tidak lagi menambah penderitaan yang sebenarnya bisa dilepaskan.

Di titik itulah, damai menemukan jalannya sendiri. Ia tidak lahir dari realitas yang sempurna, melainkan dari kesadaran bahwa pikiran adalah rumah yang perlu dijaga. Sebab ketika akal belajar diam, hati akhirnya bisa mendengar—dan hidup pun berjalan dengan langkah yang lebih manusiawi. (cha)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments