spot_img
BerandaHumanioraKetika Penyakit Bersemayam di Pikiran Stres, Dengki, dan Tubuh yang Membayar Mahal...

Ketika Penyakit Bersemayam di Pikiran Stres, Dengki, dan Tubuh yang Membayar Mahal  

Psikologi modern menyebutnya distorsi kognitif—cara berpikir yang membuat seseorang melihat dunia dengan kacamata gelap. Prasangka buruk, perasaan selalu dirugikan, dan keyakinan bahwa hidup tidak adil hanya kepadanya.

LESINDO.COM – Suatu pagi di ruang tunggu rumah sakit, seorang pria paruh baya duduk memeluk map hasil laboratorium. Kolesterolnya tinggi, tekanan darahnya melonjak, dan dokter menyarankan obat seumur hidup. “Saya sudah kurangi gorengan,” katanya lirih, lebih seperti berbicara pada diri sendiri. Tetapi ada yang tak tercatat di hasil lab: kegelisahan yang menahun, amarah yang dipendam bertahun-tahun, dan rasa iri yang tak pernah selesai.

Kita terbiasa menuding makanan sebagai biang keladi penyakit. Gula, garam, lemak—semuanya terdakwa utama. Namun sains modern perlahan mengajak kita menoleh ke wilayah yang lebih sunyi: pikiran dan hati manusia.

Tubuh yang Mendengar Isi Kepala

Dalam dunia medis, ada cabang ilmu bernama psikoneuroimunologi—sebuah disiplin yang meneliti hubungan pikiran, sistem saraf, dan daya tahan tubuh. Temuannya tegas: tubuh bukan benda mati. Ia mendengar, mencatat, dan bereaksi terhadap apa yang dipikirkan pemiliknya.

Ketika seseorang hidup dalam stres berkepanjangan—menyimpan marah, dengki, atau kecemasan—otak memerintahkan pelepasan hormon stres, terutama kortisol. Pada situasi darurat, hormon ini menyelamatkan. Namun bila dilepas terus-menerus, kortisol justru menjadi racun perlahan.

Penelitian menunjukkan kadar kortisol tinggi dalam jangka panjang dapat memicu peradangan kronis, menurunkan sistem imun, dan mempercepat kerusakan pembuluh darah. Jantung, usus, bahkan sistem saraf ikut menanggung akibatnya. Penyakit pun datang bukan sebagai tamu tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi batin yang tak pernah benar-benar tenang.

Hati yang Tak Pernah Istirahat

Menariknya, apa yang kini dijelaskan dengan istilah ilmiah sebenarnya telah lama dibicarakan para pemikir spiritual. Dalam khazanah Islam, hati—qalb—dipandang sebagai pusat kehidupan. Imam Al-Ghazali menyebutnya sebagai raja, sementara tubuh hanyalah pelaksana perintah.

Hasad, sombong, dan riya bukan sekadar dosa moral, melainkan beban batin. Orang yang dengki hidup dalam perbandingan abadi. Ia sulit bersyukur, mudah tersinggung, dan jarang merasa cukup. Secara psikis, kondisi ini membuat tubuh selalu siaga, seolah dunia adalah ancaman yang tak pernah usai.

Tidak mengherankan jika wajah menjadi kusam, tidur tak nyenyak, dan tubuh mudah lelah. Bukan karena usia semata, melainkan karena hati tak pernah diberi jeda untuk berdamai.

Pikiran yang Membentuk Penyakit

Psikologi modern menyebutnya distorsi kognitif—cara berpikir yang membuat seseorang melihat dunia dengan kacamata gelap. Prasangka buruk, perasaan selalu dirugikan, dan keyakinan bahwa hidup tidak adil hanya kepadanya.

Pola pikir semacam ini menimbulkan emosi negatif yang berulang. Marah memicu pelarian; pelarian melahirkan kebiasaan buruk—makan berlebihan, merokok, begadang. Perlahan, tubuh rusak, lalu dokter dipanggil untuk memperbaiki akibatnya.

Yang sering luput disadari: penyakit tidak lahir di tubuh, tetapi bermula di kepala.

Makanan, Hati, dan Lingkaran yang Tak Terpisah

Apakah ini berarti makanan tak penting? Tentu tidak. Nutrisi tetap menjadi faktor utama kesehatan. Namun tanpa pikiran yang sehat, tubuh kehilangan daya tahannya. Dalam kondisi imun yang rapuh, makanan buruk bekerja lebih cepat menghancurkan organ.

Penyakit berat jarang berdiri sendiri. Ia lahir dari persekutuan antara pola makan yang keliru dan batin yang kusut. Yang satu merusak secara langsung, yang lain melemahkan pertahanan dari dalam.

Menyembuhkan yang Tak Terlihat

Pengobatan medis tetap mutlak diperlukan. Obat menurunkan tekanan darah, menstabilkan gula, dan menyelamatkan organ. Tetapi tanpa upaya membersihkan pikiran dan hati, penyakit sering hanya berganti wajah.

Mungkin inilah sebabnya mengapa sebagian orang sembuh lebih cepat, sementara yang lain terus berputar dalam ruang perawatan. Bukan karena tubuh mereka berbeda, melainkan karena cara mereka berdamai dengan hidup.

Pada akhirnya, kesehatan bukan sekadar angka di hasil laboratorium. Ia adalah keadaan ketika tubuh, pikiran, dan hati berada dalam keselarasan. Ketika manusia berhenti memelihara racun batin, tubuh pun berhenti berteriak lewat penyakit.

Dan mungkin, sebelum menyalahkan apa yang kita makan, ada baiknya kita bertanya lebih jujur: apa yang selama ini kita simpan di dalam hati? (Rth)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments