LESINDO.COM- Ada jenis kebijaksanaan yang jarang dibahas dalam pidato politik atau seminar kepemimpinan: seni membiarkan seseorang jatuh oleh langkahnya sendiri.
Ia tidak memakai pengeras suara, tidak membangun citra, tidak mengutip pasal. Ia hanya berdiri di kejauhan—menyaksikan bagaimana kesombongan pelan-pelan menggali kuburnya sendiri.
Di negeri ini, kita terbiasa melihat pejabat yang tersandung oleh kata-katanya sendiri, aktivis yang terjerat ambisinya sendiri, tokoh yang terseret oleh rekam jejak yang ia sangkal kemarin. Mereka bukan dihancurkan lawan, melainkan dikalahkan oleh bayangan diri mereka sendiri.
Mula-mula mereka tampil seperti penyelamat.
Berbicara tentang moral, hukum, dan nasib rakyat.
Lalu, suatu hari, muncul potongan video, jejak digital, atau kesaksian yang tak sempat mereka hapus.
Bukan palu hakim yang pertama kali memukul—melainkan keheningan publik yang mulai ragu.
Pada titik itu, godaan kita datang:
ingin mengejek, ingin menghakimi, ingin berkata, “Kami sudah tahu sejak awal.”
Namun sering kali, suara kita justru menjadi tangga bagi mereka untuk naik kembali—dengan satu kalimat klasik: “Saya dizalimi.”
Kesalahan mereka yang seharusnya menjadi cermin, tiba-tiba berubah menjadi panggung drama.
Dan kita—tanpa sadar—menjadi figuran yang membantu mereka berakting sebagai korban.
Padahal, kesalahan punya cara kerja sendiri.
Ia menguras legitimasi, membuat kalimat mereka terdengar hampa, membuat sorotan kamera terasa lebih panas dari biasanya.
Satu per satu, pendukung menjauh, bukan karena dibujuk, tetapi karena malu untuk terus membela.
Di sinilah diam menjadi bentuk perlawanan yang paling tajam.
Bukan karena takut, melainkan karena memahami bahwa waktu lebih setia pada kebenaran daripada kerumunan.
Ada kemenangan yang tidak perlu dirayakan.
Tidak perlu konferensi pers.
Tidak perlu tagar.
Tidak perlu tepuk tangan.
Ketika seseorang jatuh oleh ulahnya sendiri, yang dibutuhkan hanya jarak dan kesabaran.
Selebihnya, biarkan kesalahan itu—dengan dingin dan rapi—menyelesaikan pekerjaannya.(Arn)

