LESINDO.COM – Pagi itu berjalan pelan, seakan enggan beranjak dari sela-sela waktu. Cahaya matahari jatuh lembut di sudut kamar, memantul pada cermin yang telah lama setia menjadi saksi perubahan. Di hadapannya, seorang lelaki berdiri diam, menatap wajah yang terasa akrab sekaligus asing. Ia tidak sedang mencari sesuatu yang hilang, melainkan mencoba memahami sesuatu yang telah berubah.
Helai demi helai rambut putih tampak jelas, menyelinap di antara yang tersisa dari hitam masa lalu. Ia tidak datang sekaligus, melainkan perlahan, hampir tak terasa—seperti waktu yang bekerja diam-diam tanpa pernah meminta izin. Dulu, rambut itu adalah mahkota kepercayaan diri; kini ia menjadi penanda perjalanan.
Ingatan pun bergerak mundur.
Ada masa ketika tubuh terasa ringan seperti angin. Begadang semalaman bukan pengorbanan, melainkan kebebasan. Luka-luka kecil sembuh tanpa perlu diingat, dan tawa pecah begitu saja tanpa alasan yang rumit. Dunia saat itu terbentang luas—tanpa batas, tanpa beban. Cinta pertama terasa seperti pusat semesta, dan setiap mimpi tampak mungkin untuk digapai.
Namun pagi ini berbeda. Pertanyaan sederhana muncul, menggantung di udara yang hening: apakah masa muda bisa kembali?
Cermin tidak menjawab. Ia hanya memantulkan kenyataan—apa adanya, tanpa kompromi. Dan mungkin di situlah letak kejujurannya. Tidak ada ruang bagi nostalgia untuk mengubah fakta. Waktu berjalan satu arah, dan manusia hanya bisa mengikutinya.
Masa muda memang telah pergi. Ia tidak berpamitan, tidak pula meninggalkan alamat untuk dikunjungi kembali. Ia seperti burung yang terbang menjauh dari sarangnya—membawa serta keriangan, keberanian, dan kecerobohan yang dulu terasa begitu akrab. Dipanggil sekeras apa pun, ia tidak akan kembali.
Tetapi barangkali, kehilangan itu tidak sepenuhnya kehilangan.
Setiap garis halus di wajah kini menyimpan cerita yang tak pernah dimiliki masa muda. Setiap uban adalah penanda bahwa seseorang telah melewati musim demi musim kehidupan—panas yang membakar, hujan yang mengguyur, hingga badai yang nyaris merobohkan. Ada ketahanan yang tumbuh, ada pemahaman yang mengendap, ada kedalaman yang tidak bisa dibeli oleh usia muda.
Di situlah letak paradoksnya: ketika kekuatan fisik mulai berkurang, justru keteguhan batin menemukan bentuknya.
Maka barangkali yang perlu diubah bukanlah waktu, melainkan cara memandangnya. Masa muda tidak perlu ditangisi sebagai sesuatu yang hilang, melainkan dikenang sebagai sesuatu yang telah menunaikan tugasnya. Ia pernah hadir, memberi warna, mengajarkan keberanian, lalu pergi tepat pada waktunya.
Dan yang tersisa kini bukanlah kehampaan, melainkan kebijaksanaan.
Sebuah kesadaran pelan muncul di balik tatapan ke cermin itu: bahwa hidup bukan tentang mempertahankan apa yang tidak mungkin dipertahankan, tetapi tentang merawat apa yang masih ada. Nafas yang masih berembus, langkah yang masih bisa dijalankan, dan hati yang masih mampu merasakan—semuanya adalah tanda bahwa perjalanan belum usai.
Masa muda memang takkan kembali. Namun barangkali, ia tidak benar-benar pergi. Ia tinggal dalam bentuk lain—dalam kenangan yang menghangatkan, dalam pelajaran yang meneguhkan, dan dalam kebijaksanaan yang pelan-pelan menuntun arah.
Di depan cermin itu, lelaki itu akhirnya tersenyum tipis.
Bukan karena ia menemukan kembali masa mudanya, tetapi karena ia mulai menerima dirinya yang sekarang—utuh, lengkap, dan berdamai dengan waktu.(Osy)

