LESINDO.COM – Di sebuah dapur sederhana di sudut desa, seorang nenek menanak singkong rebus. Tidak ada kemasan plastik, tidak ada label nutrisi, tidak ada daftar bahan yang panjangnya lebih mirip rumus kimia. Hanya singkong, air, dan api. Di situlah, mungkin, kita bisa mulai memahami satu pertanyaan yang kini sering muncul dengan nada getir: mengapa manusia dulu tampak lebih jarang “akrab” dengan penyakit seperti diabetes?
Pertanyaan ini memang menggoda, bahkan terasa seperti membuka rahasia besar yang lama tersembunyi. Namun, seperti banyak hal dalam kehidupan, jawabannya tidak sesederhana nostalgia tentang “zaman dulu yang lebih sehat”.
Pada masa lalu, manusia hidup dalam ritme yang sangat berbeda. Aktivitas fisik bukan pilihan gaya hidup, melainkan kebutuhan sehari-hari. Berjalan jauh, bekerja di ladang, berburu, atau sekadar mengambil air dari sumbernya—semua itu membuat tubuh terus bergerak. Energi yang masuk lewat makanan hampir selalu langsung digunakan, bukan disimpan berlebihan.
Makanan pun hadir dalam bentuk paling utuh. Bukan karena kesadaran kesehatan, melainkan karena memang belum ada alternatif lain. Apa yang dimakan adalah apa yang tumbuh atau ditangkap. Rasa manis dari gula bukan sesuatu yang tersedia setiap hari, melainkan kemewahan yang jarang ditemui. Dalam kondisi seperti itu, tubuh bekerja sesuai desain alaminya—tanpa dibanjiri kelebihan energi yang harus “dipaksa” untuk disimpan.
Namun, mengatakan bahwa manusia dulu “tidak terkena diabetes” juga perlu dilihat dengan jernih. Pada masa itu, ilmu kedokteran belum berkembang seperti sekarang. Banyak penyakit tidak terdiagnosis, atau bahkan tidak sempat teridentifikasi karena harapan hidup yang lebih pendek. Seseorang mungkin meninggal di usia 40 atau 50 tahun, sebelum penyakit kronis sempat berkembang penuh dan tercatat.
Perubahan besar mulai terasa ketika cara manusia memproduksi dan mengonsumsi makanan berubah. Revolusi industri membawa kemudahan, tetapi juga jarak antara manusia dan sumber makanannya. Gula yang dulu langka menjadi murah dan melimpah. Tepung yang diproses kehilangan serat dan nutrisi, namun justru menjadi bahan utama berbagai makanan.
Lambat laun, makanan tidak lagi sekadar untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk kenyamanan, kecepatan, dan bahkan pelarian emosi. Di sinilah hubungan manusia dengan makanan mulai bergeser—dari kebutuhan menjadi kebiasaan.
Memasuki era modern, tantangan semakin kompleks. Makanan ultra-proses hadir dengan rasa yang dirancang untuk membuat orang sulit berhenti. Aktivitas fisik menurun drastis, digantikan oleh kursi dan layar. Stres meningkat, tidur berkurang, dan semua itu saling berkaitan dalam cara yang sering tidak kita sadari.
Di tengah kondisi ini, diabetes bukan muncul sebagai satu sebab tunggal, melainkan sebagai hasil dari banyak faktor yang saling bertumpuk: pola makan tinggi gula dan kalori, kurang gerak, stres, hingga faktor genetik yang ikut berperan.
Narasi bahwa “semua ini hanya karena usia atau gen” memang terasa menenangkan, karena seolah-olah kita tidak punya kendali. Tapi kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Gaya hidup tetap memiliki peran besar—meski bukan satu-satunya penentu.
Di sisi lain, romantisasi masa lalu juga bisa menyesatkan. Zaman dulu bukan tanpa masalah kesehatan. Infeksi, kekurangan gizi, dan keterbatasan pengobatan adalah kenyataan yang juga harus dihadapi. Hanya saja, jenis penyakitnya berbeda.
Mungkin yang lebih bijak bukan memilih antara “zaman dulu” atau “zaman sekarang”, melainkan belajar dari keduanya. Dari masa lalu, kita bisa mengambil kesederhanaan: makan lebih alami, bergerak lebih banyak, dan tidak berlebihan. Dari masa kini, kita mendapatkan ilmu pengetahuan, diagnosis yang lebih akurat, dan peluang untuk mencegah serta mengelola penyakit dengan lebih baik.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang diabetes bukan hanya soal sejarah, tetapi soal pilihan hari ini. Apa yang kita makan, bagaimana kita bergerak, dan cara kita merawat tubuh—itulah percakapan nyata antara manusia modern dan kesehatannya.
Dan mungkin, di tengah semua kemajuan ini, kita hanya perlu sesekali kembali ke dapur sederhana itu—tempat di mana makanan belum kehilangan maknanya.(May)

