LESINDO.COM – Di antara lengang dini hari, ketika azan Subuh belum lagi menyentuh langit, jalanan kota justru riuh oleh teriakan yang ganjil. Bukan lantunan doa, bukan pula langkah-langkah menuju masjid. Yang terdengar adalah dentuman sarung berisi batu yang diayunkan seperti cambuk. Anak-anak belasan tahun berlarian, sebagian merekam, sebagian menantang, sebagian hanya ingin diakui.
Fenomena “perang sarung” bukan lagi cerita pinggiran. Di sejumlah kota Solo, Boyolali, Klaten—termasuk ketika aparat seperti Tim Sparta dari Polresta Solo membubarkan aksi serupa—peristiwa ini muncul sebagai ironi zaman. Sarung, yang dahulu lekat dengan simbol kesantunan dan ibadah, dililitkan pada batu, diayunkan ke tubuh kawan sebaya. Dari kain doa menjadi alat adu nyali.
Mengapa energi muda yang sedemikian besar justru mencari panggung dalam bentuk destruktif?
Adrenalin dan Identitas yang Gamang
Secara psikologis, remaja memang sedang berada di simpang paling riuh dalam hidupnya. Mereka ingin diakui, ingin dianggap berani, ingin namanya disebut dalam lingkar pertemanan. Di usia ketika nalar belum sepenuhnya matang dan emosi begitu bergelora, adrenalin sering terasa lebih nyata daripada konsekuensi.
Bagi sebagian dari mereka, perang sarung bukanlah ancaman nyawa, melainkan “permainan.” Ada sensasi berlari di tengah malam, ada euforia ketika sorak kawan menyebut namanya, ada kebanggaan semu ketika video aksi mereka beredar di media sosial. Validasi kelompok menjadi candu yang halus. Dalam sorot kamera ponsel, keberanian—meski keliru—tampak seperti prestasi.
Ruang Ekspresi yang Mengering
Di sisi lain, kita patut bertanya: apakah kita telah menyediakan cukup ruang bagi energi itu untuk tumbuh dengan sehat?
Sekolah sering kali menjadi ruang aturan. Masjid terkadang terasa sunyi dari bahasa remaja. Lapangan-lapangan menyempit, kegiatan seni dan olahraga kalah oleh jadwal les dan tuntutan akademik. Ketika ruang ekspresi mengecil, jalanan menjadi panggung alternatif.
Di sana tidak ada kurikulum, tidak ada tata tertib. Yang ada hanya kebebasan—meski liar. Di sana, sorak sorai lebih cepat datang ketimbang rapor. Di sana, satu video viral bisa memberi rasa “berarti” yang tak pernah mereka rasakan di ruang kelas atau ruang keluarga.
Orang Tua dan Jam yang Terlewat
Namun dini hari selalu membawa pertanyaan yang lebih sunyi: bagaimana mungkin anak-anak itu keluar rumah pukul dua atau tiga pagi tanpa diketahui?
Pengawasan bukan sekadar membatasi, melainkan menemani. Ketika orang tua terlalu lelah, terlalu sibuk, atau terlalu permisif dengan dalih “namanya juga anak muda,” celah itu menjadi ruang bagi risiko. Pembiaran yang tampak kecil—mengizinkan nongkrong tanpa jam jelas, membiarkan sepeda motor dipakai tanpa tujuan—perlahan berubah menjadi kebiasaan yang berbahaya.
Rumah seharusnya menjadi tempat pulang, bukan sekadar tempat singgah sebelum petualangan malam dimulai.
Pergeseran Makna dan Disorientasi Nilai
Sarung, dalam tradisi kita, bukan sekadar kain. Ia hadir dalam shalat, dalam taklim, dalam suasana kampung yang teduh. Ketika sarung berubah menjadi senjata, ada yang retak dalam kesadaran kolektif kita.
Ini bukan hanya soal remaja nakal. Ini soal bagaimana simbol kebaikan dapat direbut maknanya oleh solidaritas kelompok yang keliru. Di tengah semangat kebersamaan yang salah arah, kekerasan dibingkai sebagai loyalitas.
Padahal, loyalitas sejati tidak pernah meminta darah.
Antara Ketegasan dan Harapan
Tindakan tegas aparat tentu diperlukan. Pembubaran, penangkapan, pembinaan—semuanya adalah upaya mencegah eskalasi. Karena perang sarung yang dibiarkan bisa menjelma tawuran dengan senjata tajam, bisa menyisakan luka permanen, bahkan kehilangan nyawa.
Namun hukum hanyalah pagar. Ia mencegah jatuh, tetapi tidak otomatis menumbuhkan.
Yang lebih mendesak adalah membangun kembali ekosistem yang sehat:
ketegasan yang hangat di rumah, relevansi pendidikan yang memahami bahasa remaja, masjid yang tak hanya mengundang datang tetapi juga mengajak terlibat, serta ruang publik yang memberi panggung bagi kreativitas, bukan agresivitas.
Energi muda pada dasarnya bukan ancaman. Ia adalah bahan bakar peradaban. Jika diarahkan, ia bisa menjadi prestasi olahraga, karya seni, inovasi teknologi, atau gerakan sosial yang mencerahkan. Jika dibiarkan tanpa arah, ia mudah tersulut menjadi bara.
Di ujung dini hari, sebelum matahari terbit, selalu ada pilihan: membiarkan gelap berkuasa, atau menyalakan cahaya. Perang sarung mungkin tampak sebagai kenakalan musiman, tetapi di dalamnya tersimpan pesan yang lebih dalam—bahwa generasi ini sedang mencari makna, dan tugas kitalah memastikan mereka menemukannya di tempat yang benar.
Sebab pada akhirnya, yang perlu kita selamatkan bukan hanya ketertiban jalanan, melainkan masa depan anak-anak itu sendiri. (mac)

