spot_img
BerandaHumanioraKetika Kepura-puraan Menyamar sebagai Kebaikan

Ketika Kepura-puraan Menyamar sebagai Kebaikan

Kejujuran tidak selalu indah. Ia bisa melukai, bisa mengecewakan, bahkan bisa membuat kita kehilangan sesuatu. Tetapi dari kejujuranlah kepercayaan tumbuh. Dari kepercayaanlah hubungan menemukan maknanya. Dan dari makna, manusia belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Oleh: Adreena Adilla

LESINDO.COM – Pagi itu, di sebuah ruang tunggu yang sunyi, seorang perempuan paruh baya tersenyum kepada semua orang. Senyumnya hangat, tutur katanya lembut, sikapnya seolah penuh perhatian. Tak ada yang curiga. Namun, di balik keramahannya, tersimpan cerita tentang janji-janji yang tak pernah ditepati, tentang bantuan yang hanya sebatas kata, dan tentang empati yang berhenti pada basa-basi.

Di dunia yang kian gemar memamerkan kebaikan, kepura-puraan sering tampil dengan wajah yang paling meyakinkan. Ia tidak berteriak. Ia tidak melukai secara kasatmata. Ia datang dengan nada sopan, dengan bahasa manis, dengan citra yang tampak bersih. Namun perlahan, tanpa disadari, ia mengikis kepercayaan—fondasi paling rapuh sekaligus paling penting dalam hubungan manusia.

Kepura-puraan tidak selalu berwujud dusta yang kasar. Ia justru hidup dari kehalusan. Dari kalimat yang seolah tulus, tetapi hampa makna. Dari gestur yang tampak peduli, tetapi tak pernah benar-benar hadir. Dari sikap yang ingin terlihat baik, namun enggan memikul konsekuensi kebaikan itu sendiri.

Di balik kebaikan yang dibuat-buat, kebohongan bekerja dengan sunyi. Ia menyesatkan hati, membingungkan nurani, dan membuat kebenaran kehilangan tempatnya di ruang bersama. Ketika topeng kebaikan dipakai terlalu lama, manusia pun lupa pada wajah aslinya. Yang tersisa hanyalah peran—rapi, terlatih, namun kosong.

Seorang psikolog pernah berkata, manusia bisa memaafkan kesalahan, tetapi sulit memaafkan kepalsuan. Sebab kesalahan lahir dari ketidaksempurnaan, sementara kepalsuan lahir dari pilihan. Di situlah letak luka yang paling dalam. Bukan karena kita dikhianati, melainkan karena kita pernah percaya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kepura-puraan sering kita jumpai dalam bentuk sederhana: janji untuk “selalu ada” yang tak pernah ditepati, simpati yang hanya muncul saat ada penonton, atau kebaikan yang disebarkan demi pujian. Dunia modern, dengan segala panggungnya, kerap mengajarkan bahwa citra lebih penting daripada niat, bahwa terlihat baik lebih bernilai daripada benar-benar berbuat baik.

Namun, di antara riuhnya kepalsuan, ketulusan tetap hidup—meski sunyi. Ia tidak mencari sorotan. Ia tidak menuntut pengakuan. Ia hadir dalam tindakan kecil yang konsisten, dalam kejujuran yang kadang terasa pahit, dalam kesediaan untuk berkata “tidak” demi menjaga kebenaran.

Kejujuran tidak selalu indah. Ia bisa melukai, bisa mengecewakan, bahkan bisa membuat kita kehilangan sesuatu. Tetapi dari kejujuranlah kepercayaan tumbuh. Dari kepercayaanlah hubungan menemukan maknanya. Dan dari makna, manusia belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Karena itu, kebijaksanaan menuntun manusia untuk memilih kejujuran yang sederhana daripada kebaikan yang dipentaskan. Di tengah dunia yang gemar bersandiwara, keberanian untuk menjadi jujur adalah bentuk perlawanan yang paling halus—namun paling kuat.

Ketulusan memang tidak bersuara lantang. Ia tidak selalu dipuji. Tetapi darinyalah lahir kepercayaan, kedamaian, dan hidup yang bermakna. Dalam diamnya, ketulusan mengajarkan satu hal penting: bahwa menjadi manusia seutuhnya bukan soal terlihat baik, melainkan tentang berani menjadi benar.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments