LESINDO.COM – Pagi itu datang seperti biasa, tapi rasanya tidak pernah benar-benar sama. Di dalam diri manusia, selalu ada sesuatu yang bergerak—kadang pelan seperti riak, kadang menggelora seperti ombak yang kehilangan arah. Kita menyebutnya keinginan. Kita merasakannya sebagai kegelisahan.
Manusia, pada dasarnya, adalah samudra yang tak pernah benar-benar tenang.
Di satu masa, hidup terasa seirama. Keinginan-keinginan tumbuh dalam bentuk yang hampir serupa: bekerja untuk mencukupi kebutuhan, membangun keluarga, merancang masa depan yang dianggap ideal. Pada fase ini, manusia seperti berada dalam satu gelombang besar—bergerak bersama, saling menguatkan, dan percaya bahwa arah yang ditempuh adalah arah yang pasti.
Ada rasa kebersamaan yang menenangkan. Seolah hidup telah menemukan polanya.
Namun waktu, seperti angin yang tak pernah bisa ditebak, perlahan mengubah arah arus itu.
Satu per satu, keinginan mulai mengambil bentuknya sendiri. Apa yang dulu terasa sama, kini menjadi berbeda. Ada yang tetap setia pada mimpi lamanya, menjaganya seperti api kecil yang tak boleh padam. Ada pula yang diam-diam berbelok, mencari makna baru dari hidup yang tak lagi terasa cocok dengan jalan sebelumnya.
Di titik inilah, manusia mulai berhadapan dengan dirinya sendiri.
Keinginan tak lagi sekadar tentang “apa yang ingin dicapai,” tetapi berubah menjadi pertanyaan yang lebih dalam: apakah ini benar-benar jalan yang aku inginkan?
Bersamaan dengan itu, kegelisahan datang tanpa permisi.
Kadang ia hadir beramai-ramai. Pikiran terasa penuh, hari-hari berjalan cepat namun berat. Tuntutan hidup, harapan orang lain, ketakutan akan masa depan—semuanya seperti berkumpul dalam satu ruang sempit di kepala. Tidak ada jeda, tidak ada ruang untuk bernapas. Dalam keadaan seperti ini, manusia sering merasa seolah sedang berdiri di persimpangan, tapi tanpa petunjuk arah.
Langkah terasa ragu. Pilihan terasa menakutkan.
Namun anehnya, ada masa lain ketika semua itu justru menghilang.
Keinginan mereda, kegelisahan seolah menjauh. Yang tersisa hanyalah ruang kosong—hening, luas, dan kadang membingungkan. Tidak ada yang mendesak, tidak ada yang harus dikejar. Tapi justru di situlah muncul rasa asing: mengapa hidup terasa begitu sunyi?
Tidak semua kekosongan menenangkan. Sebagian justru mengundang pertanyaan yang lebih sunyi daripada kesibukan itu sendiri.
Di antara dua keadaan itu—ramai yang menyesakkan dan sepi yang mengasingkan—manusia terus berjalan. Belajar memahami bahwa hidup bukan tentang memilih salah satu, melainkan menerima keduanya sebagai bagian dari perjalanan.
Bahwa keinginan yang bertumpuk bukan selalu pertanda kita harus berlari lebih cepat. Dan kekosongan yang datang bukan berarti kita kehilangan arah.
Barangkali, hidup memang tentang bergerak di antara keduanya.
Tentang memahami kapan harus mengejar, dan kapan harus berhenti sejenak. Tentang menerima bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi sekaligus, dan tidak semua kegelisahan harus diselesaikan hari ini juga.
Pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar menetap dalam satu keadaan. Ia akan selalu berubah, seperti samudra yang dipengaruhi angin, waktu, dan kedalaman dirinya sendiri.
Dan mungkin, di setiap persimpangan itu, yang paling penting bukanlah memilih jalan yang paling benar—melainkan berani melangkah, sambil tetap mendengarkan suara hati yang paling jujur. (Ags)

