spot_img
BerandaHumanioraKetika Kebaikan Tak Menemukan Tanahnya

Ketika Kebaikan Tak Menemukan Tanahnya

Padahal, benih yang baik tetaplah benih yang baik. Ia masih memiliki potensi untuk tumbuh di tempat lain. Menjaga hati agar tidak ikut menjadi tanah yang keras adalah kemenangan batin yang sunyi namun agung.

Oleh: Lembah Manah

LESINDO.COM –  Ada masa ketika seseorang menanam dengan sepenuh hati. Ia menaburkan perhatian, ketulusan, waktu, bahkan doa. Ia menyiramnya dengan harapan dan merawatnya dengan kesabaran. Namun yang tumbuh bukanlah bunga, melainkan duri. Yang muncul bukanlah balasan hangat, melainkan sikap dingin yang menyakitkan. Pada saat itu, hati mudah diliputi tanya yang getir: mengapa kebaikan justru berbuah keburukan?

Kisah seperti ini bukan milik satu dua orang. Ia hidup di ruang-ruang sunyi: dalam relasi pertemanan yang timpang, dalam keluarga yang tidak saling memahami, dalam percintaan yang berat sebelah, bahkan dalam lingkungan kerja yang tak mengenal apresiasi. Di sanalah seseorang mulai meragukan nilai kebaikan itu sendiri. Ia bertanya, apakah menjadi tulus masih relevan di dunia yang tak selalu adil?

Secara psikologis, pengalaman semacam ini mengguncang fondasi kepercayaan. Kita tidak hanya kecewa pada orang lain, tetapi juga pada pilihan hati kita sendiri. Ada rasa bersalah karena telah memberi terlalu banyak. Ada rasa malu karena merasa “tertipu” oleh harapan yang kita bangun sendiri. Kekecewaan itu perlahan bisa berubah menjadi jarak—jarak dari orang lain, bahkan dari diri sendiri.

Namun dalam kenyataannya, interaksi manusia tidak selalu berjalan dalam hukum timbal balik yang ideal. Tidak semua relasi tumbuh di tanah yang subur. Ada ruang yang sejak awal rapuh, ada pula yang telah lama kehilangan daya hidupnya. Memahami perbedaan ini bukan untuk menumbuhkan sinisme, melainkan untuk menumbuhkan kebijaksanaan dalam memberi.

Kebaikan yang Bukan Transaksi

Sering kali tanpa sadar kita menanam dengan harapan tertentu. Kita berharap dihargai, dipahami, atau dibalas dengan perlakuan serupa. Ketika harapan itu tak terwujud, luka terasa lebih dalam karena kita merasa dirugikan.

Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri: apakah kebaikan itu murni, ataukah ada kontrak tak tertulis di dalamnya? Kebaikan sejatinya bukan transaksi. Ia adalah ekspresi nilai batin. Jika ia sepenuhnya bergantung pada respons orang lain, ia akan mudah goyah. Namun jika ia lahir dari kesadaran, ia tetap bernilai—meski tak selalu berbuah seperti yang diinginkan.

Tanah yang Belum Siap

Ada orang yang belum selesai dengan luka masa lalunya. Ada yang terbiasa hidup dalam kecurigaan dan kepahitan. Dalam kondisi seperti itu, kebaikan sering ditafsirkan keliru. Ketulusan dianggap kelemahan. Kepedulian dianggap kepentingan tersembunyi.

Lingkungan yang keras membentuk karakter yang defensif. Mereka tidak menolak karena kita buruk, tetapi karena mereka belum siap menerima. Benih yang baik pun tak akan tumbuh di tanah yang belum diolah. Kegagalan bertumbuh bukan selalu kesalahan benih.

Kesadaran ini penting agar kita tidak buru-buru menyalahkan diri. Ada hal-hal yang memang berada di luar kendali kita.

Memilih Lahan dengan Bijak

Menjadi baik bukan berarti tanpa batas. Energi, waktu, dan perhatian adalah sumber daya berharga. Memberikannya tanpa pertimbangan bisa membuat kita kelelahan secara emosional.

Kebijaksanaan hadir ketika kita mampu memilih lahan. Kita tetap menanam, tetapi dengan kesadaran. Kita tetap memberi, tetapi tidak memaksakan diri pada ruang yang terus-menerus menolak. Ini bukan tentang berhenti berbuat baik, melainkan tentang menempatkan kebaikan pada ruang yang memungkinkan ia bertumbuh.

Ada keberanian dalam keputusan untuk melangkah pergi. Bukan karena benci, melainkan karena sadar bahwa kita juga berhak atas tanah yang subur.

Menjaga Benih Tetap Hidup

Bahaya terbesar bukanlah ketika kebaikan tidak tumbuh, melainkan ketika kita berhenti menanam sama sekali. Kekecewaan yang berulang dapat mengeras menjadi kepahitan. Dari sana, hati perlahan menutup diri.

Padahal, benih yang baik tetaplah benih yang baik. Ia masih memiliki potensi untuk tumbuh di tempat lain. Menjaga hati agar tidak ikut menjadi tanah yang keras adalah kemenangan batin yang sunyi namun agung.

Tidak semua ruang ditakdirkan untuk kita. Tidak semua orang mampu mengolah kebaikan yang kita beri. Menerima kenyataan ini bukan tanda menyerah, melainkan tanda dewasa. Kita melangkah tanpa membawa dendam, tanpa menanam keburukan sebagai balasan.

Pada akhirnya, pertanyaannya menjadi lebih jernih: apakah kita kecewa karena kebaikan tidak dihargai, atau karena kita lupa memilih di mana seharusnya kebaikan itu ditanam?

Dalam hidup, mungkin yang paling penting bukanlah seberapa banyak kita menanam, melainkan seberapa bijak kita memilih ladang. Sebab kebaikan yang ditempatkan di ruang yang tepat, pada waktunya, akan menemukan caranya sendiri untuk berbunga.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments