spot_img
BerandaJelajahKetika Empati Berhadapan dengan Pasal

Ketika Empati Berhadapan dengan Pasal

Kita hidup di masa ketika hukum seharusnya melindungi yang lemah, namun sering kali justru membuat orang takut berbuat baik. Masyarakat akhirnya memilih aman, meski harus mengorbankan suara hati.

LESINDO.COM – Zaman ini, menolong bukan lagi perkara sederhana.
Di tengah maraknya kejahatan, keberanian justru sering dibalas dengan ancaman hukum. Banyak orang ingin berbuat, namun ragu karena takut salah langkah.

Sebuah peristiwa di Yogyakarta memperkuat rasa takut itu. Seorang pelaku begal yang melaju kencang terserempet mobil, terpental ke tembok, dan meninggal dunia. Orang yang berusaha menghentikan laju kejahatan justru harus menghadapi pasal-pasal hukum lalu lintas.

Pesan itu sampai ke masyarakat tanpa perlu disuarakan:
Menolong bisa menyeretmu ke ruang sidang.

Sejak itu, empati berubah menjadi kebimbangan. Kepedulian terbungkus rasa cemas. Masyarakat tak kehilangan nurani—mereka kehilangan rasa aman untuk mengekspresikannya.

Di Antara Jerit dan Sunyi

Malam ketika Briptu AA terkapar, warga yang melihatnya bukanlah orang-orang tanpa belas kasih. Mereka juga manusia. Mereka juga punya keluarga, tanggung jawab, dan rasa takut akan masa depan.

Di kepala mereka, mungkin berkecamuk pertanyaan:
Bagaimana jika saya salah?
Bagaimana jika saya dianggap terlibat?
Bagaimana jika saya justru jadi tersangka?

Dalam hitungan menit yang terasa seperti jam, keraguan mengalahkan keberanian. Dan di sanalah tragedi itu terjadi—bukan hanya pada tubuh Briptu AA, tetapi juga pada hati banyak orang.

Luka yang Tak Terlihat

Bagi keluarga Briptu AA, peristiwa itu adalah pilu yang tak terukur. Bukan hanya karena kehilangan, tetapi karena mengetahui bahwa ia sempat meminta tolong—dan tidak ada yang datang.

Kesedihan itu bukan milik satu keluarga saja. Polisi yang mendengar kisah ini pun mengaku terpukul. Bukan karena mereka kehilangan rekan, tetapi karena melihat bagaimana rasa sosial di tengah masyarakat kian rapuh.

Peristiwa ini adalah cermin.
Cermin yang menunjukkan bahwa ketakutan kini lebih kuat daripada empati.

Menjadi Manusia di Zaman yang Takut

Kita hidup di masa ketika hukum seharusnya melindungi yang lemah, namun sering kali justru membuat orang takut berbuat baik. Masyarakat akhirnya memilih aman, meski harus mengorbankan suara hati.

Padahal, menolong bukan kejahatan.
Peduli bukan pelanggaran.

Jika rasa takut terus menguasai, maka kejahatan akan merasa menang—bukan karena kuat, tetapi karena kita diam.

Karena pada akhirnya, yang terluka bukan hanya korban di jalanan,
melainkan juga nurani kita yang perlahan memudar.

Dan mungkin, luka itu yang paling sulit disembuhkan.(Mey)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments