spot_img
BerandaHumanioraKetika Dunia Tak Lagi Menampungmu

Ketika Dunia Tak Lagi Menampungmu

Ketika seseorang benar-benar patah hati pada dunia, dunia tak lagi punya kuasa untuk menyakitinya. Ia tak lagi menggantungkan makna hidup pada yang fana. Ia belajar bahwa kehilangan bukan akhir, melainkan pintu. Bahwa runtuh bukan berarti selesai, melainkan sedang dibangun ulang—dengan fondasi yang lebih dalam.

Oleh: M. Abiyasa

LESINDO.COM – Suatu sore yang lengang, seorang lelaki duduk sendiri di beranda rumahnya. Rumah itu masih sama: cat dindingnya tak berubah, kursi rotannya tetap menghadap jalan kecil yang sepi. Namun ada yang terasa asing. Ia merasa seperti tamu di rumah sendiri. Rencana-rencana yang pernah ia susun dengan penuh percaya diri kini tinggal lembaran kertas kusut di sudut meja. Orang-orang yang dulu menjadi tempat bersandar perlahan menjauh—tanpa aba-aba, tanpa penjelasan.

“Seperti runtuh bersamaan,” katanya lirih.

Ada satu masa dalam hidup ketika dunia seakan tak lagi menampungmu. Ketika pencapaian yang dulu dibanggakan berubah hambar. Ketika tepuk tangan tak lagi menggetarkan dada. Pada titik itu, kita merasa dikhianati oleh kehidupan—seolah-olah segala yang dibangun dengan doa dan keringat menguap begitu saja.

Namun barangkali, justru di situlah perjalanan sejati dimulai.

Penyair sufi dari Persia, Jalaluddin Rumi, pernah menulis bahwa cahaya masuk melalui retakan. Sebuah kalimat yang terdengar puitis, tetapi menyimpan kedalaman makna. Jika hati tak pernah retak, bagaimana cahaya akan menemukan celah untuk menyusup? Jika hidup selalu utuh dan rapi, kapan jiwa belajar untuk berserah?

Cemburu yang Menyelamatkan

Dalam tradisi spiritual, ada ungkapan tentang “cemburu Ilahi”—sebuah metafora yang tak mudah dipahami jika dilihat dengan kacamata dunia. Bayangkan seorang pecinta yang sangat mencintai, hingga ia tak rela kekasihnya menaruh hati pada yang lain. Ia tak ingin namanya tergantikan, tak ingin posisinya diduakan.

Begitulah, para arif menggambarkan cara Allah mencintai hamba-Nya.

Ketika manusia terlalu asyik bercengkerama dengan “perhiasan” dunia—jabatan yang melenakan, harta yang memabukkan, atau validasi manusia yang semu—maka satu per satu sandaran itu dilepaskan. Bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menyelamatkan. Bukan untuk merendahkan, tetapi untuk mengembalikan.

Sering kali kita menyebutnya kegagalan. Padahal mungkin itu adalah penertiban kasih sayang.

Patah hati pada dunia, dalam kacamata ini, bukanlah hukuman. Ia adalah cara Tuhan berbisik:
Jangan letakkan hatimu pada sesuatu yang bisa hancur. Engkau diciptakan untuk Yang Kekal.

Disapih dari Ketergantungan

Seorang ibu menyapih anaknya bukan karena benci, tetapi karena cinta yang lebih dewasa. Tangisan sang bayi terdengar pilu, seolah dunia runtuh. Padahal di balik itu, ada tahap pertumbuhan yang sedang dimulai.

Begitu pula jiwa manusia. Ada masa ketika ia “disapih” dari ketergantungan pada makhluk. Ia dipaksa melepaskan sandaran yang selama ini dianggap pasti. Ia dikeluarkan dari kerumunan agar bisa mendengar suara yang lebih sunyi—suara yang tak bersumber dari luar, melainkan dari dalam.

Di saat itulah, tangisan berubah makna. Ia bukan lagi sekadar ratapan kehilangan dunia, melainkan kerinduan akan asal-usul. Setiap kekecewaan pada manusia terasa seperti undangan halus untuk kembali. Setiap kegagalan menjadi cara-Nya menarik kita menjauh dari gemuruh agar dapat mengenali-Nya dengan lebih jernih.

Barangkali memang kita harus kehilangan banyak hal, agar akhirnya menemukan yang paling penting.

Patah yang Menumbuhkan

Luka sering kali kita kutuk. Kita ingin ia segera hilang, secepat mungkin. Namun tanpa retak, cahaya tak akan masuk. Tanpa patah, hati tak akan lentur.

Ada patah yang menghancurkan, tetapi ada pula patah yang memerdekakan.

Ketika seseorang benar-benar patah hati pada dunia, dunia tak lagi punya kuasa untuk menyakitinya. Ia tak lagi menggantungkan makna hidup pada yang fana. Ia belajar bahwa kehilangan bukan akhir, melainkan pintu. Bahwa runtuh bukan berarti selesai, melainkan sedang dibangun ulang—dengan fondasi yang lebih dalam.

Maka jika hari ini dunia terasa sempit, jika langkah terasa berat dan dada dipenuhi sesak yang tak terucap, mungkin itu bukan tanda ditinggalkan. Mungkin justru sedang dipanggil pulang.

Dan di sanalah, dalam keheningan yang paling sunyi, seseorang menemukan bahwa ia tak pernah benar-benar sendirian.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments