spot_img
BerandaHumanioraKetika Direndahkan dan Dunia Tetap Bertepuk Tangan

Ketika Direndahkan dan Dunia Tetap Bertepuk Tangan

Kerendahan di mata manusia sering menjadi ruang sunyi tempat karakter dibentuk. Di sana, kesabaran dilatih, keikhlasan dimurnikan, dan kesadaran tumbuh bahwa hidup bukan panggung untuk membuktikan kehebatan, melainkan perjalanan untuk mematangkan makna.

LESINDO.COM – Ada masa ketika seseorang merasa hidupnya seperti panggung yang lampunya tiba-tiba padam. Ia berdiri di tengah, namun tak lagi terlihat. Tepuk tangan berhenti, pujian menguap, dan dunia—yang biasanya ramah—mendadak sibuk dengan urusannya sendiri. Di situlah, konon, Tuhan sedang bekerja. Bukan sebagai sutradara yang kejam, melainkan editor yang mencoret bagian-bagian berisik dari naskah hidup.

Ironisnya, manusia sering baru mengaku “ikhlas” justru setelah tidak ada lagi yang bisa dipamerkan. Selama pujian masih mengalir, kerendahan hati terasa seperti aksesori: dipakai saat perlu, dilepas saat kamera menyala. Baru ketika dipinggirkan, kita belajar bahwa iman tidak membutuhkan mikrofon, dan amal tidak memerlukan siaran langsung.

Kerendahan di mata manusia kerap disalahpahami sebagai kegagalan. Padahal, ia lebih mirip ruang tunggu—sunyi, membosankan, dan tanpa dekorasi. Di sana, kesabaran diuji bukan dengan musibah besar, melainkan dengan hal remeh: diabaikan, diremehkan, tak dianggap penting. Ujian paling sunyi adalah tetap lurus saat tak ada yang menonton.

Di ruang itulah karakter dibentuk. Bukan dengan seminar motivasi atau kutipan mutiara, tetapi dengan hari-hari biasa yang tak mendapat sorotan. Jiwa dilatih untuk bekerja tanpa tepuk tangan, berdoa tanpa panggung, dan berbuat baik tanpa harus dibagikan. Sebuah latihan yang terasa kuno di zaman ketika nilai diri sering diukur dari jumlah “like” dan panjang antrean pujian.

Lalu Tuhan meninggikan—bukan dengan baliho atau gelar, melainkan dengan sesuatu yang tidak bisa dipamerkan: ketenangan batin. Sebuah kemewahan yang tak laku dijual, namun mahal nilainya. Datang pula kebijaksanaan, yang membuat seseorang tahu kapan harus berbicara dan kapan memilih diam, kapan tampil, dan kapan cukup menjadi latar.

Satirnya, dunia mungkin tetap tidak bertepuk tangan. Namun justru di situlah kemuliaan menemukan tempatnya. Bukan pada sorak-sorai, melainkan pada kepercayaan Tuhan bahwa seseorang layak memikul hidup—dengan rendah hati, penuh tanggung jawab, dan tanpa perlu meyakinkan siapa pun bahwa ia sedang “baik-baik saja”.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan panggung bakat. Ia lebih menyerupai perjalanan sunyi, di mana yang paling penting bukan siapa yang paling tinggi terlihat, tetapi siapa yang tetap tegak meski tak lagi disorot lampu.

Kadang Allah merendahkan kita di hadapan manusia bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk melepaskan hati dari ketergantungan pada pujian. Dalam keadaan itu, jiwa belajar bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh tepuk tangan dunia, tetapi oleh ketulusan di hadapan-Nya.

Kerendahan di mata manusia sering menjadi ruang sunyi tempat karakter dibentuk. Di sana, kesabaran dilatih, keikhlasan dimurnikan, dan kesadaran tumbuh bahwa hidup bukan panggung untuk membuktikan kehebatan, melainkan perjalanan untuk mematangkan makna.

Ketika hati telah bersedia direndahkan, Tuhan meninggikannya dengan cara yang lebih dalam: ketenangan batin, kebijaksanaan, dan arah hidup yang jernih. Sebab kemuliaan sejati bukan soal terlihat tinggi, melainkan layak dipercaya oleh Tuhan untuk memikul kehidupan dengan rendah hati dan penuh tanggung jawab.(Rai)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments