LESINDO.COM – Bukit Mongkrang selama ini dikenal ramah. Ramah bagi pemula, ramah bagi akhir pekan, ramah bagi unggahan media sosial. Ketinggiannya 2.194 mdpl—cukup tinggi untuk merasa “menaklukkan alam”, tapi cukup jinak untuk diyakini aman tanpa banyak tanya. Sampai Yasid Ahmad Firdaus hilang, dan keramahan itu mendadak bisu.
Minggu pagi, 18 Januari 2026, pendakian dimulai seperti brosur wisata: berangkat pukul 06.30, puncak pukul 08.00. Alam tampak patuh pada jadwal manusia. Masalah baru muncul ketika turun—fase yang sering dianggap formalitas, seolah gunung sudah menyerah dan tinggal ditinggalkan. Di atas Pos 3, rombongan terpisah. Dua menunggu di basecamp, satu tiba, satu tak pernah sampai. Di situlah narasi berubah dari “pendakian ringan” menjadi “operasi pencarian”.
Sekitar 200 relawan dikerahkan. Enam Search and Rescue Unit (SRU) bergerak. Drone terbang, IMEI dilacak, K9 mengendus. Negara hadir lengkap dengan akronimnya. Teknologi berputar seperti etalase pameran: kamera dari udara, data dari menara sinyal, moncong anjing yang terlatih. Namun hujan dan kabut—dua hal yang tak pernah membaca SOP—menutup panggung. Alam, sekali lagi, tidak ikut rapat koordinasi.
Radius pencarian diperluas dari 400 menjadi 600 meter. Angka-angka itu terdengar presisi, seakan jarak bisa menaklukkan ketidakpastian. Jalur sungai disisir, punggungan disusuri, Bukit Mitis ikut dicurigai. Gunung berubah menjadi peta hipotesis. Setiap lembah menyimpan kemungkinan, setiap belokan menyimpan harap. Tapi harap, seperti sinyal ponsel, sering putus di tempat-tempat tinggi.
Yasid bukan pendaki ekstrem. Ia lulusan Politeknik STTT Bandung, mantan pekerja tekstil yang baru saja terkena efisiensi—kata halus untuk sebuah pemutusan. Ia mendaki sambil menunggu panggilan kerja. Ironisnya, ia menghilang di saat hidupnya menunggu ditemukan kembali. Di basecamp, ayahnya menyebut nama pabrik, kota tujuan, dan rencana wawancara—detail-detail dunia kerja yang terasa sangat datar ketika berhadapan dengan kabut.
Di sinilah satire menjadi pahit: kita hidup di zaman teknologi tinggi, tetapi keselamatan di alam masih bertumpu pada asumsi “jalur ini ramah”. Kita rajin memproduksi konten, tapi malas memproduksi kewaspadaan. Kita percaya pada drone, tetapi lupa pada jarak aman antaranggota. Kita hafal ketinggian mdpl, namun sering lupa bahwa turun gunung bukan penutup acara, melainkan bab yang paling rawan.
Bukit Mongkrang tidak berubah. Ia tetap gunung. Yang berubah adalah cara kita memandangnya—atau gagal memandangnya. Hilangnya Yasid adalah pengingat keras bahwa keramahan alam sering kali hanya pantulan kepercayaan diri manusia. Dan ketika pantulan itu pecah, yang tersisa hanyalah sunyi, kabut, dan pencarian yang tak bisa dijadwalkan.
Di tengah hiruk-pikuk SRU dan pernyataan resmi, gunung tetap diam. Mungkin karena ia tak perlu menjelaskan apa pun. Yang perlu belajar, sekali lagi, adalah kita.(Hib)

