LESINDO.COM – Di sebuah pagi berkabut di lereng gunung, seorang tetua adat menaburkan bunga di kaki batu tua yang telah berlumut. Tangannya gemetar, bukan karena usia semata, melainkan karena ia sedang menyapa sesuatu yang tak kasat mata—roh leluhur yang dipercaya masih menjaga desa itu sejak ratusan tahun silam.
Bagi sebagian orang modern, batu hanyalah batu. Namun bagi masyarakat Nusantara purba, ia adalah pintu. Gerbang antara yang hidup dan yang telah pulang.
Sebelum Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen menjejakkan kaki di kepulauan ini, masyarakat Nusantara telah lebih dulu memiliki sistem kepercayaan yang bukan sekadar agama, melainkan cara hidup. Para ahli menyebutnya animisme dan dinamisme. Namun bagi mereka yang menjalaninya, ini adalah bahasa sunyi antara manusia, alam, dan semesta.
Alam sebagai Kitab Suci
Hutan bukan sekadar ruang hijau. Gunung bukan hanya tumpukan tanah. Sungai bukan cuma aliran air.
Dalam kepercayaan asli, semua memiliki jiwa. Setiap pohon besar dipercaya memiliki penjaga. Setiap mata air menyimpan kesucian. Bahkan batu yang berdiri sendirian di tengah ladang, dianggap sebagai saksi perjalanan manusia lintas generasi.
Kepercayaan ini berakar pada keyakinan bahwa hidup tidak berdiri sendiri. Ia terhubung oleh benang halus antara yang terlihat dan yang tak terlihat.
Di sanalah tumbuh tiga pilar utama:
penghormatan pada roh leluhur, kesakralan alam, dan kekuatan gaib yang disebut mana—energi yang bersemayam dalam benda, tempat, dan peristiwa.
Para Penjaga yang Tak Pernah Pergi
Di Baduy, masyarakat Sunda Wiwitan masih menjaga ajaran Sang Hyang Kersa dengan kesederhanaan yang nyaris asketis. Di Sumba, suara gong dan darah hewan kurban masih mengalir dalam ritual Marapu. Di Tanah Batak, nyanyian Parmalim menggema untuk Mulajadi na Bolon. Di Kalimantan, orang Dayak memanggil Ranying Hatalla Langit dalam upacara Kaharingan.
Dan di Jawa, Kejawen hidup dalam keseharian: dalam laku tirakat, dalam semedi, dalam keyakinan bahwa manusia adalah tamu di semesta yang luas.
Mereka bukan sisa masa lalu. Mereka adalah denyut yang masih bertahan.
Batu-Batu yang Masih Mengingat
Jejak kepercayaan itu tertanam dalam batu. Punden berundak yang menjadi cikal bakal candi. Menhir yang berdiri seperti jari waktu yang menunjuk ke langit. Sarkofagus yang menyimpan tulang dan bekal kubur—bukti bahwa kematian bukan akhir, melainkan perjalanan pulang.
Di balik sunyi megalitikum, tersimpan doa-doa yang tak pernah dituliskan, namun diwariskan dari mulut ke mulut, dari darah ke darah.
Warisan yang Berasimilasi
Agama-agama besar datang membawa kitab dan tata ibadah baru. Namun kepercayaan lama tidak musnah. Ia menyatu, beradaptasi, menjelma dalam tradisi: tahlilan, sesaji, slametan, ziarah kubur.
Seperti sungai yang tak pernah berhenti, kepercayaan itu mengalir—kadang tersembunyi, kadang tampak—namun selalu hidup.
Dan mungkin, di tengah dunia yang makin bising, kita masih membutuhkan bisikan tua itu: bahwa hidup bukan hanya tentang menguasai, tetapi tentang menghormati. Bahwa alam bukan benda mati, melainkan rumah yang juga bernapas.
Karena jauh sebelum kita mengenal Tuhan dalam nama-nama besar, alam telah lebih dulu mengajarkan manusia cara berdoa. (Amy)

