spot_img
BerandaHumanioraKesombongan: Ketika Pengetahuan Setetes Mengaku Samudra

Kesombongan: Ketika Pengetahuan Setetes Mengaku Samudra

Kesombongan tumbuh subur ketika manusia rajin memamerkan kelebihan dan tekun menyembunyikan kelemahan. Ia lupa bahwa akal bukan mahkota, melainkan alat yang rapuh. Sedikit tekanan, sedikit kritik, langsung retak.

LESINDO.COM – Manusia adalah makhluk belajar. Sayangnya, sebagian berhenti belajar tepat ketika merasa sudah tahu. Di titik itulah kesombongan lahir—bukan sebagai tanda kecerdasan, melainkan sebagai bukti bahwa kesadaran belum sempat tumbuh, sudah keburu berlagak dewasa.

Di zaman ini, orang tidak perlu memahami banyak hal untuk merasa pintar. Cukup satu dua istilah asing, satu kutipan filsuf yang dihafal separuh, atau satu keberhasilan kecil yang diumumkan besar-besaran. Sisanya adalah keberanian menghakimi dunia.

Pengetahuan Dangkal, Kepercayaan Diri Maksimal
Ada orang yang baru menyentuh permukaan ilmu, tapi sudah bertingkah seperti penjaga kebenaran. Ia belum berenang jauh, namun mengaku paham arah arus samudra. Sedikit pengetahuan terasa mutlak karena belum pernah dihadapkan pada luasnya ketidaktahuan.

Inilah ironi intelektual: semakin sempit wawasan, semakin keras suara. Yang benar-benar paham justru sibuk ragu, sementara yang belum tahu apa-apa tampil paling yakin.

Keberhasilan Kecil, Ego Membumbung Tinggi
Satu keberhasilan singkat sering disalahartikan sebagai bukti keunggulan abadi. Gelar, jabatan, atau pujian sesaat dipakai sebagai lisensi untuk merendahkan yang lain. Seolah hidup berhenti di momen itu dan dunia wajib mengakuinya.

Padahal, keberhasilan tanpa kebijaksanaan hanyalah kebetulan yang sedang beruntung. Hari ini di puncak, besok bisa jadi catatan kaki—jika sempat diingat.

Merasa Kuat, Lupa Rapuh
Kesombongan tumbuh subur ketika manusia rajin memamerkan kelebihan dan tekun menyembunyikan kelemahan. Ia lupa bahwa akal bukan mahkota, melainkan alat yang rapuh. Sedikit tekanan, sedikit kritik, langsung retak.

Berpikir filosofis seharusnya membuat manusia akrab dengan batas dirinya. Tapi bagi yang sombong, batas itu dianggap hina. Akibatnya, pengetahuan berubah dari cahaya menjadi cermin narsistik.

Pujian Lebih Penting dari Kebenaran
Banyak orang berpikir bukan untuk memahami, tapi untuk dipuji. Ia bicara agar tampak tahu, bukan agar mendekati kebenaran. Fakta dikunyah setengah, lalu disajikan utuh dengan nada yakin.

Di titik ini, akal bukan lagi pencari makna, melainkan pengemis pengakuan. Kebenaran boleh belakangan, asal tepuk tangan didapat di depan.

Mengangkat Diri sebagai Hakim Semesta
Kesombongan membuat seseorang merasa sudut pandangnya adalah standar alam semesta. Pendapat lain dianggap gangguan, kritik diperlakukan sebagai ancaman.

Padahal, kebenaran jarang lahir dari monolog. Ia tumbuh dari perbedaan, dari benturan gagasan. Pikiran yang alergi pada dialog sejatinya sedang mengurung dirinya sendiri.

Pengalaman Hidup yang Tak Pernah Dipelajari
Hidup berkali-kali menunjukkan bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa. Rencana gagal, keadaan berubah, nasib berbelok. Namun, tanpa refleksi, semua itu hanya lewat sebagai kejadian, bukan pelajaran.(Say)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments