spot_img
BerandaHumanioraKesalahan yang Menjadi Takdir (Jika Kita Membiarkannya)

Kesalahan yang Menjadi Takdir (Jika Kita Membiarkannya)

LESINDO.COM – Di sebuah sore yang lengang, ketika azan menggantung pelan di langit kampung, seorang lelaki paruh baya duduk di beranda rumahnya. Wajahnya tidak tampak murung, tetapi ada gurat tipis yang sulit disembunyikan—semacam kelelahan batin yang lahir dari pengulangan. Bukan pengulangan hari, bukan pula pengulangan musim, melainkan pengulangan kesalahan yang sama.

Ia pernah berkata lirih, “Sekali itu khilaf. Dua kali itu lupa. Tiga kali… mungkin memang aku yang memilih.”

Hidup, pada akhirnya, bukan sekadar soal nasib, melainkan soal keputusan-keputusan kecil yang kita ulangi. Dan dari situlah arah perjalanan pelan-pelan ditentukan.

Ketika Kesalahan Menjadi Keputusan

Setiap orang pasti pernah tergelincir. Kata yang terucap terlalu tajam, janji yang terabaikan, kesempatan yang disia-siakan. Namun, ketika kesalahan yang sama dilakukan kembali, di situlah garis tipis antara “tidak sengaja” dan “memilih” mulai terlihat.

Mengulang kesalahan adalah keputusan yang sering kali kita bungkus dengan alasan. Kita berkata, “Keadaan yang memaksa.” Atau, “Memang sudah begini sifatku.” Padahal jauh di dalam hati, kita tahu: ada pilihan lain yang bisa diambil.

Kesadaran inilah yang sering terasa pahit. Sebab mengakui bahwa kita memilih berarti juga mengakui bahwa kita bertanggung jawab.

Ketika Keputusan Menjelma Kebiasaan

Jika kesalahan itu terus diulang, ia tak lagi terasa janggal. Ia menjadi biasa. Dan sesuatu yang biasa perlahan berubah menjadi kebiasaan.

Seorang kawan pernah bercerita tentang kebiasaannya menunda pekerjaan. Awalnya hanya sekali-dua kali. Lama-lama, setiap tugas selalu dikerjakan di ujung waktu. Ia merasa tertekan, tetapi tetap mengulanginya. Tanpa sadar, ia sedang memahat pola dalam dirinya sendiri.

Kebiasaan bekerja dalam diam. Ia tidak gaduh, tidak memaksa. Tetapi ia konsisten. Dan justru karena konsistensinya itulah, ia membentuk arah hidup.

Ketika Kebiasaan Menjadi Karakter

Ada fase yang lebih dalam lagi—ketika kesalahan yang berulang tak lagi dianggap masalah. Ia diterima sebagai “begitulah aku.”

Di titik ini, kebiasaan telah menjelma karakter.

Karakter bukan sesuatu yang turun dari langit begitu saja. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang diulang tanpa refleksi. Dari kebiasaan menghindar, lahir pribadi yang mudah menyerah. Dari kebiasaan menyalahkan, tumbuh watak yang enggan bercermin.

Dan yang lebih mengkhawatirkan, karakter sering kali kita bela mati-matian. Kita merasa diserang ketika dikritik, padahal yang disentuh hanyalah pola yang kita pelihara sendiri.

Benarkah Karakter Sulit Diubah?

Orang Jawa punya ungkapan, “Witing tresna jalaran saka kulina”—cinta tumbuh karena terbiasa. Jika cinta saja bisa lahir dari kebiasaan, bukankah perubahan juga demikian?

Memang benar, karakter tidak mudah diubah. Ia telah berurat-berakar dalam diri. Tetapi sulit bukan berarti mustahil. Yang membuatnya terasa berat adalah karena perubahan menuntut dua hal yang tidak nyaman: kesadaran dan konsistensi.

Kesadaran membuat kita berhenti menyalahkan keadaan. Konsistensi memaksa kita memilih berbeda, meski tidak enak, meski tidak populer, meski harus melawan diri sendiri.

Perubahan karakter tidak terjadi dalam semalam. Ia seperti menanam pohon: perlu waktu, perlu sabar, perlu dirawat. Tetapi setiap keputusan kecil untuk tidak mengulang kesalahan adalah benih yang ditanam.

Memilih Ulang Arah Hidup

Sore itu, lelaki di beranda akhirnya berdiri. Ia menatap jalan yang mulai sepi. Hidup memang tidak bisa diputar kembali, tetapi langkah berikutnya selalu tersedia.

Barangkali, yang menentukan masa depan kita bukanlah satu kesalahan besar, melainkan kesalahan kecil yang kita biarkan tumbuh tanpa koreksi.

Dan mungkin, perubahan tidak harus dimulai dengan sumpah yang gegap-gempita. Cukup dengan satu keputusan sederhana:
hari ini, saya tidak akan mengulanginya lagi.

Karena pada akhirnya, hidup adalah akumulasi dari apa yang kita ulang. Dan di sanalah, takdir pelan-pelan dibentuk—oleh pilihan kita sendiri.(Nel)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments