spot_img
BerandaJelajahKemuliaan yang Lahir dari Sabar dan Qanaah

Kemuliaan yang Lahir dari Sabar dan Qanaah

Orang yang qanaah tampak sederhana, kadang terlalu sederhana untuk zaman yang gemar kemasan mewah. Namun di sanalah kemuliaan bekerja secara diam-diam. Qanaah memberi jarak aman dari kelelahan membandingkan diri, dari ambisi yang tak pernah kenyang. Ia membuat seseorang tetap tegak meski hidup tidak selalu naik pangkat—karena martabat tidak diukur dari grafik, melainkan dari ketenangan.

LESINDO.COM – Di zaman ketika kesabaran dianggap gangguan koneksi dan qanaah disalahpahami sebagai kurang ambisi, dua sikap ini hidup seperti barang antik di etalase museum batin—dipuji, tetapi jarang dipraktikkan. Dunia bergerak cepat, lebih cepat dari niat baik, lebih gesit dari doa yang belum sempat diucapkan. Semua ingin segera: sukses segera, kaya segera, bahagia segera. Jika bisa, tanpa proses—dan tentu saja tanpa sabar.

Kesabaran hari ini sering dicurigai. Ia dianggap tanda kalah sebelum bertanding, sikap pasrah yang salah alamat. Padahal, kesabaran bukan duduk manis menunggu nasib jatuh dari langit seperti durian masak. Ia justru kerja sunyi yang melelahkan: menahan reaksi ketika emosi mendesak, memilih jernih saat situasi mengabur, dan tetap waras ketika dunia gemar berisik. Kesabaran adalah keberanian untuk tidak ikut-ikutan panik, semacam protes halus terhadap budaya tergesa-gesa.

Sementara itu, qanaah hidup lebih tersisih lagi. Di tengah iklan yang berseru “kurang satu lagi” dan linimasa yang rajin memamerkan pencapaian orang lain, rasa cukup terdengar seperti candaan basi. Qanaah sering dituduh sebagai dalih untuk berhenti bermimpi. Padahal, ia justru fondasi mimpi yang sehat. Qanaah tidak memusuhi usaha; ia hanya menertibkan nafsu. Ia mengajari hati agar tidak mudah iri, dan mengingatkan pikiran bahwa kebahagiaan bukan lomba lari jarak pendek.

Orang yang qanaah tampak sederhana, kadang terlalu sederhana untuk zaman yang gemar kemasan mewah. Namun di sanalah kemuliaan bekerja secara diam-diam. Qanaah memberi jarak aman dari kelelahan membandingkan diri, dari ambisi yang tak pernah kenyang. Ia membuat seseorang tetap tegak meski hidup tidak selalu naik pangkat—karena martabat tidak diukur dari grafik, melainkan dari ketenangan.

Maka, ketika kesabaran dan qanaah bertemu, lahirlah kemuliaan yang tidak perlu pengakuan. Ia tidak viral, tidak pula berisik. Ia hadir dalam wajah yang tetap teduh di tengah tekanan, dalam hati yang tidak kering meski hasil belum seberapa. Barangkali itulah satire paling halus dari kehidupan: bahwa di tengah dunia yang sibuk mengejar “lebih”, justru mereka yang sanggup berkata “cukup” dan “tunggu” yang paling merdeka. (Yi)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments