LESINDO.COM – Di tengah dunia yang gemar mendefinisikan kemewahan lewat angka dan tampilan, ada jenis kemewahan lain yang sering luput dari sorotan—ia tidak berisik, tidak dipamerkan, dan justru hadir dalam bentuk yang paling sederhana. Kemewahan itu bernama: tubuh yang masih berfungsi sebagaimana mestinya.
Kita terbiasa mengukur “cukup” dari apa yang belum kita miliki. Rumah yang lebih besar, penghasilan yang lebih tinggi, pencapaian yang lebih jauh. Padahal, setiap pagi saat kita membuka mata tanpa rasa nyeri yang mengunci, tanpa alat bantu yang menopang, tanpa obat yang memaksa tubuh beristirahat—di situlah sesungguhnya kita sedang berdiri di atas sebuah kemewahan yang tak ternilai.
Ada ketenangan yang bekerja diam-diam saat kita bisa tidur lelap tanpa bantuan kimia. Itu bukan sekadar istirahat, melainkan tanda bahwa pikiran masih punya ruang untuk reda, bahwa beban hidup belum sepenuhnya merampas damai. Di zaman ketika kegelisahan menjadi teman banyak orang, tidur nyenyak adalah kemewahan yang tak bisa dibeli.
Lalu ada kepekaan yang nyaris tak kita sadari: saat telinga masih sigap menangkap suara kecil, saat kesadaran bangkit hanya karena panggilan sederhana. Itu pertanda bahwa tubuh kita masih “terhubung”—bahwa sistem saraf, indera, dan kesadaran bekerja selaras, tanpa gangguan yang memisahkan kita dari dunia.
Dan yang paling sunyi sekaligus paling mendasar: kebebasan untuk bangkit dari tempat tidur dengan tenaga sendiri. Tanpa selang, tanpa alat bantu, tanpa rasa ketergantungan. Kita sering menyebut kebebasan sebagai sesuatu yang besar dan abstrak, padahal kebebasan paling murni adalah ketika tubuh masih bisa digerakkan oleh kehendak kita sendiri.
Tulisan ini bukan sekadar ajakan untuk bersyukur, tetapi juga undangan untuk menggeser cara pandang. Bahwa “modal hidup” tidak selalu berbentuk materi, melainkan kondisi dasar yang memungkinkan kita untuk hidup itu sendiri. Tubuh yang sehat, pikiran yang tenang, dan fungsi dasar yang berjalan normal—itulah fondasi dari segala kemungkinan.
Barangkali, kita tidak perlu menunggu kehilangan untuk memahami nilai dari apa yang kita miliki hari ini. Sebab sering kali, yang paling berharga justru adalah yang paling jarang kita hitung.
Hari ini, jika kita masih bisa bangun dengan utuh—itu bukan hal biasa. Itu adalah kemewahan. Dan dari sanalah, segala sesuatu bisa dimulai.(Abi)

