Oleh Urangayu
LESINDO.COM – Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, rezeki dan keberhasilan kerap dipersepsikan sebagai perlombaan. Siapa yang lebih dulu sampai, dialah pemenang. Media sosial mempercepat ilusi itu: pencapaian dipamerkan, kemajuan diukur dengan angka, dan hidup seolah memiliki garis finis yang sama bagi semua orang. Padahal, kehidupan tidak pernah disusun dengan satu jam dinding yang berdetak serempak untuk seluruh insan.
Rezeki dan keberhasilan memiliki jalannya sendiri—dititipkan sesuai waktu dan kesiapan masing-masing manusia. Ada yang datang di usia muda, ada pula yang baru mengetuk pintu ketika rambut mulai memutih. Ada yang hadir dalam bentuk materi, ada pula yang berwujud ketenangan, kesehatan, atau keluarga yang utuh. Ketika manusia memahami hakikat ini, ia belajar berjalan dengan tenang, tanpa harus cemas membandingkan langkahnya dengan langkah orang lain.
Kecemasan sering lahir bukan karena kekurangan, melainkan karena kebiasaan membandingkan. Hati yang sibuk menghitung milik sesama perlahan kehilangan kemampuan untuk mensyukuri apa yang telah dimiliki. Dalam tradisi kebijaksanaan Jawa, rasa cukup bukan tanda berhenti berusaha, melainkan tanda kedewasaan batin. Ia mengajarkan bahwa hidup tidak sekadar menumpuk, tetapi menata.
Rasa cukup adalah pintu pertama menuju kedamaian batin. Dari sanalah kejernihan berpikir bertumbuh. Manusia yang merasa cukup tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk pencapaian orang lain. Ia tidak alergi terhadap keberhasilan sesama, sebab hatinya tidak lagi memposisikan hidup sebagai kompetisi tanpa akhir. Ia memahami bahwa setiap orang memikul bebannya sendiri, sekaligus membawa waktunya masing-masing.
Dalam realitas sosial hari ini—di tengah tekanan ekonomi, tuntutan prestise, dan budaya kompetisi yang kian keras—sikap ini terasa semakin langka. Banyak orang bekerja bukan lagi untuk bertumbuh, melainkan untuk mengejar pengakuan. Ukuran berhasil bergeser dari proses menjadi citra. Akibatnya, kelelahan batin menjadi harga yang harus dibayar, bahkan ketika secara lahiriah seseorang tampak “sukses”.
Padahal, ketika perhatian diarahkan pada usaha yang jujur dan pengembangan diri, keberhasilan justru menemukan jalannya sendiri. Ia datang sebagai buah, bukan sebagai target yang dipaksakan. Usaha yang dikerjakan dengan niat bersih menumbuhkan daya tahan—bukan hanya terhadap kegagalan, tetapi juga terhadap godaan untuk tergelincir oleh iri dan dengki.
Hati yang bersih dari iri mampu merawat rezekinya sebagai amanah, bukan sebagai bahan pembanding yang melelahkan. Rezeki diperlakukan dengan hormat: digunakan secukupnya, dibagikan seperlunya, dan dijaga agar tidak melukai orang lain. Dalam kesadaran ini, keberhasilan tidak lagi memabukkan, sebab ia disadari sebagai titipan, bukan kepemilikan mutlak.
Pada akhirnya, hidup yang tenang bukanlah hidup tanpa ambisi, melainkan hidup yang tahu arah. Menyadari bahwa setiap insan memiliki garis waktunya sendiri adalah bentuk kebijaksanaan yang sederhana, tetapi menyelamatkan. Dari sanalah manusia belajar melangkah tanpa tergesa, bekerja tanpa dengki, dan menanti hasil tanpa kehilangan syukur.
Di dunia yang gemar membandingkan, barangkali sikap paling revolusioner hari ini adalah berjalan sesuai ritme diri sendiri—dengan hati yang cukup, pikiran yang jernih, dan keyakinan bahwa rezeki tak pernah salah alamat.

