LESINDO.COM – Di Dieng, alam tidak sekadar pemandangan. Ia adalah pertanda. Setiap kepulan asap, bau belerang, dan tanah yang bergetar halus seolah membawa pesan dari lapisan dunia yang lebih tua dari manusia. Orang Jawa sejak lama menyebut Dieng sebagai negeri para dewa—bukan dalam arti harfiah, melainkan sebagai cara menamai ruang yang dianggap sakral, tempat langit dan bumi terasa lebih dekat.
Langkah kaki memasuki kawasan Kawah Sikidang masih terhitung jauh dari kawah utama. Namun sebelum mata benar-benar menangkap rupa, hidung sudah lebih dulu dipaksa mengenal wataknya. Bau belerang menguar, tajam dan menyergap. Ia bukan bau yang ramah. Kepala bisa pening, perut terasa tak enak, napas menjadi pendek. Masker sekadar penawar sementara, tak sepenuhnya menahan aroma yang kasar dan memaksa tubuh untuk sadar bahwa ia sedang berada di wilayah yang tidak biasa.
Di titik inilah Dieng mulai “berbicara”. Dalam laku spiritual Jawa, ketidaknyamanan sering kali dipahami sebagai suwung sing kebak, kekosongan yang justru penuh makna. Alam seperti menguji kesiapan batin sebelum memperbolehkan manusia melangkah lebih dekat. Rasa penasaran pun berubah menjadi laku: bertahan, mengamati, dan merasakan.
Kawah Sikidang, yang terletak di Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Ia adalah kawah aktif terbesar di Dataran Tinggi Dieng—sebuah altar terbuka tempat bumi memperlihatkan napas panasnya. Asap putih bercampur uap belerang mengepul dari tanah, lumpur mendidih perlahan, air panas bergelembung tanpa henti. Di hadapan pemandangan ini, manusia tak punya banyak pilihan selain diam.

Nama “Sikidang” berasal dari kata kidang—kijang. Dalam pengetahuan lokal, penamaan bukan perkara sembarangan. Kawah ini dikenal kerap berpindah pusat aktivitas, melompat dari satu titik ke titik lain. Seperti kijang, ia lincah dan sulit ditebak. Bagi masyarakat Dieng, ini adalah pengingat bahwa alam punya kehendak sendiri. Ia tidak bisa dikunci, tidak bisa dijinakkan, hanya bisa dihormati.
Jembatan kayu yang membentang di kawasan kawah berfungsi lebih dari sekadar jalur wisata. Ia adalah garis batas sakral—penanda bahwa manusia boleh menyaksikan, tetapi tidak berkuasa. Konsep empan papan dan eling lan waspada terasa hidup di sini. Salah melangkah, tanah rapuh dan gas beracun bisa menjadi peringatan keras bahwa negeri para dewa tidak pernah benar-benar ramah bagi mereka yang abai.
Di Dieng, spiritualitas tidak selalu hadir dalam bentuk ritual besar. Kadang ia muncul lewat hal paling sederhana: telur yang direbus di air panas kawah, tangan yang menghangat di tengah udara dingin, atau napas yang ditahan sejenak ketika bau belerang datang tiba-tiba. Interaksi kecil ini terasa seperti dialog diam-diam antara manusia dan alam—tanpa kata, tanpa simbol berlebihan.
Kawah Sikidang mengajarkan bahwa sakralitas tidak selalu indah dan wangi. Ia bisa hadir dalam bau yang menyengat, panas yang mengancam, dan lanskap yang terasa asing. Dalam pandangan Jawa, inilah wajah keseimbangan: panas lan adhem, rame lan sepi. Hidup tidak hanya tentang kenyamanan, tetapi tentang kesadaran akan batas.
Ketika langkah akhirnya menjauh dari kawah, bau belerang masih menempel di pakaian. Ia menjadi semacam tenger—penanda batin bahwa seseorang pernah bertamu ke ruang yang lebih dalam dari sekadar objek wisata. Dieng, negeri para dewa, tidak meminta untuk ditaklukkan. Ia hanya ingin dihampiri dengan sikap rendah hati.
Dan mungkin, itulah pelajaran spiritual paling jujur dari Kawah Sikidang: manusia boleh datang, boleh kagum, tetapi harus pulang dengan kesadaran bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari semesta yang jauh lebih besar. (mac)

