spot_img
BerandaBudayaJarit di Kaki Candi: Etika, Identitas, dan Cara Kita Bertamu pada Leluhur

Jarit di Kaki Candi: Etika, Identitas, dan Cara Kita Bertamu pada Leluhur

Candi, dalam kebudayaan Jawa, bukan hanya bangunan batu. Ia adalah ruang sakral, tempat doa pernah dipanjatkan dan nilai dijaga lintas generasi. Mengenakan jarit adalah bahasa kesopanan yang universal—seperti menundukkan suara di tempat ibadah. Etika berbusana ini sejalan dengan praktik di banyak situs warisan budaya dunia: menutup lutut, merendahkan ego, dan menghormati kesucian ruang.

Oleh Dhen Ba Gus e Ngarso

Pagi di Dataran Tinggi Dieng selalu membawa udara yang berbeda—dingin, tipis, dan sarat sejarah. Di gerbang Kompleks Candi Arjuna, sebelum langkah benar-benar menjejak batu andesit berusia ratusan tahun, para pengunjung diminta berhenti sejenak. Bukan untuk pemeriksaan tiket semata, melainkan untuk mengenakan selembar kain batik—jarit atau sewek—yang dililitkan di pinggang. Sebuah ritual kecil, namun bermakna besar.

Di mata sebagian wisatawan, kain itu mungkin sekadar atribut tambahan. Namun bagi pengelola dan masyarakat setempat, jarit adalah penanda: bahwa siapa pun yang melangkah masuk telah bersedia menyesuaikan diri, menghormati ruang yang lebih tua dari republik, dan menempatkan diri sebagai tamu di rumah leluhur.

Identitas yang Menyatukan

Penggunaan kain jarit juga berfungsi sebagai upaya untuk melestarikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal Dieng, serta memberikan edukasi kepada pengunjung tentang warisan nenek moyang.(mc)

Jarit berfungsi sebagai identitas visual yang menyatukan. Beragam latar belakang—kaus, jaket gunung, celana pendek, kamera menggantung—larut dalam satu simbol yang sama. Di pelataran candi, jarit menjembatani perbedaan; semua menjadi “pengunjung Dieng” yang setara. Ia menenangkan hiruk-pikuk modern, memberi jeda pada tubuh untuk menyadari: tempat ini bukan sekadar objek foto.

Kesopanan sebagai Bahasa Universal

Candi, dalam kebudayaan Jawa, bukan hanya bangunan batu. Ia adalah ruang sakral, tempat doa pernah dipanjatkan dan nilai dijaga lintas generasi. Mengenakan jarit adalah bahasa kesopanan yang universal—seperti menundukkan suara di tempat ibadah. Etika berbusana ini sejalan dengan praktik di banyak situs warisan budaya dunia: menutup lutut, merendahkan ego, dan menghormati kesucian ruang.

Di Dieng, kewajiban mengenakan jarit berlaku bagi semua pengunjung. Bukan sebagai pembatas, melainkan pengingat bahwa bertamasya pun memerlukan tata krama.

Merawat Tradisi, Mengedukasi Zaman

Lebih jauh, jarit adalah alat edukasi. Ia memperkenalkan kain tradisional Jawa pada generasi yang akrab dengan serba-cepat dan instan. Selembar kain mengajarkan cara melilit, cara berjalan lebih pelan, cara duduk dengan hormat. Di sanalah pelestarian bekerja—tidak lewat poster, melainkan lewat pengalaman tubuh.

Praktik serupa juga dikenal di candi-candi besar lain. Di Borobudur dan Prambanan, sarung atau kain batik kerap dipinjamkan bagi pengunjung yang mengenakan pakaian di atas lutut. Kebijakan ini berkembang seiring waktu—kini lebih kontekstual—namun esensinya sama: kesopanan, konservasi, dan penghormatan.

Konservasi yang Tak Terlihat

Ada pula dimensi konservasi yang kerap luput. Dengan berjarit, gerak pengunjung menjadi lebih terkendali. Langkah melambat, duduk tak sembarang, memanjat tak gegabah. Batu-batu tua yang rapuh pun mendapat jeda dari beban yang tak perlu. Di sini, etika berbusana berkelindan dengan upaya menjaga fisik cagar budaya.

Belajar Bertamu

Penggunaan kain tradisional Jawa tersebut menjadi simbol atau ciri khas bagi setiap pengunjung yang memasuki kompleks candi.(mc)

Pada akhirnya, jarit di Candi Arjuna mengajarkan satu hal sederhana: belajar bertamu. Datang dengan niat baik, menyesuaikan diri, dan pulang dengan pemahaman baru. Bahwa warisan budaya bukan sekadar latar swafoto, melainkan ruang hidup yang menuntut sikap.

Di Dieng, selembar kain batik bukan aksesori. Ia adalah kesepakatan sunyi antara masa kini dan masa lalu—bahwa kita datang bukan untuk menaklukkan, melainkan menghormati.

Mengenakan kain jarit bukan sekadar memenuhi aturan, melainkan laku hormat kepada ruang yang disakralkan. Ia menjadi isyarat kesadaran bahwa candi bukan hanya tumpukan batu tua, melainkan warisan leluhur yang menyimpan nilai, doa, dan ingatan kolektif yang patut dijaga.

Etika berbusana sopan pun menemukan maknanya: tubuh menyesuaikan diri pada ruang, bukan sebaliknya.

Di saat yang sama, jarit bekerja sebagai jembatan antar-zaman. Ia merawat tradisi sekaligus mengenalkannya kembali kepada para pengunjung—tentang cara berpakaian, tentang tata krama, tentang kearifan yang lahir dari tanah Dieng.

Selembar kain itu menjelma penanda: simbol khas bagi setiap orang yang melangkah masuk ke kompleks candi, bahwa ia hadir bukan hanya sebagai wisatawan, melainkan sebagai tamu yang menghormati leluhur.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments