spot_img
BerandaHumanioraJalan Sunyi Para Pemenang: Ketika Kejayaan Tahu Waktu untuk Surut

Jalan Sunyi Para Pemenang: Ketika Kejayaan Tahu Waktu untuk Surut

Jalan sunyi bukan tanda kalah. Ia justru tanda kebijaksanaan. Orang-orang dengan kedalaman spiritual memahami bahwa setiap zaman memiliki arah dan tujuannya sendiri. Ketika era berganti, yang perlu dilakukan bukanlah menciptakan kegaduhan atau menyusun kekuatan demi melawan arus, melainkan menata ulang diri.

Oleh Dhen Ba Gus e Ngarso

LESINDO.COM – Tidak semua orang mampu menerima kenyataan bahwa hidup memiliki siklus. Ada masa ketika nama dijunjung tinggi, kuasa berada di tangan, dan pengaruh menjalar ke segala arah. Namun ada pula saat ketika cahaya itu meredup, bukan karena gagal, melainkan karena zaman bergerak ke arah lain. Orang-orang yang memiliki ilmu sejati tentang hidup memahami hal ini: kejayaan bukan untuk dipertahankan dengan paksaan, melainkan untuk dilepaskan dengan kesadaran.

Alam telah lama mengajarkan hukum itu. Ada pasang, ada surut. Ada musim subur, ada masa kering. Siapa pun yang melawan irama alam, cepat atau lambat akan digilas oleh waktunya sendiri. Karena itulah, mereka yang memiliki kedalaman spiritual tidak sibuk mengumpulkan kekuatan ketika masa surut tiba. Mereka memilih jalan sunyi—menyepi, merawat batin, dan membiarkan zaman menemukan jalannya sendiri.

Sejarah Jawa mencatat pilihan itu.

Gajah Mada dan Kesunyian Pasca-Kejayaan

Nama Gajah Mada pernah berdiri tegak sebagai simbol pemersatu Nusantara. Sumpah Palapa menjadikannya tokoh besar dalam sejarah Majapahit. Namun kejayaan itu mulai retak setelah Tragedi Bubat. Niat menyatukan dua kerajaan melalui pernikahan politik antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka justru berujung pada pertumpahan darah yang melukai martabat banyak pihak.

Sejak peristiwa itu, hubungan Gajah Mada dengan raja merenggang. Ia dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Mahapatih. Di titik inilah terlihat kedewasaan batinnya. Ia tidak memaksakan diri bertahan di pusat kekuasaan. Tidak pula menyulut konflik baru demi mempertahankan pengaruh.

Gajah Mada memilih menepi.

Ia menghabiskan sisa hidupnya di Madakaripura, tanah perdikan di wilayah Probolinggo. Jauh dari hiruk-pikuk politik istana, ia menjalani hidup dalam kesunyian. Dalam cerita tutur, Gajah Mada bahkan diyakini tidak mati, melainkan moksa—menghilang bersama raganya. Air Terjun Madakaripura hingga kini dipercaya sebagai jejak terakhirnya, bukan sebagai simbol kekalahan, melainkan penerimaan terhadap hukum alam dan zaman.

Brawijaya V dan Lengser Keprabon

Pilihan serupa dilakukan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ketika kerajaan mulai rapuh oleh konflik internal dan munculnya kekuatan baru Kesultanan Demak—yang dipimpin oleh putranya sendiri, Raden Patah—Brawijaya V menyadari bahwa masa Majapahit telah usai.

Ia tidak memilih perang saudara. Tidak pula mempertahankan takhta dengan darah dan dendam.

Ia memilih naik ke Gunung Lawu.

Dalam tradisi Jawa, langkah ini dikenal sebagai lengser keprabon madeg pandita—turun dari singgasana untuk menempuh jalan spiritual. Gunung Lawu menjadi ruang perenungan, bukan pelarian. Di sana, jejak-jejak keheningan masih dipercaya hidup hingga kini: Hargo Dalem sebagai tempat moksanya, Hargo Dumiling tempat pengikut setia mengasingkan diri, dan Hargo Dumilah sebagai simbol puncak pencapaian batin.

Legenda Jalak Lawu—burung gading yang konon merupakan jelmaan pengikut setia—menjadi metafora indah: bahwa tugas orang bijak bukan lagi memimpin dengan kuasa, melainkan membimbing dengan keteladanan.

Candi Cetho dan Candi Sukuh di lereng Lawu turut menguatkan pesan itu. Arsitekturnya yang berbeda dari candi Majapahit pada umumnya mencerminkan kembalinya manusia pada akar spiritual Nusantara—sebuah penutup yang sunyi dari sebuah peradaban besar.

Makna Jalan Sunyi

Jalan sunyi bukan tanda kalah. Ia justru tanda kebijaksanaan. Orang-orang dengan kedalaman spiritual memahami bahwa setiap zaman memiliki arah dan tujuannya sendiri. Ketika era berganti, yang perlu dilakukan bukanlah menciptakan kegaduhan atau menyusun kekuatan demi melawan arus, melainkan menata ulang diri.

Di tengah dunia modern yang gemar mempertahankan sorotan, sejarah Jawa mengajarkan sebaliknya: tahu kapan harus maju, dan tahu kapan harus menepi. Alam akan selalu menyeleksi. Yang bertahan bukan yang paling keras melawan, tetapi yang paling selaras membaca tanda-tanda zaman.

Dan barangkali, di situlah letak kemenangan yang sesungguhnya.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments