spot_img
BerandaBudayaInflasi Solo Tak Sekadar Soal Pangan, Maraknya Coffee Shop Jadi Sorotan

Inflasi Solo Tak Sekadar Soal Pangan, Maraknya Coffee Shop Jadi Sorotan

Bagi Respati, menjamurnya kafe kopi adalah dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia mencerminkan geliat ekonomi, tumbuhnya sektor usaha, serta meningkatnya daya beli masyarakat. Kota bergerak, ruang-ruang sosial hidup, dan ekonomi kreatif menemukan momentumnya.

LESINDO.COM – Di sudut-sudut Kota Solo, aroma kopi kini tak lagi asing. Dari gang sempit hingga ruas jalan utama, coffee shop tumbuh hampir tanpa jeda. Cangkir-cangkir kopi tersaji setiap hari, menjadi bagian dari gaya hidup baru warga kota. Namun di balik hangatnya kopi, terselip cerita lain tentang denyut ekonomi dan tekanan inflasi yang perlahan berubah wajah.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menyoroti fenomena tersebut sebagai bagian dari dinamika inflasi daerah. Menurutnya, inflasi di Solo hari ini tak semata bersumber dari kebutuhan pokok, tetapi juga dari perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan.

Selama ini, bawang merah, bawang putih, dan cabai masih menjadi tiga komoditas utama penyumbang inflasi tertinggi. Harga yang mudah bergejolak, terutama saat pasokan terganggu atau permintaan meningkat, kerap memicu kenaikan inflasi dari sektor pangan.

Namun, Respati menggarisbawahi adanya faktor lain di luar bahan pokok. Pertumbuhan pesat coffee shop dalam beberapa tahun terakhir dinilai turut memberi kontribusi terhadap tekanan inflasi. Konsumsi kopi di kafe, yang dahulu bersifat pelengkap, kini menjelma menjadi rutinitas sosial, terutama di kalangan masyarakat urban.

Coffee shop juga menjadi penyumbang inflasi di ekonomi kita,” ujar Respati usai mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat membuka kegiatan Pasar Murah di Solo.

Bagi Respati, menjamurnya kafe kopi adalah dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia mencerminkan geliat ekonomi, tumbuhnya sektor usaha, serta meningkatnya daya beli masyarakat. Kota bergerak, ruang-ruang sosial hidup, dan ekonomi kreatif menemukan momentumnya.

Namun di sisi lain, perubahan gaya hidup turut membawa konsekuensi. Ketika konsumsi nonkebutuhan pokok meningkat, tekanan terhadap inflasi pun ikut bergeser. Di sinilah peran pemerintah menjadi krusial—menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan terhadap daya beli masyarakat.

Melalui program Pasar Murah, pemerintah berupaya menahan laju inflasi dari sektor pangan, memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau. Di tengah maraknya budaya ngopi dan perubahan pola konsumsi, stabilitas harga menjadi jangkar agar denyut ekonomi Solo tetap bergerak tanpa meninggalkan warganya.

Solo hari ini bukan hanya tentang cabai dan bawang, tetapi juga tentang secangkir kopi—dan bagaimana keduanya bersama-sama membentuk wajah baru inflasi kota budaya.(cha)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments