LESINDO.COM – Bagi sebagian orang, Tahun Baru Imlek mungkin tampak seperti perayaan yang penuh warna merah, lampion yang berayun di angin, suara petasan yang memecah malam, serta meja makan yang tak pernah benar-benar kosong. Namun, di balik gemerlap itu, Imlek sejatinya adalah sebuah ritual batin—tentang membersihkan masa lalu, menata harap, dan memulai hidup dengan keyakinan bahwa nasib bisa “ditawar” dengan cara-cara simbolik. Ia bukan sekadar ganti kalender, melainkan perayaan tentang keberanian manusia menghadapi masa depan.
Legenda tentang makhluk bernama Nian menjadi titik awal dari seluruh simbolisme ini. Konon, makhluk buas itu muncul setiap akhir tahun untuk meneror desa-desa: memangsa ternak, merusak ladang, dan menebar ketakutan. Dari cerita turun-temurun itulah lahir strategi kolektif untuk bertahan—menggantung kain merah di pintu, menyalakan petasan, memukul-mukul benda logam agar bising. Merah dipercaya mampu melemahkan Nian, sementara suara keras membuatnya lari terbirit-birit. Di titik ini, Imlek tidak lagi sekadar perayaan, melainkan sisa-sisa ingatan manusia akan rasa takut purba—yang kini diubah menjadi pesta cahaya dan warna.
Namun Imlek tidak hanya hidup dalam legenda. Ia menjelma menjadi gerakan manusia terbesar di muka bumi. Di Tiongkok, peristiwa ini disebut Chunyun—sebuah musim pulang kampung massal yang melibatkan ratusan juta orang. Kereta penuh, bandara sesak, jalan tol memanjang seperti pita yang tak pernah putus. Semua bergerak ke satu tujuan: meja makan keluarga. Makan malam reuni bukan sekadar tradisi, melainkan upacara diam-diam untuk menegaskan bahwa di tengah dunia yang semakin individual, keluarga masih menjadi pusat semesta kecil.
Di hari pertama Imlek, hidup seperti berjalan di atas lantai kaca. Segalanya harus dijaga, karena setiap tindakan dipercaya membawa pertanda. Menyapu rumah dianggap membuang rezeki. Mencuci rambut diyakini menghapus kemakmuran, sebab bunyi kata “rambut” menyerupai kata “kaya” dalam bahasa Mandarin. Pantangan ini memang terdengar irasional, namun justru di situlah letak maknanya: manusia selalu ingin merasa bahwa ia masih bisa mengendalikan nasib, walau hanya lewat simbol.
Angpao menjadi simbol paling lembut dari harapan itu. Bukan sekadar amplop merah berisi uang, melainkan doa yang dilipat rapi. Mereka yang sudah menikah memberi kepada yang belum, seolah berkata: “Giliranmu akan tiba.” Angka di dalamnya pun diatur, menghindari empat, merangkul genap, karena di balik setiap lembar uang ada keyakinan bahwa kata dan bunyi memiliki kuasa atas takdir.
Sementara itu, kalender shio berputar seperti roda kosmik. Dua belas hewan dan lima elemen saling bersilang, menciptakan siklus 60 tahunan. Setiap orang mencoba membaca dirinya di sana—mencari penjelasan tentang karakter, peruntungan, bahkan jodoh. Tahun demi tahun, shio menjadi cermin tempat manusia bercermin pada mitos untuk memahami dirinya sendiri.
Imlek tidak berhenti dalam satu malam. Ia berlangsung selama 15 hari, hingga ditutup oleh festival lampion yang menyinari langit dengan harapan-harapan kecil yang mengambang. Di sanalah Imlek menemukan bentuknya yang paling jujur: sebuah perayaan tentang cahaya, tentang keberanian memulai lagi, dan tentang keyakinan bahwa hidup—betapapun beratnya—selalu layak dirayakan dengan sepiring makanan hangat dan seutas doa yang diam-diam.(May)

