spot_img
BerandaLensa IndonesiaIlmu Tanpa Adab: Retaknya Hubungan Guru dan Murid di Zaman Kini

Ilmu Tanpa Adab: Retaknya Hubungan Guru dan Murid di Zaman Kini

Anak-anak kita hari ini sangat terampil—cepat bicara, berani berargumen, piawai teknologi—tetapi sering rapuh dalam mengelola emosi dan empati. Mereka berani melawan, tetapi belum tentu siap bertanggung jawab.

Oleh Lembayung

LESIDO.COM – Ki Hadjar Dewantara—Bapak Pendidikan Nasional—pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun dalam maknanya:

“Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

Kata menuntun di sini penting. Menuntun berarti berjalan bersama, bukan menyeret; memberi arah, bukan memukul; menegur dengan tanggung jawab moral, bukan dengan kemarahan. Namun dalam kenyataan hari ini, makna menuntun itu sering terdistorsi. Guru dituntut mendidik, tetapi kewenangannya menyusut. Murid dituntut belajar, tetapi batasnya kabur. Orang tua ingin anaknya berhasil, tetapi kerap lupa bahwa keberhasilan tanpa adab hanyalah kemenangan semu.

Di masa lalu, dalam tradisi Jawa, guru—digugu lan ditiru—dipercaya ucapannya dan diteladani lakunya. Murid memahami bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari kerja, melainkan sarana membentuk budi pekerti. Karena itu, adab didahulukan sebelum kecakapan.

Adab sebagai Pondasi Ilmu

Dalam khazanah pesantren dan kebudayaan Jawa, ada keyakinan yang kuat:

“Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kendali—menerangi sekaligus membakar.”

KH Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan bahwa keberhasilan ilmu tidak hanya diukur dari kecerdasan akal, tetapi dari sikap murid terhadap gurunya. Hormat bukan demi guru sebagai pribadi, melainkan demi ilmu itu sendiri agar memberi manfaat dan keberkahan.

Ketika murid kehilangan adab—membentak, mengancam, bahkan menganiaya guru—yang sesungguhnya runtuh bukan hanya relasi personal, tetapi bangunan etika pendidikan. Dan ketika orang tua ikut memusuhi guru, retak itu menjalar menjadi kerusakan sistemik.

Sekolah di Tengah Tekanan Zaman

Kasus penganiayaan terhadap guru, seperti yang dialami Agus Saputra, bukan sekadar peristiwa tunggal. Ia menjadi penanda bahwa sekolah kini berdiri di persimpangan sulit: antara tuntutan disiplin dan ketakutan akan kriminalisasi, antara mendidik karakter dan tekanan administratif.

Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil, pernah mengingatkan:

“Pendidikan yang kehilangan dialog akan melahirkan penindasan baru.”

Namun dialog hanya mungkin terjadi jika ada rasa saling menghormati. Tanpa adab, dialog berubah menjadi perdebatan emosional, dan pendidikan berubah menjadi arena konflik.

Rumah, Sekolah, dan Anak yang Terjebak di Tengah

Dalam filosofi Jawa dikenal konsep tri pusat pendidikan: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiganya harus sejalan. Ketika rumah justru meniadakan otoritas sekolah, anak tumbuh dengan pesan ganda: di rumah ia dibenarkan, di sekolah ia ditertibkan. Kebingungan nilai inilah yang sering meledak menjadi agresi.

Romo Mangunwijaya pernah menulis bahwa:

“Pendidikan yang tidak menumbuhkan kepekaan nurani hanya akan melahirkan manusia terampil yang kehilangan arah.”

Anak-anak kita hari ini sangat terampil—cepat bicara, berani berargumen, piawai teknologi—tetapi sering rapuh dalam mengelola emosi dan empati. Mereka berani melawan, tetapi belum tentu siap bertanggung jawab.

Guru yang Ditinggalkan Sistem

Dalam budaya Jawa, guru adalah pranata moral, bukan sekadar pengajar mata pelajaran. Namun sistem pendidikan modern kerap memperlakukan guru sebagai operator kurikulum. Administrasi menumpuk, target akademik menekan, sementara ruang untuk membangun hubungan batin dengan murid semakin sempit.

Ki Hadjar Dewantara kembali relevan ketika berkata:

“Guru itu bukan sekadar pengajar, tetapi pamong—pengasuh jiwa.”

Pamong membutuhkan kewibawaan moral, perlindungan hukum, dan kepercayaan publik. Tanpa itu, guru akan mengajar dengan rasa takut, bukan dengan ketulusan.

Membangun Kembali Adab sebagai Jalan Pulang

Maka persoalan ini tidak bisa diselesaikan dengan hukuman semata, atau pembelaan emosional sepihak. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk kembali ke akar:

  • Adab sebelum ilmu: ditanamkan sejak rumah, diperkuat di sekolah.
  • Kolaborasi orang tua–guru: bukan saling mencurigai, tetapi saling mengoreksi.
  • Disiplin yang manusiawi: tegas, tetapi bermartabat.
  • Perlindungan terhadap guru: agar mendidik tidak menjadi tindakan berisiko.

Dalam falsafah Jawa ada petuah lirih namun tajam:

“Wong pinter kalah karo wong sabar, wong sabar kalah karo wong bener.”

Kepintaran tanpa kesabaran dan kebenaran hanya akan melahirkan keangkuhan.

Pendidikan sebagai Laku, Bukan Sekadar Sistem

Ketika murid berani menganiaya guru, yang terluka bukan hanya tubuh seseorang, tetapi ruh pendidikan itu sendiri. Ini adalah peringatan bahwa kita sedang membangun generasi yang cerdas, tetapi belum tentu beradab.

Jika pendidikan ingin kembali memanusiakan manusia, maka ia harus kembali menjadi laku—perjalanan nilai yang dijalani bersama. Sebab, seperti yang diyakini leluhur Jawa:

Ilmu iku kalakone kanthi laku, lan laku ora bakal urip tanpa adab.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments