spot_img
BerandaJelajahjelajahHilal, Perdebatan, dan Sepi di Perut Tetangga

Hilal, Perdebatan, dan Sepi di Perut Tetangga

Kita terlalu sering sibuk pada yang lahiriah. Pada hilal di langit, tapi lupa mencari hilal di dalam hati. Kita berdebat panjang tentang metode penentuan, sementara di sebelah rumah ada yang masih menahan lapar—bukan karena puasa, tapi karena tak ada yang bisa dimakan.

Oleh: Lembah Manah 

LESINDO.COM-Langit belum sepenuhnya gelap ketika orang-orang menengadah, mencari sepotong cahaya tipis di ufuk barat. Hilal, begitu ia disebut—tanda kecil yang saban tahun dinanti dengan perdebatan panjang: hisab atau rukyat, angka atau mata, logika atau kesaksian.

Namun, di balik riuh itu, ada yang sering luput: hilal sesungguhnya bukan sekadar penanda waktu. Ia adalah pintu. Sebuah ambang sunyi yang memisahkan antara lapar yang ditahan dan kenyang yang dilepaskan, antara nafsu yang dilatih dan nafsu yang kembali liar tanpa arah.

“Jika kau melewatinya hanya untuk kembali menjadi serakah,” begitu sebuah suara batin berbisik, “maka puasamu sebulan hanyalah perpindahan jam makan, bukan perpindahan martabat.”

Di banyak rumah, gema takbir mengalun seperti ombak yang pulang ke pantai. Meja-meja dipenuhi ketupat dan opor, tangan-tangan saling berjabat, dan kata maaf berhamburan seperti bunga yang dilempar ke udara. Tapi di sudut-sudut lain, ada perut yang tetap sunyi. Ada mata yang tetap menunggu. Ada hati yang patah tanpa sempat dirangkul.

Syawal sering dirayakan sebagai kemenangan. Tapi kemenangan macam apa yang kita maksud? Apakah sekadar berhasil menahan lapar dari fajar hingga magrib, lalu menggantinya dengan pesta tanpa batas? Ataukah kemenangan itu justru terletak pada saat keserakahan tenggelam, dan kepedulian terbit—lebih terang dari matahari di tengah hari?

Pertanyaan itu tidak selalu nyaman. Ia mengusik, bahkan terkadang menampar.

Kita terlalu sering sibuk pada yang lahiriah. Pada hilal di langit, tapi lupa mencari hilal di dalam hati. Kita berdebat panjang tentang metode penentuan, sementara di sebelah rumah ada yang masih menahan lapar—bukan karena puasa, tapi karena tak ada yang bisa dimakan.

Dalam sunyi yang lain, seseorang berbisik lirih:
“Keegoanku pada pandangan lahiriah, menutup pandangan basirah yang sejati…”

Barangkali di situlah masalahnya bermula. Kita melihat, tapi tak menyaksikan. Mendengar, tapi tak menghayati. Terjebak pada simbol, lalu lupa makna.

Jabatan, golongan, bahkan kebenaran yang kita klaim, perlahan berubah menjadi jerat. Ia membungkus hati dengan lapisan-lapisan tebal, hingga cahaya yang seharusnya sederhana menjadi tampak jauh dan asing. Seolah-olah Tuhan harus berteriak keras, padahal Ia telah lama berbisik lewat angin, lewat lapar orang lain, lewat getir yang kita abaikan.

“Ya Bashir, Ya Hakim…”
Seruan itu melayang tanpa suara, seperti doa yang tersangkut di antara langit dan dada.

Lalu kita bertanya, dengan jujur atau mungkin setengah takut:
Pekikan apa lagi yang diperlukan agar kita benar-benar melihat?

Mungkin bukan pekikan. Mungkin justru keheningan.
Keheningan yang memaksa kita bercermin.

Bahwa hijab itu bukan di luar, melainkan di dalam. Bahwa yang berkarat bukan dunia, melainkan “server” batin kita sendiri—yang terlalu lama dipenuhi ambisi, gengsi, dan pembenaran diri.

Dan di titik itu, hilal menemukan maknanya kembali.

Ia bukan lagi sekadar lengkung tipis di langit, melainkan tanda kecil di ufuk hati: bahwa sesuatu telah berubah. Bahwa ada yang luruh. Bahwa ada ruang baru untuk peduli.

Kawan, barangkali pertanyaan terpenting hari ini bukan lagi tentang kapan Syawal dimulai.

Melainkan:
apakah “hilal” kebaikan itu sudah tampak di dalam dirimu?
Atau jangan-jangan, kita masih sibuk berdebat, sementara kemenangan sejati lewat begitu saja—diam-diam, tanpa kita sadari.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments