LESINDO.COM – Di ruang kelas hari ini, kapur tulis tak lagi menjadi pusat semesta. Ia telah digantikan layar, notifikasi, dan dunia yang bergerak lebih cepat daripada detak jam dinding sekolah. Di hadapan guru, duduk generasi yang lahir bersama internet—Gen Z—anak-anak yang terbiasa bertanya pada mesin pencari sebelum bertanya pada manusia.
Di tengah perubahan itu, profesi guru tetap berdiri. Tidak selalu gagah, tidak selalu dielu-elukan, tetapi setia hadir. Dedikasi guru di zaman Gen Z bukan lagi soal berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi, melainkan tentang kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan arah.
Dulu, guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Hari ini, guru adalah penunjuk arah di tengah banjir informasi. Anak-anak Gen Z bisa mengetahui banyak hal, tetapi sering kali kesulitan memilah mana yang benar, mana yang sekadar ramai. Di situlah peran guru bergeser: bukan mengisi kepala, melainkan menuntun nalar.
Dedikasi guru kini diuji bukan hanya oleh keterbatasan fasilitas atau beban administrasi, tetapi juga oleh jarak psikologis antar generasi. Gen Z tumbuh dengan bahasa yang berbeda, cara berpikir yang lebih cepat, dan kepekaan emosional yang unik. Mereka kritis, berani menyuarakan pendapat, tetapi juga rentan cemas dan mudah kehilangan fokus.
Menghadapi itu, guru dituntut belajar kembali. Belajar memahami dunia muridnya. Belajar menerima bahwa wibawa tidak lagi dibangun lewat jarak, melainkan lewat kehadiran yang tulus. Guru yang didengar hari ini bukan yang paling keras suaranya, tetapi yang paling mampu mendengarkan.
Dedikasi itu sering kali berlangsung sunyi. Guru menghabiskan malam mempelajari aplikasi pembelajaran, menyesuaikan metode mengajar, atau sekadar mencoba memahami mengapa seorang murid tiba-tiba kehilangan semangat. Tidak semua upaya itu terlihat. Tidak semua keberhasilan tercatat dalam angka evaluasi.
Di zaman Gen Z, guru juga menghadapi paradoks. Di satu sisi, mereka dituntut inovatif, kreatif, dan adaptif. Di sisi lain, mereka masih terikat sistem yang kerap lamban bergerak. Namun, di celah itulah dedikasi menemukan maknanya: tetap berusaha meski keadaan tidak selalu ramah.
Ada guru yang memilih membuat konten edukatif di media sosial agar pelajaran terasa dekat. Ada yang mengubah diskusi kelas menjadi ruang aman bagi murid untuk berbicara tentang kecemasan, mimpi, dan kegelisahan mereka. Ada pula yang sederhana saja: konsisten hadir tepat waktu, menyapa murid dengan nama, dan menunjukkan bahwa mereka diperhatikan.
Dedikasi guru di zaman Gen Z bukanlah romantisme pengorbanan tanpa batas, melainkan kesadaran bahwa pendidikan adalah kerja jangka panjang. Hasilnya tidak selalu tampak hari ini, mungkin baru terasa bertahun-tahun kemudian—saat seorang murid mengingat gurunya sebagai sosok yang pernah percaya padanya.
Dalam budaya Jawa, ada ungkapan ngemong—merawat dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Guru di zaman ini sedang ngemong generasi yang tumbuh di dunia serba cepat, dengan cara yang lebih halus namun tidak kalah berat. Mereka menjaga nilai di tengah perubahan, merawat etika di tengah kebisingan.
Pada akhirnya, dedikasi guru di zaman Gen Z bukan soal melawan zaman, melainkan berjalan bersamanya tanpa kehilangan kompas. Menjadi jembatan antara pengetahuan dan kebijaksanaan, antara teknologi dan kemanusiaan.
Dan mungkin, di sanalah letak keagungan profesi guru hari ini: tetap setia mendidik, meski dunia terus berubah arah. Jika kelak generasi ini tumbuh menjadi manusia yang berpikir jernih dan berhati hangat, di baliknya selalu ada guru yang pernah bekerja dalam diam.(Arn)

