LESINDO.COM – Pagi di lereng Gunung Andong selalu datang dengan cara yang pelan. Kabut turun perlahan, seolah enggan membuka rahasia yang sejak lama disimpan gunung setinggi 1.726 meter di atas permukaan laut itu. Di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Andong bukan sekadar destinasi pendakian. Ia adalah ruang perjumpaan antara alam, doa, dan ingatan kolektif masyarakat Jawa.
Bagi para pendaki, Andong dikenal ramah. Jalurnya pendek, panorama puncaknya lapang, dan matahari terbitnya sering disebut salah satu yang terbaik di Jawa Tengah. Namun di balik popularitas itu, Gunung Andong menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam—tentang asal-usul nama, kepercayaan, hingga spiritualitas yang terus hidup.
Nama “Andong” kerap dikaitkan dengan daun andong ( Cordyline fruticosa ), tanaman yang dalam tradisi Jawa tak pernah absen dari slametan dan sesaji. Daun ini dipercaya sebagai pengantar doa, simbol permohonan keselamatan, dan penanda hubungan manusia dengan Yang Mahakuasa. Dalam tutur lisan masyarakat setempat, Andong berasal dari kata andongoo, yang dimaknai sebagai “berdoa kepada Tuhan”. Sebuah penamaan yang bukan tanpa maksud.
Gunung ini, dalam pandangan masyarakat Jawa, bukan benda mati. Ia adalah ruang sakral, tempat manusia menundukkan ego dan mendekatkan diri pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Tak heran jika sejak lama Andong dianggap sebagai tempat memanjatkan doa—bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan laku.
Dari kejauhan, siluet Gunung Andong memperlihatkan lekukan yang tak lazim. Dilihat dari arah Kopeng atau sisi samping tertentu, punggungnya menyerupai punggung sapi. Dalam bahasa lokal, bentuk itu disebut “andong”. Tafsir ini lebih membumi, lahir dari cara orang Jawa membaca alam melalui apa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: ternak, ladang, dan lanskap desa.
Dua tafsir—filosofis dan fisik—hidup berdampingan tanpa perlu dipertentangkan. Seperti halnya tradisi Jawa yang jarang memilih satu kebenaran tunggal, Gunung Andong menerima keduanya sebagai bagian dari dirinya.
Lapisan spiritual gunung ini kian kuat dengan keberadaan makam Kyai Abdul Faqih, atau yang lebih dikenal sebagai Ki Joko Pekik. Makam yang berada di salah satu puncak Andong itu dikeramatkan oleh warga. Ki Joko Pekik dipercaya sebagai tokoh penyebar Islam di wilayah Magelang dan sekitarnya, serta murid dari Sunan Geseng—salah satu figur penting dalam Islamisasi Jawa.

Hingga kini, peziarah masih kerap datang. Mereka tidak selalu membawa permintaan besar. Sebagian hanya duduk diam, menundukkan kepala, membiarkan angin dan sunyi berbicara lebih dahulu. Di titik ini, pendakian berubah menjadi laku batin.
Sejarah mencatat, pada masa kolonial Belanda, Gunung Andong juga memiliki fungsi strategis. Dari punggungnya yang lapang, aparat kolonial memantau aktivitas vulkanik dan danau-danau di sekitarnya. Letaknya yang menonjol menjadikan Andong sebagai titik pengawasan alami—sebuah fungsi yang bertolak belakang dengan perannya sebagai ruang kontemplasi bagi masyarakat lokal.
Gunung Andong memiliki empat puncak yang berjejer rapi: Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong sebagai titik tertinggi, dan Puncak Alap-alap. Di antara puncak-puncak itu terdapat jalur sempit yang dikenal dengan nama “Jembatan Setan”. Jalur ini memaksa pendaki melambat, menata langkah, dan menaklukkan rasa gentar. Sebuah pengingat bahwa perjalanan ke puncak—secara harfiah maupun batiniah—tak pernah sepenuhnya mudah.
Di sanalah Andong berbicara paling jujur. Ia mengajarkan bahwa keindahan tidak datang tanpa kehati-hatian, dan ketinggian tak selalu identik dengan keangkuhan. Gunung ini berdiri tidak untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipahami.
Di akhir pendakian, saat matahari muncul di balik Merbabu dan Merapi, Andong kembali ke fitrahnya: punggung doa yang setia menampung harap manusia. Di sanalah alam, sejarah, dan spiritualitas Jawa bertemu—tanpa suara, tanpa spanduk, tanpa klaim. Hanya sunyi yang bekerja. (mac)

