spot_img
BerandaBudayaGeulis dalam Kesederhanaan: Potret Wanita Sunda dalam Kehidupan Sehari-hari

Geulis dalam Kesederhanaan: Potret Wanita Sunda dalam Kehidupan Sehari-hari

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh standar kecantikan instan dan sorotan kamera, wanita Sunda tetap memilih jalannya sendiri. Cantik, bagi mereka, adalah selaras—antara raga dan rasa, antara tutur dan laku, antara diri dan lingkungan.

LESINDO.COM – Pagi di Tanah Pasundan selalu datang dengan cara yang lembut. Kabut tipis turun perlahan dari lereng-lereng pegunungan, menyentuh halaman rumah, kebun, dan jalan desa yang masih basah oleh embun. Di balik pintu-pintu rumah sederhana, perempuan-perempuan Sunda memulai harinya—tanpa banyak kata, tanpa gegap gempita, tetapi penuh ketekunan.

Mereka bangun lebih awal, menyiapkan dapur, menyeduh air panas, dan memetik sayuran segar dari kebun belakang. Kangkung, kemangi, daun singkong, atau kacang panjang—lalapan bukan sekadar menu, melainkan cara hidup. Dari dapur inilah, kehidupan dirawat setiap hari, dengan kesabaran yang nyaris tak pernah dipamerkan.

Kecantikan wanita Sunda kerap dibicarakan orang luar. Kulit yang bersih, wajah yang teduh, senyum yang mudah mengembang. Namun, bagi perempuan Sunda sendiri, geulis bukan soal dipuji atau dipamerkan. Geulis adalah keadaan: saat hati tenang, tutur kata dijaga, dan hidup dijalani dengan tahu batas.

Wanita Sunda sering mengenakan kebaya dengan potongan yang pas di badan, menunjukkan kerapian dan kesopanan. Warna hitam memberikan kesan formal, kuat, namun tetap rendah hati.(mc)

Dalam budaya Sunda, kecantikan tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan sikap soméah hadé ka sémah—ramah kepada siapa pun yang datang. Senyum bukan topeng, melainkan kebiasaan. Sapaan halus bukan basa-basi, melainkan cermin cara pandang terhadap sesama. Perempuan Sunda diajari sejak kecil untuk menjaga rasa, tidak meninggikan suara, dan menimbang kata sebelum diucapkan.

Di pasar tradisional, di sawah, di sekolah, atau di kantor desa, perempuan Sunda hadir sebagai penggerak sunyi. Mereka menawar harga sambil tersenyum, mengajar anak-anak dengan suara pelan namun tegas, mengelola rumah tangga sekaligus ikut menjaga denyut ekonomi keluarga. Tak jarang, di balik kesan lembut itu, tersembunyi ketangguhan yang tak mudah digoyahkan.

Sejarah dan mitologi ikut membentuk cara pandang ini. Kisah Dyah Pitaloka dikenang bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena martabat dan keberaniannya. Dayang Sumbi dikenang bukan semata karena wajahnya yang tak menua, melainkan karena kecerdasan dan keteguhan sikapnya. Dalam ingatan kolektif orang Sunda, perempuan cantik adalah perempuan yang tahu harga diri.

Sore hari, ketika matahari mulai condong ke barat, perempuan Sunda kembali pada ritme rumah. Menyiram tanaman, menyiapkan makan malam, atau sekadar duduk di teras sambil berbincang ringan dengan tetangga. Hidup berjalan pelan, seolah tak ingin tergesa mengejar apa pun selain keseimbangan.

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh standar kecantikan instan dan sorotan kamera, wanita Sunda tetap memilih jalannya sendiri. Cantik, bagi mereka, adalah selaras—antara raga dan rasa, antara tutur dan laku, antara diri dan lingkungan.

Maka, anggapan bahwa wanita Sunda adalah yang paling cantik mungkin memang subjektif. Tetapi satu hal yang sulit dibantah: dalam keseharian yang sederhana, perempuan Sunda menunjukkan bahwa kecantikan sejati tidak selalu mencolok mata. Ia justru hidup tenang, menetap lama, dan meninggalkan kesan—seperti embun pagi di Tanah Pasundan, yang tak berisik, namun selalu dirindukan. (mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments