LESINDO.COM – Di tanah Kedu yang subur, di antara kabut pagi dan desir angin yang menggeser daun-daun jati, berdiri tiga candi yang seolah berbicara tanpa suara: Borobudur, Pawon, dan Mendut. Ketiganya bukan sekadar bangunan batu. Mereka adalah satu kalimat panjang yang ditulis peradaban berabad-abad silam—sebuah pesan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mau berhenti, memandang, dan merenung.
Jika ditarik dengan garis lurus, ketiga candi itu berada dalam satu poros yang nyaris sempurna. Garis imajiner ini bukan kebetulan arsitektur, melainkan isyarat spiritual: perjalanan manusia dari dunia lahir menuju pencerahan batin. Mendut sebagai permulaan, Pawon sebagai perantara, dan Borobudur sebagai puncak.
Namun, seperti kisah-kisah besar lainnya, perjalanan ini hampir saja terkubur oleh waktu dan keserakahan manusia.
Raffles dan Kekaguman yang Tak Selesai
Tahun 1816, dunia sedang berguncang. Di Eropa, Perang Napoleon baru saja berakhir. Sementara di Jawa, kekuasaan Inggris pun harus berakhir. Thomas Stamford Raffles—Gubernur Jenderal Inggris di Hindia—mendapat perintah untuk menyerahkan kembali Pulau Jawa kepada Belanda.
Di saat itulah, Raffles sedang terpesona oleh sebuah bangunan raksasa yang muncul dari hutan belantara: Borobudur.
Ia tidak menemukannya dalam keadaan megah seperti sekarang. Saat itu, Borobudur tertutup semak, lumpur, dan reruntuhan. Namun, begitu relief-reliefnya mulai terbuka, Raffles seperti menemukan kitab batu yang berbicara tentang peradaban yang jauh lebih tua dari kekuasaan kolonial mana pun.
Sayangnya, kekaguman itu harus terputus.
Raffles belum sempat meneliti secara tuntas, belum sempat menyingkap makna utuh di balik ribuan panel relief. Ia terpaksa pergi, meninggalkan Borobudur dalam kondisi setengah terjaga—seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang, lalu kembali terlelap.
Goresan Batu yang Menyimpan Jiwa
Relief-relief di Borobudur bukanlah hiasan kosong. Setiap panel adalah fragmen kehidupan: tentang kelahiran, penderitaan, cinta, keserakahan, pengorbanan, hingga pencarian makna hidup.
Ada wajah-wajah manusia yang tertawa, menangis, berdoa, dan jatuh. Ada raja dan rakyat jelata. Ada kemewahan dan kemiskinan. Semuanya diguratkan dengan kejujuran yang tak mengenal zaman.
Relief itu seperti cermin: siapa pun yang memandangnya, sesungguhnya sedang memandang dirinya sendiri.
Di sanalah pesan itu bersemayam—bahwa hidup adalah perjalanan, bukan tujuan. Bahwa manusia akan selalu diuji oleh nafsu, namun selalu diberi kesempatan untuk bangkit dan berubah.
Pawon: Api di Tengah Perjalanan
Di tengah garis lurus itu berdiri Candi Pawon. Kecil, sunyi, sering terlewatkan. Namun namanya berarti dapur atau api. Ia melambangkan pembakaran batin—tempat manusia membersihkan dirinya sebelum melangkah lebih jauh.
Seperti hidup, Pawon mengajarkan bahwa sebelum mencapai puncak, kita harus melalui fase gelap, panas, dan penuh pertarungan dengan diri sendiri.
Mendut: Awal dari Kesadaran
Di ujung timur garis itu berdiri Candi Mendut, tempat perjalanan bermula. Di dalamnya terdapat arca Buddha besar yang memancarkan ketenangan. Ia adalah simbol kesadaran awal—saat manusia mulai bertanya tentang dirinya, tentang makna hidup, tentang ke mana arah langkahnya.
orobudur: Puncak Sunyi
Dan akhirnya, Borobudur. Sebuah gunung batu yang mengajak manusia berjalan melingkar ke atas, meninggalkan hiruk-pikuk dunia di bawah. Semakin tinggi, relief semakin sedikit, hingga akhirnya hanya tersisa stupa dan keheningan.
Seolah ia ingin berkata:
bahwa pada akhirnya, semua kegaduhan hidup akan larut dalam kesunyian yang damai.
Pesan yang Tak Pernah Usang
Raffles boleh pergi. Kekuasaan boleh berganti. Waktu boleh mengikis batu. Namun pesan di relief-relief itu tetap hidup.
Ia mengingatkan bahwa manusia selalu mencari makna—dan peradaban besar bukanlah yang paling kuat, melainkan yang paling mampu meninggalkan kebijaksanaan.
Di antara Borobudur, Pawon, dan Mendut, kita bukan hanya melihat candi. Kita sedang membaca perjalanan manusia tentang jatuh, bangkit, dan kembali pulang ke dirinya sendiri.
Dan barangkali, di sanalah letak keajaiban yang paling abadi.(Rai)

