spot_img
BerandaJelajahEs yang Mencair, Martabat yang Dipukul

Es yang Mencair, Martabat yang Dipukul

LESINDO.COM – Di bawah terik yang tak pernah memilih siapa yang kuat dan siapa yang lemah, Sudrajat (50 th)  mendorong gerobak es kuenya perlahan. Tangannya terbiasa dingin, bukan oleh pendingin modern, melainkan oleh bongkahan es dan air gula yang setiap hari ia aduk dengan harapan: dagangan laku, perut terisi, anak di rumah bisa makan.

Ia tak pernah menyangka, hari itu es yang ia jual tak hanya mencair di gelas pembeli, tetapi juga mencairkan martabatnya sebagai manusia.

Tuduhan datang tanpa aba-aba. Es kuenya disebut berbahan spons—PU Foam—benda yang biasa melekat pada kasur, bukan pada harapan hidup orang kecil. Tak ada laboratorium, tak ada uji bahan, apalagi praduga tak bersalah. Yang datang justru seragam rapi, nada tinggi, dan tangan yang lebih cepat bergerak daripada telinga yang mau mendengar.

Sudrajat dibawa ke sebuah pos keamanan. Di sana, ia bukan lagi pedagang kecil, bukan lagi kepala keluarga. Ia menjadi objek. Dikepung. Diinterogasi. Dipukul. Ditendang.

“Padahal saya sudah jelasin semuanya,” katanya lirih, suara yang mungkin kalah keras dibanding sepatu lars yang menghantam lantai.

Dalam hukum, setiap orang berhak atas penjelasan. Dalam kemanusiaan, bahkan orang bersalah pun berhak diperlakukan dengan layak. Tapi hari itu, dua prinsip itu seolah tak berlaku bagi orang kecil yang tak punya kuasa, tak punya pengacara, tak punya kamera pengaman.

Video kejadian menyebar. Banyak mata menyaksikan, banyak dada terasa sesak. Simpati mengalir deras—bukan karena Sudrajat sempurna, tetapi karena ia manusia.

Seorang warganet menulis, “Dari sini terlihat, orang berseragam rapi belum tentu lebih sopan dan beretika daripada yang tak berseragam.” Kalimat sederhana, tapi menampar nurani bersama.

Ironisnya, setelah semuanya terjadi, yang tersisa hanya permintaan maaf. Seolah luka bisa diseka dengan kata, seolah trauma bisa ditambal dengan formalitas. Padahal Sudrajat pulang bukan hanya dengan badan pegal, tetapi dengan rasa takut yang menetap—trauma yang tak mudah hilang hanya karena kamera sudah mati.

Orang kecil sering diminta ikhlas. Disuruh legawa. Katanya, kalau ikhlas, Tuhan yang akan membalas. Tapi pertanyaannya: sampai kapan keikhlasan dipaksa menjadi peredam ketidakadilan?

Es yang dijual Sudrajat mungkin sudah habis hari itu. Tapi cerita ini seharusnya tak ikut mencair. Ia perlu diingat—agar seragam kembali bermakna pengayom, bukan ancaman. Agar kekuasaan belajar menunduk pada rasa kemanusiaan.

Untuk Sudrajat, penjual es kecil di tengah panas dan prasangka: semoga sehat selalu, semoga rezekinya dilancarkan. Amin.

Dan semoga, suatu hari nanti, orang kecil tak lagi harus membayar mahal hanya untuk dianggap manusia.(Arn)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments