Oleh Lembayung
Sejak manusia pertama kali menunduk di tepi sungai dan menemukan serpih logam kuning yang tak berubah oleh waktu, sejarah pun diam-diam berubah arah. Emas bukan sekadar logam. Ia adalah janji, ilusi, sekaligus obsesi. Kilau yang sama yang membuat mata terpikat, juga kerap mengaburkan nurani.
Di muka bumi, tak ada logam lain yang diperlakukan sedemikian rupa. Besi berkarat, perunggu menua, perak menghitam. Emas bertahan—diam, berkilau, dan seolah menertawakan usia. Barangkali karena itulah manusia sejak awal menempelkan makna-makna tertinggi padanya: keabadian, kekuasaan, bahkan ketuhanan.
Dari Sungai ke Leher Manusia Purba
Perjalanan emas dimulai jauh sebelum sejarah ditulis. Sekitar 6.000 tahun lalu, manusia Zaman Kalkolitikum menemukan emas bukan lewat teknologi rumit, melainkan lewat keberuntungan alam. Ia muncul begitu saja di aliran sungai—emas aluvial—seperti hadiah yang tak perlu ditempa.
Di Nekropolis Varna, Bulgaria modern, para arkeolog menemukan perhiasan emas tertua di dunia. Bukan senjata, bukan alat bertani, melainkan kalung dan hiasan tubuh. Sejak awal, emas tak pernah sekadar berguna. Ia hadir untuk dilihat, dipamerkan, dan dibedakan. Emas menandai siapa yang berkuasa dan siapa yang hanya memandang dari kejauhan.
Daging Para Dewa
Mesir Kuno membawa hubungan manusia dan emas ke tingkat sakral. Bagi bangsa yang membangun peradaban di sepanjang Sungai Nil ini, emas adalah “daging para dewa.” Ia tidak menua, tidak mati—seperti jiwa yang mereka yakini akan hidup setelah kematian.
Topeng emas Tutankhamun bukan sekadar artefak, melainkan pernyataan kosmik: bahwa raja tidak benar-benar pergi. Tambang-tambang emas dipetakan, dikelola, dan dijaga. Namun emas belum diperdagangkan seperti hari ini. Ia disimpan di kuil, dikenakan firaun, dan dikuburkan bersama jenazah bangsawan. Emas adalah simbol kekuasaan absolut, bukan alat tawar-menawar.
Ketika Emas Menjadi Uang, Dunia Berubah
Peradaban Lydia mengubah segalanya. Sekitar 550 SM, emas dicetak menjadi koin. Untuk pertama kalinya, nilai emas disepakati secara publik dan praktis. Sejak saat itu, kekayaan bisa dihitung, perang bisa dibiayai, dan ambisi bisa direncanakan.
Romawi memahami ini dengan sangat baik. Mereka menaklukkan wilayah bukan semata demi kejayaan, tetapi demi tambang. Spanyol dan Rumania dijarah isi perut buminya. Emas mengalir ke Roma, dan dari sana, menggerakkan mesin kekaisaran—legiun, jalan raya, dan kekuasaan politik.
Emas tak lagi diam di makam. Ia bergerak, berpindah tangan, dan memantik konflik.
Demam yang Membuat Manusia Meninggalkan Rumah
Abad penjelajahan samudra membawa emas ke babak paling brutal. Ketika bangsa Spanyol menginjakkan kaki di benua Amerika, mereka tak hanya membawa salib dan bendera, tetapi juga keserakahan yang dibungkus legenda: El Dorado.
Peradaban Aztec dan Inca yang memandang emas sebagai simbol spiritual, harus menyaksikan logam suci mereka dilebur, dicetak, dan dikirim melintasi samudra. Sejarah mencatat emas mengalir deras ke Eropa, sementara darah mengalir di tanah yang ditinggalkan.
Abad ke-19 menyempurnakan obsesi itu. California, Australia, Afrika Selatan—nama-nama tempat berubah menjadi harapan. Ribuan orang meninggalkan keluarga, profesi, bahkan akal sehat. Mereka menggali tanah, tidur di tenda, dan hidup di antara harapan dan kegagalan. Sebagian menemukan emas. Sebagian besar hanya menemukan cerita pahit tentang mimpi yang tak tergenggam.
Kilau yang Tak Pernah Pudar
Mengapa emas terus diperebutkan, bahkan hingga hari ini?
Karena ia langka, tahan, dan—yang paling berbahaya—disepakati bernilai. Selama ribuan tahun, manusia secara kolektif mempercayai bahwa emas layak dikejar. Ia tak berkarat seperti janji, tak memudar seperti kekuasaan, dan selalu terlihat indah, bahkan ketika dunia runtuh.
Di balik semua itu, emas hanyalah logam. Namun di tangan manusia, ia menjelma cermin: memantulkan ambisi, keserakahan, ketakutan, dan harapan. Sejarah emas sejatinya bukan tentang logam itu sendiri, melainkan tentang manusia—tentang bagaimana kita memberi nilai, lalu rela berperang untuk mempertahankannya.
Dan hingga hari ini, kilau itu masih sama. Yang berubah hanyalah cara kita memperebutkannya

